Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa memberi kunyah (panggilan "Abu Fulan") tidak harus menunggu seseorang punya anak, karena Nabi ﷺ memanggil anak kecil bernama Abu 'Umair padahal ia belum punya anak. Hadits ini juga menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ terhadap anak-anak, memperhatikan perasaan mereka, dan menghibur mereka dengan bercanda yang baik. Ini menjadi dalil bolehnya bercanda yang jujur dan menyenangkan anak, serta bolehnya memelihara burung kecil untuk mainan anak selama tidak menyakiti.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه, dan dicatat oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab tentang seorang pria yang memakai kunyah tanpa memiliki anak. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz serupa, sehingga derajatnya shahih.
Adapun ayat yang berkaitan dengan kelembutan dan kasih sayang, di antaranya firman Allah:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ
QS. Ali 'Imran [3]: 159
Terjemahan: "Maka berkat rahmat dari Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu."
Imam Ibn Katsir menjelaskan ayat ini bahwa Allah memuji kelembutan akhlak Nabi ﷺ, dan bahwa kelembutan itu adalah sebab orang-orang berkumpul dan mencintai beliau. Ini sejalan dengan sikap Nabi ﷺ kepada anak kecil dalam hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama: Bolehnya berkunyah tanpa memiliki anak.
Imam Abu Dawud menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang seorang pria yang memakai kunyah padahal belum punya anak. Ini menunjukkan bahwa kunyah bukan hanya hak orang yang sudah berkeluarga atau beranak. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kunyah bisa diberikan sejak kecil, bahkan bisa jadi hanya sebagai panggilan kehormatan atau kasih sayang, bukan penanda sudah punya anak. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menegaskan hal serupa, bahwa kunyah boleh diberikan kepada anak kecil dan bukan syarat memiliki anak.
Kedua: Kelembutan Nabi ﷺ terhadap anak-anak.
Nabi ﷺ memperhatikan adik Anas yang masih kecil, menanyakan kenapa ia sedih, lalu menghiburnya. Ini menunjukkan bahwa anak-anak juga punya perasaan yang perlu dihargai. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa termasuk adab Nabi ﷺ adalah menyayangi anak kecil, menyapa mereka, dan menghibur mereka. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya bermain dan bercanda dengan anak kecil serta menanyakan keadaan mereka.
Ketiga: Bercanda yang jujur dan tidak dusta.
Nabi ﷺ berkata: "Wahai Abu 'Umair, apa yang terjadi pada burung pipit kecil itu?" Ini adalah bentuk bercanda yang menghibur, bukan dusta. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bercanda tetapi tidak berkata kecuali yang benar. Imam an-Nawawi juga menegaskan bahwa bercanda Nabi ﷺ tidak mengandung dusta, berbeda dengan bercanda banyak orang yang penuh kebohongan.
Keempat: Bolehnya memelihara burung kecil untuk anak.
Hadits ini menunjukkan bahwa anak kecil boleh bermain dengan burung pipit. Ibn Hajar menyebutkan bahwa ini menjadi dalil bolehnya anak kecil memelihara burung untuk mainan, selama tidak menyakiti atau menyiksa. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa ini juga menunjukkan bolehnya mengurung burung kecil untuk tujuan yang bermanfaat, meskipun sebagian ulama membahas batasan dalam hal ini.
Kelima: Perhatian pada hal-hal kecil yang menyenangkan anak.
Nabi ﷺ tidak menganggap remeh kesedihan anak karena burungnya mati. Beliau justru menanyakan dan menghibur. Ini mengajarkan kepada orang tua dan pendidik agar tidak meremehkan perasaan anak, sekecil apa pun masalahnya.
Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama dalam daftar mengenai hadits ini. Yang ada hanyalah penekanan berbeda: sebagian menyorot masalah kunyah, sebagian menyorot kelembutan dan bercanda, sebagian menyorot bolehnya memelihara burung. Semuanya saling melengkapi.
Story Telling
Anas bin Malik رضي الله عنه adalah pelayan Nabi ﷺ yang setia. Ia menceritakan bahwa Nabi ﷺ biasa datang ke rumahnya. Anas punya adik kecil yang dipanggil Abu 'Umair. Anak itu punya burung pipit yang selalu ia mainkan. Suatu hari burung itu mati, dan anak kecil itu pun bersedih. Nabi ﷺ yang mulia datang, melihat kesedihan anak itu, lalu bertanya dengan lembut: "Apa yang terjadi padanya?" Ketika diberitahu burungnya mati, beliau tidak mengabaikan, tidak mengejek, tidak berkata "ah, cuma burung". Beliau justru menghibur dengan panggilan sayang: "Wahai Abu 'Umair, apa yang terjadi pada burung pipit kecil itu?"
Bayangkan, seorang Nabi yang mengurus umat, urusan besar, tetap memperhatikan kesedihan seorang anak kecil karena burungnya mati. Inilah akhlak Nabi ﷺ. Ibn Katsir dalam kitab sejarahnya menyebutkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia paling lembut terhadap anak-anak. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan hadits ini sebagai dalil sunnahnya menghibur anak dan bercanda dengan mereka.
Hikmahnya: jangan remehkan perasaan orang lain, sekecil apa pun. Dan jangan pelit senyum serta kelembutan kepada anak-anak.
Kesimpulan Praktis
- Boleh memberi kunyah kepada seseorang meskipun belum punya anak, sebagai bentuk penghormatan atau kasih sayang.
- Hendaknya kita meneladani kelembutan Nabi ﷺ kepada anak-anak: menyapa, menanyakan keadaan, dan menghibur mereka.
- Bercanda dibolehkan dalam Islam selama jujur dan tidak mengandung dusta, serta tidak menyakiti.
- Anak kecil boleh bermain dan memelihara hewan kecil seperti burung, selama tidak menyikiti atau menyia-nyiakan.
- Jangan meremehkan kesedihan anak atau orang lain, sekecil apa pun masalahnya.
- Perbanyak kasih sayang dalam keluarga dan lingkungan, karena itu bagian dari sunnah Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.