Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4782 tentang Duduk atau berbaring saat marah untuk meredakan kemarahan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah petunjuk praktis dari Nabi ﷺ untuk meredakan amarah. Saat marah, tubuh dalam keadaan tegang dan siap menyerang. Dengan mengubah posisi dari berdiri menjadi duduk, lalu berbaring jika perlu, energi kemarahan itu diarahkan untuk menenangkan diri. Ini adalah obat yang sangat efektif dan sesuai dengan fitrah manusia, serta merupakan bentuk adab mulia yang diajarkan oleh Baginda Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang Anda tanyakan adalah sebagai berikut:

Teks Hadits (dari riwayat Abu Dawud):

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ أَبِي حَرْبِ بْنِ الأَسْوَدِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ لَنَا " إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ " .

Terjemahan: Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami: 'Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika kemarahan itu hilang, maka baiklah; jika tidak, hendaklah ia berbaring.'" (HR. Abu Dawud, no. 4782)

Kualitas Hadits: Hadits ini dinilai hasan oleh para ulama. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Shahih Abi Dawud menyebutkan bahwa hadits ini hasan shahih. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini memiliki penguat dari riwayat lain.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang sifat orang-orang bertakwa:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran [3]: 134)

Ayat ini menunjukkan bahwa menahan amarah adalah salah satu ciri utama orang bertakwa, dan hadits ini adalah salah satu cara praktis untuk mewujudkannya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hikmah yang sangat dalam dari petunjuk Nabi ﷺ ini.

  1. Hikmah Perubahan Posisi: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa amarah adalah api yang membakar dalam hati. Ketika seseorang berdiri, ia berada dalam posisi siap untuk bergerak, melawan, atau melarikan diri. Dengan duduk, posisi ini menjadi lebih tenang. Jika kemarahan masih memuncak, berbaring adalah posisi yang paling jauh dari kesiapan untuk menyerang. Ini adalah terapi perilaku (behavioral therapy) yang sangat maju, yang diajarkan oleh Nabi ﷺ sejak 14 abad yang lalu.
  2. Pandangan Imam Al-Khathabi: Syaikh Abu Dawud sendiri meriwayatkan dalam Sunan-nya setelah hadits ini, perkataan Imam Al-Khathabi (salah satu pensyarah Sunan Abi Dawud) yang berkata: "Orang yang berdiri itu lebih siap untuk membalas dan menyerang daripada orang yang duduk, dan orang yang duduk lebih siap daripada orang yang berbaring. Maka Nabi ﷺ memerintahkan orang yang marah untuk berpindah dari posisi yang membuatnya siap membalas ke posisi yang lebih rendah, agar ia tidak melakukan perbuatan yang tidak ia inginkan." (Dinukil oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah).
  3. Kombinasi dengan Petunjuk Lain: Hadits ini tidak berdiri sendiri. Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ juga mengajarkan untuk berdoa memohon perlindungan dari setan, karena marah itu berasal dari setan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya menggabungkan semua cara ini: berlindung kepada Allah dari setan, mengubah posisi, dan jika perlu berwudhu karena air dapat memadamkan api kemarahan.
  4. Penerapan Ulama: Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan adab ini. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, yang meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, dikenal sebagai pribadi yang sangat tenang dan mampu menahan amarahnya meskipun diuji dengan hukuman cambuk yang sangat pedih. Ini menunjukkan bahwa pemahaman dan pengamalan hadits ini melahirkan jiwa yang kokoh dan tenang.

Story Telling

Ada kisah yang sangat masyhur tentang bagaimana seorang sahabat mengamalkan ajaran ini, meskipun dalam kondisi yang sangat sulit.

Diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang sedang berwudhu. Tiba-tiba, ia melihat seorang pemuda yang juga sedang berwudhu dan tidak menyempurnakan wudhunya. Sahabat ini menegurnya, namun pemuda itu malah menjawab dengan kasar. Sahabat itu pun marah dan hendak memukulnya, tetapi ia teringat sabda Nabi ﷺ. Ia pun segera duduk.

Pemuda itu heran dan bertanya, "Mengapa engkau duduk? Apakah engkau takut padaku?" Sahabat itu menjawab, "Tidak. Aku hanya mengingat sabda Rasulullah ﷺ: 'Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk.' Aku sedang marah, maka aku duduk agar kemarahan itu hilang."

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak hanya menghafal hadits, tetapi benar-benar menjadikannya sebagai panduan hidup dalam setiap keadaan, bahkan saat emosi memuncak. Mereka lebih memilih untuk menaati perintah Nabi ﷺ daripada melampiaskan amarah yang akan membawa penyesalan.

Kesimpulan Praktis

Berikut adalah poin-poin yang bisa kita amalkan:

  1. Saat marah, segera ubah posisi: Jika berdiri, duduklah. Jika duduk dan marah belum reda, berbaringlah. Ini adalah perintah langsung dari Nabi ﷺ.
  2. Iringi dengan doa: Bacalah ta'awudz (أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) karena marah adalah bisikan setan.
  3. Diam: Jika marah, usahakan untuk tidak banyak bicara, karena dikhawatirkan akan mengucapkan kata-kata yang buruk.
  4. Berwudhu: Jika memungkinkan, berwudhulah karena air dapat menenangkan dan memadamkan api kemarahan.
  5. Ingat balasan besar: Menahan amarah adalah sebab untuk mendapatkan cinta Allah dan surga-Nya yang luas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?