Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan proses awal pensyariatan adzan. Ketika Rasulullah ﷺ ingin mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat berjamaah, beliau tidak menyukai cara-cara yang menyerupai kebiasaan Yahudi dan Nasrani, seperti terompet dan lonceng. Kemudian Allah ﷻ memberikan petunjuk melalui mimpi kepada Abdullah bin Zaid dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhuma tentang lafaz adzan. Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan Bilal radhiyallahu 'anhu untuk mengumandangkan adzan tersebut. Hadits ini menunjukkan bahwa adzan adalah syiar Islam yang agung dan berbeda dari kebiasaan agama lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa panggilan shalat (adzan) adalah perkara yang disyariatkan dan diperintahkan untuk dipenuhi.
Hadits Terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Awal Adzan, nomor 498. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam At-Tirmidzi dengan redaksi yang serupa. Sahabat yang meriwayatkan adalah Abu Umair bin Anas dari paman-pamannya dari kalangan Anshar.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, menilai hadits ini shahih dalam Shahih Abi Dawud. Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama tentang disyariatkannya adzan dan lafaznya yang diajarkan melalui mimpi yang benar (ru'ya shadiqah) kepada Abdullah bin Zaid.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Keinginan Nabi ﷺ untuk Mengumpulkan Jamaah Shalat
Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan urusan shalat berjamaah. Beliau ﷺ ingin ada cara yang efektif untuk mengumpulkan kaum muslimin ketika waktu shalat tiba. Ini menunjukkan perhatian besar beliau terhadap kemaslahatan umat dan pentingnya shalat berjamaah.
2. Penolakan terhadap Cara yang Menyerupai Ahli Kitab
Ketika diusulkan untuk menggunakan terompet (seperti kebiasaan Yahudi) atau lonceng (seperti kebiasaan Nasrani), Nabi ﷺ menolaknya. Beliau bersabda: "Ini adalah urusan orang Yahudi" dan "Ini adalah urusan orang Nasrani."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa syariat Islam datang untuk membedakan diri dari kebiasaan ahli kitab dalam hal ibadah dan syiar-syiar keagamaan. Ini adalah prinsip mukhalafah (berbeda dengan orang kafir) yang menjadi kaidah penting dalam syariat.
3. Mimpi yang Benar sebagai Wahyu bagi Nabi ﷺ
Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu bermimpi diajarkan lafaz adzan. Mimpi para nabi adalah wahyu, dan mimpi orang shalih adalah bagian dari kenabian. Namun perlu dipahami, mimpi Abdullah bin Zaid ini tidak serta-merta menjadi syariat sampai Rasulullah ﷺ menyetujuinya dan memerintahkannya untuk diamalkan. Ini menunjukkan bahwa sunnah Nabi ﷺ adalah sumber penetapan syariat, bukan mimpi seseorang secara langsung.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa mimpi Abdullah bin Zaid ini disetujui oleh Nabi ﷺ, dan persetujuan beliau inilah yang menjadikannya syariat. Adapun mimpi Umar bin Khattab yang juga melihat hal yang sama, ini menunjukkan kebenaran mimpi Abdullah bin Zaid.
4. Keutamaan Abdullah bin Zaid dan Umar bin Khattab
Hadits ini menunjukkan keutamaan Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu yang mendapatkan mimpi adzan. Adapun Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, beliau juga melihat mimpi yang sama namun menahannya selama dua puluh hari karena malu setelah mengetahui Abdullah bin Zaid telah lebih dulu menyampaikannya. Ini menunjukkan adab dan kejujuran para sahabat.
5. Perintah Nabi ﷺ kepada Bilal untuk Mengumandangkan Adzan
Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal radhiyallahu 'anhu untuk mengumandangkan adzan sesuai yang diajarkan kepada Abdullah bin Zaid. Ini menunjukkan bahwa Bilal adalah muadzin resmi Rasulullah ﷺ, dan suaranya yang merdu menjadi salah satu alasan beliau dipilih.
Story Telling
Ada kisah menarik tentang bagaimana para sahabat sangat antusias dengan syariat adzan ini. Ketika Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu menyampaikan mimpinya kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat senang. Kemudian Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu datang dan berkata, "Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku juga bermimpi seperti yang dia (Abdullah bin Zaid) lihat."
Rasulullah ﷺ pun bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan urusan ini." (HR. Abu Dawud dan lainnya)
Kisah ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ memuliakan Islam dengan syariat adzan yang agung, dan para sahabat saling berlomba dalam kebaikan. Mereka tidak iri satu sama lain, bahkan Umar mengakui keutamaan Abdullah bin Zaid dengan jujur dan rendah hati.
Kesimpulan Praktis
- Adzan adalah syiar Islam yang agung yang disyariatkan oleh Allah ﷻ melalui mimpi yang benar dan disetujui oleh Rasulullah ﷺ.
- Umat Islam harus membedakan diri dari kebiasaan ahli kitab dalam hal ibadah dan syiar keagamaan, sebagaimana ditunjukkan Nabi ﷺ yang menolak terompet dan lonceng.
- Mimpi orang shalih tidak menjadi sumber syariat kecuali jika disetujui oleh dalil syar'i, seperti yang dilakukan Nabi ﷺ terhadap mimpi Abdullah bin Zaid.
- Bersegera dalam kebaikan dan jujur adalah sifat para sahabat yang patut kita teladani, seperti Umar yang mengakui keutamaan Abdullah bin Zaid.
- Menghormati dan menghargai orang yang berjasa dalam kebaikan adalah akhlak mulia, sebagaimana Nabi ﷺ menghargai Abdullah bin Zaid.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.