Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4728 tentang Sifat mendengar dan melihat Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menegaskan bahwa Allah memiliki sifat mendengar (sama') dan melihat (bashar) yang hakiki, sebagaimana ditunjukkan oleh perbuatan Nabi ﷺ yang meletakkan jari di telinga dan mata saat membaca ayat tentang sifat tersebut. Imam Abu Dawud menyatakan hadits ini sebagai bantahan terhadap Jahmiyyah yang menolak sifat-sifat Allah. Para ulama Ahlus Sunnah menetapkan sifat ini tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolaknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

"Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk mengembalikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisa' [4]: 58)

Hadits:

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Sunan Abu Dawud no. 4728, Kitab Sunnah, Bab tentang Jahmiyyah. Abu Yunus Sulaim bin Jubair (mantan budak Abu Hurairah) berkata: "Aku mendengar Abu Hurairah membaca ayat ini... lalu ia berkata: 'Aku melihat Rasulullah ﷺ meletakkan ibu jarinya di telinganya dan jari yang setelahnya di matanya.'" Imam Abu Dawud berkata: "Ini adalah bantahan terhadap Jahmiyyah."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Abu Dawud as-Sijistani (penyusun Sunan) secara tegas menyatakan hadits ini sebagai bantahan terhadap Jahmiyyah.
  • Imam Al-Bukhari dalam kitab Khalq Af'al al-'Ibad dan Imam Ad-Darimi dalam Ar-Radd 'ala al-Jahmiyyah menetapkan sifat sama' dan bashar bagi Allah.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam As-Sawa'iq al-Mursalah menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah penegasan sifat secara fisik-indrawi untuk membantah penolakan Jahmiyyah.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat secara hakiki.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits:

Hadits ini menunjukkan dua hal penting:

  1. Penetapan sifat sama' (mendengar) dan bashar (melihat) bagi Allah. Nabi ﷺ membaca ayat yang menyebut "سَمِيعًا بَصِيرًا" (Maha Mendengar lagi Maha Melihat), lalu beliau meletakkan ibu jari di telinga dan jari berikutnya di mata. Ini adalah isyarat indrawi yang menegaskan bahwa Allah benar-benar memiliki sifat mendengar dan melihat — bukan sekadar kiasan atau majas.
  2. Bantahan terhadap Jahmiyyah. Jahmiyyah adalah kelompok yang menolak sifat-sifat Allah, termasuk sama' dan bashar. Mereka mengatakan bahwa menyebut Allah "Maha Mendengar" hanya berarti "Allah mengetahui yang didengar", bukan bahwa Allah memiliki sifat mendengar yang hakiki. Imam Abu Dawud secara eksplisit menyatakan hadits ini sebagai bantahan terhadap mereka.

Pemahaman Ulama:

  • Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah bentuk penegasan (taqrir) yang tidak mungkin beliau lakukan jika sifat sama' dan bashar hanya majas. Beliau berkata: "Nabi ﷺ meletakkan jarinya di telinga dan mata untuk menegaskan bahwa Allah memiliki pendengaran dan penglihatan yang hakiki, sebagaimana disebutkan dalam ayat."
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam As-Sawa'iq al-Mursalah menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil jelas bahwa Allah memiliki sifat sama' dan bashar, dan bahwa menolaknya adalah pendapat Jahmiyyah yang sesat.
  • Imam Adz-Dzahabi dalam Al-'Uluw dan Imam Al-Bukhari dalam Khalq Af'al al-'Ibad menetapkan sifat ini tanpa takwil.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa sifat sama' dan bashar adalah sifat hakiki yang tidak boleh ditolak, namun juga tidak boleh diserupakan dengan makhluk. Allah mendengar dan melihat dengan sifat-Nya yang sesuai dengan keagungan-Nya.

Perbedaan Pendapat:

Di antara ulama dalam daftar, tidak ada perbedaan dalam menetapkan sifat sama' dan bashar. Perbedaan hanya terjadi dengan Jahmiyyah dan Mu'tazilah yang menolak sifat secara keseluruhan. Ahlus Sunnah — termasuk Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad — sepakat menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa takwil dan tanpa tasybih (penyerupaan).

Pendapat yang Paling Kuat:

Yang paling kuat adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah: menetapkan sifat sama' dan bashar bagi Allah secara hakiki, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa menolaknya. Ini adalah madzhab para imam yang empat dan para ulama hadits.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang sifat-sifat Allah, beliau berkata: "Kami menetapkan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, dan kami tidak menolaknya, tidak menyerupakannya, dan tidak mentakwilkannya." Beliau juga berkata: "Barangsiapa mengatakan bahwa Allah tidak memiliki sifat mendengar dan melihat, maka ia telah kafir."

Imam Adz-Dzahabi menceritakan dalam Siyar A'lam an-Nubala' bahwa Imam Al-Bukhari pernah berkata: "Aku mendengar dari para ulama: 'Barangsiapa menolak sifat-sifat Allah, maka ia adalah Jahmi.'" Dan Imam Abu Dawud, penyusun Sunan, secara tegas menyatakan hadits ini sebagai bantahan terhadap Jahmiyyah — menunjukkan bahwa beliau sangat peduli menegakkan aqidah yang benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Tetapkan sifat sama' dan bashar bagi Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan Sunnah, tanpa takwil, tanpa tasybih, dan tanpa ta'thil (penolakan).
  2. Jauhi pemahaman Jahmiyyah yang menolak sifat-sifat Allah, karena itu adalah penyimpangan dari jalan Ahlus Sunnah.
  3. Pelajari aqidah Ahlus Sunnah dari kitab-kitab para ulama seperti Al-'Aqidah al-Wasithiyyah (Ibn Taymiyyah), Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyyah (Ibn Abi al-'Izz), dan Khalq Af'al al-'Ibad (Al-Bukhari).
  4. Berdoalah kepada Allah dengan menyebut sifat-sifat-Nya, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat — Dia mendengar doamu dan melihat keadaanmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?