Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4716 tentang Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan makna "setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah", yaitu bahwa setiap manusia sejak awal penciptaannya telah mengikat perjanjian (perjanjian primordial) dengan Allah di alam arwah, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A'raf [7]: 172. Penjelasan ini disampaikan oleh Hammad bin Salamah (guru dari Imam Abu Dawud) sebagai tafsiran atas hadits fitrah. Jadi fitrah di sini dipahami sebagai pengakuan awal manusia terhadap keesaan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-A'raf [7]: 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Terjemahan ringkas: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak-anak Adam keturunan mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.'"

Hadits terkait — Shahih Muslim

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah." (HR. Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Hammad bin Salamah (guru Imam Abu Dawud) menafsirkan fitrah sebagai perjanjian di alam arwah.
  • Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat Al-A'raf 172 sebagai pengambilan kesaksian atas seluruh manusia.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan ayat ini sebagai bukti keesaan Allah yang tertanam dalam diri manusia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab tentang anak-anak orang musyrik. Di dalamnya, Hammad bin Salamah — seorang perawi tsiqah (terpercaya) — menafsirkan hadits "setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah" dengan makna: fitrah itu adalah perjanjian yang Allah ambil dari manusia di alam arwah, ketika mereka masih berada dalam sulbi (tulang belakang) ayah-ayah mereka.

Bagaimana ulama memahami hal ini?

  1. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat Al-A'raf 172 berbicara tentang pengambilan kesaksian dari seluruh keturunan Adam. Allah menanamkan dalam diri manusia pengakuan akan keesaan-Nya, sehingga setiap manusia secara bawaan cenderung mengenal Tuhannya.
  2. Syaikh as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa tauhid adalah perkara yang sudah tertanam dalam fitrah manusia, dan syirik adalah penyimpangan dari fitrah tersebut.
  3. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits fitrah menunjukkan setiap anak dilahirkan dengan kesiapan menerima kebenaran (Islam), dan lingkungan (orang tua) yang kemudian mempengaruhi arah keimanannya.
  4. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Ahkam al-Maulud (atau Tuhfat al-Maudud) menjelaskan bahwa fitrah adalah keadaan awal manusia yang mengenal Allah, dan pendidikan serta lingkungan berperan dalam mempertahankan atau menyimpangkannya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami fitrah sebagai "Islam" (agama bawaan), sebagian memahaminya sebagai "kesiapan menerima Islam", dan sebagian — seperti Hammad bin Salamah dalam riwayat ini — memahaminya sebagai perjanjian di alam arwah. Pendapat-pendapat ini tidak saling bertentangan secara hakiki, karena semuanya menunjukkan bahwa manusia secara asal cenderung kepada tauhid.

Yang paling kuat menurut dalil:

Pendapat yang menggabungkan pemahaman bahwa fitrah adalah keadaan awal manusia yang mengenal Allah (tauhid), sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-A'raf 172 dan hadits-hadits lain. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Katsir dan as-Sa'di.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang anak-anak orang musyrik. Nabi ﷺ menjawab dengan sabdanya tentang fitrah. Para ulama salaf, seperti Hammad bin Salamah, kemudian merenungkan makna hadits ini dan menghubungkannya dengan ayat Al-A'raf 172. Mereka memahami bahwa setiap manusia — termasuk anak-anak orang musyrik — pada dasarnya dilahirkan dengan pengakuan akan keesaan Allah, dan penyimpangan terjadi karena pengaruh lingkungan dan pendidikan.

Hikmahnya: kita diajarkan untuk tidak menghukumi seseorang berdasarkan latar belakang orang tuanya, karena setiap manusia memiliki fitrah yang sama. Tugas kita adalah menjaga fitrah itu dan mengajak kepada tauhid dengan lembut.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga fitrah tauhid — setiap manusia dilahirkan dengan kecenderungan mengenal Allah; rawatlah dengan iman dan amal saleh.
  2. Pahami ayat Al-A'raf 172 sebagai bukti bahwa tauhid adalah perkara bawaan, bukan sesuatu yang asing bagi manusia.
  3. Jangan menghakimi anak-anak orang musyrik — mereka memiliki fitrah yang sama; yang menentukan adalah pendidikan dan lingkungan.
  4. Didiklah anak dengan tauhid sejak dini, karena fitrah mereka siap menerima kebenaran.
  5. Rujuklah kepada ulama seperti Ibnu Katsir, as-Sa'di, dan an-Nawawi untuk memahami ayat dan hadits ini secara mendalam.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi