Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ruh-ruh manusia itu ibarat pasukan yang dikumpulkan. Ada ruh yang saling mengenal dan cocok, maka mereka akan bersatu dan saling menyayangi. Ada pula ruh yang saling tidak mengenal dan tidak cocok, maka mereka akan berjauhan dan berselisih. Ini adalah ketetapan Allah ﷻ yang bisa kita renungkan untuk memahami mengapa ada orang yang langsung akrab, dan ada yang sulit akrab.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Rasulullah ﷺ bersabda:
<p>الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ</p>
Artinya: "Ruh-ruh itu adalah pasukan yang dikumpulkan. Maka apa yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu, dan apa yang saling tidak mengenal di antara mereka akan berselisih." (HR. Abu Dawud no. 4834, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (tanpa sanad lengkap) dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
<p>يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</p>
QS. Al-Hujurat [49]: 13
Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna hadits ini dengan beberapa penafsiran:
1. Penjelasan Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari: Beliau menukil perkataan para ulama bahwa makna "ruh-ruh itu pasukan yang dikumpulkan" adalah ruh-ruh itu diciptakan dalam kelompok-kelompok. Ruh orang-orang beriman berkumpul bersama ruh orang-orang beriman, dan ruh orang-orang kafir berkumpul bersama ruh orang-orang kafir. Maka ketika ruh-ruh itu ditempatkan di jasad masing-masing di dunia, jika ada kesesuaian dan kecocokan (karena sama-sama baik atau sama-sama buruk), mereka akan saling mencintai. Jika berbeda, mereka akan saling membenci.
2. Penjelasan Imam al-Khathabi (dari ulama yang dinukil oleh Ibn Hajar): Maknanya adalah ruh-ruh itu memiliki kesamaan sifat dan perangai. Ruh yang baik akan cenderung kepada yang baik, dan ruh yang buruk akan cenderung kepada yang buruk. Ini adalah isyarat bahwa kecocokan hati itu karena kesamaan sifat, bukan karena faktor duniawi semata.
3. Penjelasan Syaikh al-Islam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa: Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan adanya kesesuaian atau pertentangan antara ruh-ruh. Kesesuaian ini bisa karena kesamaan iman dan ketakwaan, atau karena kesamaan tabiat dan sifat bawaan. Maka orang-orang yang beriman dan bertakwa akan saling mencintai karena Allah, dan orang-orang yang fasik akan cenderung kepada sesamanya.
4. Penjelasan Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam: Beliau menjelaskan bahwa kecocokan ruh itu terjadi karena kesamaan ilmu, iman, dan tujuan. Ruh orang-orang beriman itu bersaudara karena sama-sama mencintai Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang-orang yang berbeda tujuan dan keyakinan, maka hati mereka akan berjauhan meskipun badan mereka dekat.
5. Penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar: Beliau menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang al-wala' wal bara' (loyalitas dan berlepas diri). Orang mukmin harus mencintai sesama mukmin karena kesamaan iman, dan ini adalah tanda kecocokan ruh yang hakiki.
Kesimpulan dari para ulama: Hadits ini tidak berarti kita boleh membenci orang hanya karena tidak cocok secara tabiat. Tetapi hadits ini menjelaskan bahwa kecocokan hati adalah karunia Allah, dan ketidakcocokan adalah ujian. Yang wajib bagi kita adalah tetap berbuat baik kepada semua orang, mencintai orang beriman karena imannya, dan tidak menjadikan perbedaan tabiat sebagai alasan untuk bermusuhan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Salah satu pasangan yang dipersaudarakan adalah Abdurrahman bin Auf dengan Sa'd bin ar-Rabi' al-Anshari. Sa'd menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman, namun Abdurrahman menolak dengan penuh adab, "Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Cukup tunjukkan aku pasar."
Kisah ini menunjukkan bahwa kecocokan ruh yang hakiki bukan karena harta atau kedudukan, tetapi karena iman dan kecintaan karena Allah. Abdurrahman tidak mau membebani saudaranya, dan Sa'd pun ikhlas berbagi. Keduanya saling mengenal dalam kebaikan, maka Allah memberkahi persaudaraan mereka.
Kesimpulan Praktis
- Renungkanlah kecocokan hati sebagai karunia Allah. Jika kita merasa cocok dengan seseorang dalam kebaikan, syukurilah dan jaga ukhuwah itu.
- Jangan memaksakan semua orang harus cocok dengan kita. Perbedaan tabiat adalah sunnatullah, tetapi tetaplah berbuat baik kepada semua orang.
- Jadikan iman dan takwa sebagai dasar persaudaraan. Bukan harta, status, atau kepentingan duniawi.
- Jika ada perselisihan, introspeksi diri. Mungkin ada sebab dari kita yang membuat ruh kita tidak cocok, maka perbaikilah.
- Doakan kebaikan untuk orang yang tidak cocok dengan kita. Jangan sampai perbedaan menjadi pintu permusuhan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.