Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab yang sangat agung dalam shalat: menjaga kebersihan dan kesucian masjid, khususnya di area yang menghadap kiblat. Rasulullah ﷺ sangat marah ketika melihat dahak di dinding kiblat masjid, lalu membersihkannya sendiri dan bahkan mengoleskan minyak za'faran untuk menghilangkan bekasnya. Ini menunjukkan bahwa ketika seorang muslim shalat, ia sedang menghadap Allah, sehingga tidak pantas meludah ke arah kiblat. Pelajaran utamanya adalah memuliakan masjid dan menjaga arah kiblat dari segala kotoran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud No. 479 dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dengan redaksi yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan kesucian masjid:
Allah Ta'ala berfirman:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
"Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang." (QS. An-Nur [24]: 36)
Penjelasan Ulama:
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan perintah untuk memuliakan masjid-masjid, membersihkannya dari kotoran dan hal-hal yang tidak pantas, serta menjadikannya tempat berdzikir dan beribadah kepada Allah.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna sabda Nabi ﷺ "Sesungguhnya Allah menghadap wajah salah seorang dari kalian ketika shalat" adalah bahwa Allah menerima shalat hamba-Nya dan menghadapkan rahmat serta perhatian-Nya kepada orang yang shalat. Ini adalah bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang sedang bermunajat kepada-Nya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Kemarahan Rasulullah ﷺ terhadap pelanggaran adab di masjid
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Fath al-Bari menjelaskan bahwa kemarahan Rasulullah ﷺ dalam hadits ini adalah kemarahan karena Allah, bukan karena kepentingan pribadi. Beliau marah karena melihat kemuliaan masjid dan kiblat telah dilanggar. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya cemburu terhadap kehormatan tempat ibadah.
2. Tindakan membersihkan sendiri
Rasulullah ﷺ tidak menyuruh orang lain membersihkannya, tetapi beliau sendiri yang menggaruk dan membersihkan dahak tersebut. Ini menunjukkan bahwa membersihkan masjid adalah perbuatan mulia yang dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa membersihkan masjid termasuk bagian dari memuliakan rumah-rumah Allah.
3. Menggunakan za'faran untuk menghilangkan bekas
Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa penggunaan za'faran oleh Nabi ﷺ bertujuan untuk menghilangkan bekas dan bau yang tersisa, sekaligus menunjukkan bahwa masjid harus dijaga kebersihan dan keindahannya. Ini juga menunjukkan bahwa menghilangkan najis atau kotoran dari masjid harus dilakukan dengan sempurna, tidak setengah-setengah.
4. Larangan meludah ke arah kiblat
Imam al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam bab tentang kebersihan masjid. Para ulama sepakat bahwa meludah ke arah kiblat di dalam masjid adalah perbuatan yang dibenci (makruh), dan sebagian ulama menghukuminya haram karena mengandung penghinaan terhadap arah kiblat yang dimuliakan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa hikmah larangan ini adalah karena orang yang shalat sedang bermunajat kepada Allah, dan arah kiblat adalah arah menghadap Baitullah yang dimuliakan. Maka tidak pantas seseorang meludah ke arah yang ia gunakan untuk menghadap Tuhannya.
5. Perbedaan riwayat tentang za'faran
Imam Abu Dawud rahimahullah menyebutkan bahwa sebagian perawi tidak menyebutkan za'faran dalam riwayat mereka, namun riwayat Ma'mar menetapkannya. Ini menunjukkan bahwa menyebutkan za'faran adalah tambahan yang shahih dari perawi yang tsiqah (terpercaya), sehingga bisa diterima.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu pernah membersihkan masjid dengan tangannya sendiri. Suatu hari ia melihat kotoran di masjid, maka ia segera membersihkannya. Beliau berkata: "Sesungguhnya masjid adalah rumah Allah, dan kita diperintahkan untuk memuliakannya."
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang memuliakan masjid, maka ia telah memuliakan Allah. Dan barangsiapa yang menjaga kebersihan masjid, maka Allah akan menjaga dirinya dari kotoran dosa."
Kisah ini mengajarkan bahwa memuliakan masjid bukan hanya kewajiban petugas kebersihan, tetapi merupakan tanggung jawab setiap muslim yang datang ke masjid.
Kesimpulan Praktis
- Jaga kebersihan masjid – Jangan membuang sampah, meludah, atau meninggalkan kotoran di dalam masjid.
- Jangan meludah ke arah kiblat – Jika ingin meludah, lakukan ke arah kiri atau ke sapu tangan/tisu yang dibawa.
- Bersihkan jika melihat kotoran – Jika melihat kotoran di masjid, segera bersihkan atau laporkan kepada pengurus masjid.
- Memuliakan arah kiblat – Sadari bahwa ketika shalat, kita sedang menghadap Allah, sehingga jaga adab dan kekhusyukan.
- Meneladani Nabi ﷺ dalam membersihkan – Jangan merasa gengsi untuk membersihkan masjid, karena ini adalah perbuatan mulia yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.