Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan (Sunan Abu Dawud no. 4704) sebenarnya bukanlah teks lengkap hadits tentang takdir, melainkan potongan sanad dan pengantar yang merujuk pada hadits lain yang lebih sempurna, yaitu hadits riwayat Imam Malik. Hadits yang dimaksud adalah hadits tentang pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi ﷺ tentang iman, Islam, ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat, yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang takdir (qadar). Hadits ini sangat agung karena menjadi pondasi pemahaman Ahlus Sunnah tentang rukun iman, termasuk iman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang Anda maksud adalah bagian dari hadits panjang tentang Jibril yang bertanya kepada Nabi ﷺ. Berikut adalah teks hadits lengkapnya dari riwayat Imam Muslim:
Hadits riwayat Muslim dari Umar bin al-Khattab (HR. Muslim no. 8):
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِسْلَامِ... قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Terjemahan: Dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Suatu hari kami duduk di dekat Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, lalu bertanya tentang Islam, iman, ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat. Di antara jawaban Nabi ﷺ tentang iman: 'Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.'"
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Hadid [57]: 22
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Terjemahan: "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (juga) yang menimpa dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."
Penjelasan ulama: Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu telah ditulis dan ditakdirkan oleh Allah sebelum penciptaannya, dan ini adalah bagian dari iman kepada takdir.
Penjelasan Rinci
Hadits yang Anda kutip dari Sunan Abu Dawud ini adalah bagian dari sanad yang diriwayatkan oleh Nu'aim bin Rabi'ah, yang menyatakan bahwa ia berada di sisi Umar bin al-Khattab ketika Umar menyampaikan hadits ini. Namun, redaksi yang lebih sempurna adalah riwayat Imam Malik, yang kemudian diriwayatkan pula oleh Imam Muslim.
Pemahaman Ulama tentang Takdir:
- Imam al-Barbahari (w. 329 H) dalam kitab Syarhus Sunnah menjelaskan bahwa iman kepada takdir mencakup keyakinan bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu sebelum menciptakannya, menulisnya di Lauh Mahfuzh, menghendakinya, dan menciptakannya. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam ini kecuali dengan kehendak dan takdir Allah.
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang takdir menjelaskan bahwa iman kepada takdir memiliki empat tingkatan:
- Al-'Ilm: Yakin bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
- Al-Kitabah: Yakin bahwa Allah telah menulis segala sesuatu di Lauh Mahfuzh.
- Al-Masyi'ah: Yakin bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah.
- Al-Khalq: Yakin bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjelaskan bahwa iman kepada takdir tidak menafikan usaha dan ikhtiar manusia. Manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan, tetapi semua itu berada di bawah kehendak dan pengetahuan Allah. Beliau mencontohkan: ketika kita lapar, kita makan; ketika haus, kita minum. Ini adalah ikhtiar, tetapi Allah-lah yang menciptakan rasa lapar, haus, makanan, dan kemampuan kita untuk makan dan minum.
- Imam Ibn Taymiyyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah menegaskan bahwa Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu, namun manusia tetap memiliki perintah dan larangan, serta akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Takdir tidak dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan.
Catatan penting: Hadits yang Anda kutip dari Abu Dawud ini menunjukkan bahwa Nu'aim bin Rabi'ah meriwayatkan hadits tersebut dari Umar bin al-Khattab, namun redaksi yang lebih lengkap adalah dari Imam Malik. Ini menunjukkan perhatian para ulama dalam menjaga redaksi hadits dan memilih riwayat yang paling sempurna.
Story Telling
Ada kisah indah tentang seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang takdir dan ikhtiar. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kami berada di sisi Rasulullah ﷺ, dan beliau bersabda: 'Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.' Maka kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, kalau begitu, apakah kita tidak boleh berserah diri saja (tanpa beramal)?' Beliau bersabda: 'Beramallah kalian, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan. Adapun orang yang termasuk golongan bahagia, maka ia dimudahkan untuk beramal dengan amalan penduduk surga. Dan orang yang termasuk golongan celaka, maka ia dimudahkan untuk beramal dengan amalan penduduk neraka.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari kisah ini: Takdir tidak menghalangi kita untuk berusaha dan beramal. Justru dengan iman kepada takdir, seorang mukmin merasa tenang karena yakin bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah, namun ia tetap bersemangat beramal karena tidak mengetahui apa yang telah ditakdirkan baginya.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam — wajib diyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, baik yang baik maupun yang buruk.
- Takdir tidak menafikan usaha — kita tetap diperintahkan untuk beramal, berusaha, dan berdoa, karena semua itu adalah bagian dari takdir itu sendiri.
- Jangan menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermaksiat — ini adalah kesalahan besar. Takdir adalah rahasia Allah, dan kita hanya diperintahkan untuk beramal sesuai syariat.
- Ridha dengan takdir Allah — ketika musibah menimpa, seorang mukmin bersabar dan meyakini bahwa itu semua dari Allah, dan Allah tidak menakdirkan sesuatu kecuali ada hikmahnya.
- Pelajari hadits Jibril ini dengan sungguh-sungguh — karena hadits ini adalah ringkasan agama Islam secara keseluruhan: Islam, iman, ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.