Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Allah ﷻ telah mengetahui dan menetapkan takdir hamba-Nya, termasuk siapa yang akan masuk surga dan neraka. Namun, penetapan ini tidak memaksa manusia—setiap orang tetap diberi kemampuan, pilihan, dan usaha. Allah akan memudahkan hamba-Nya melakukan amal sesuai dengan apa yang telah Dia ketahui dan tetapkan baginya. Karena itu, seorang Muslim tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus berusaha melakukan amal saleh dan berdoa agar termasuk ahli surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang ditanyakan Umar bin al-Khattab رضي الله عنه:
QS. Al-A'raf [7]: 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari punggung anak-anak Adam keturunan mereka, dan Allah menjadikan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami tidak mengetahui hal ini.'"
Hadits terkait:
Hadits riwayat Imam Abu Dawud (no. 4703), Kitab Sunnah, Bab Takdir, dari Umar bin al-Khattab رضي الله عنه melalui jalur Muslim bin Yasar al-Juhani.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunan-nya.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang takdir harus dipahami dengan menggabungkan dua prinsip: penetapan Allah yang azali dan usaha manusia yang nyata.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil dan Madarij as-Salikin menegaskan bahwa ilmu Allah yang azali tidak membatalkan pilihan dan usaha hamba.
- Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab iman kepada takdir, dan tidak boleh dijadikan alasan meninggalkan amal.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyentuh salah satu pokok aqidah yang paling mendalam, yaitu takdir (al-qadar). Umar bin al-Khattab رضي الله عنه ditanya tentang ayat QS. Al-A'raf [7]: 172, lalu beliau menjawab dengan hadits yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ.
Pertama: Makna "mengusap punggung Adam dan mengeluarkan keturunannya."
Para ulama dari daftar yang disebutkan memahami ini sebagai kenyataan yang Allah lakukan terhadap Adam عليه السلام, di mana Allah mengeluarkan seluruh keturunannya dari punggungnya, lalu menetapkan dua golongan: ahli surga dan ahli neraka. Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ini adalah pengambilan janji (mitsaq) dan sekaligus penetapan takdir. Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa manusia telah menyaksikan rububiyah Allah, sehingga tidak ada alasan untuk berdalih lupa pada hari Kiamat.
Kedua: "Aku menciptakan mereka untuk surga..." dan "...untuk neraka."
Ini adalah penetapan Allah yang azali, berdasarkan ilmu-Nya yang tidak terbatas. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa penetapan ini bukan berarti Allah memaksa hamba tanpa pilihan, melainkan Allah mengetahui sejak azali siapa yang akan beriman dan siapa yang akan kufur, lalu Dia menetapkan sesuai ilmu-Nya. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menegaskan bahwa takdir adalah rahasia Allah, dan hamba tidak mengetahui takdirnya sendiri.
Ketiga: Pertanyaan sahabat "Lalu bagaimana dengan amal?"
Ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Seorang sahabat bertanya: jika takdir sudah ditetapkan, apa gunanya beramal? Rasulullah ﷺ menjawab bahwa Allah akan menggerakkan (istakhdama/ista'malahu) hamba-Nya untuk melakukan amal yang sesuai dengan takdirnya. Artinya:
- Orang yang ditetapkan ahli surga akan dimudahkan Allah untuk beramal saleh hingga ia mati dalam keadaan demikian.
- Orang yang ditetapkan ahli neraka akan dibiarkan melakukan amal ahli neraka hingga ia mati dalam keadaan demikian.
Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal adalah tanda (bukan sebab yang menafikan takdir), dan seorang hamba tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas beramal. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits-hadits takdir harus dipahami dengan kaidah: "Allah mengetahui, menulis, dan menghendaki, namun hamba tetap memiliki usaha dan pilihan."
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
- Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam al-Iman dan Majmu' al-Fatawa menekankan bahwa takdir tidak menghapus tanggung jawab hamba.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk hadits yang membuat sebagian orang salah paham, namun para ulama Ahlus Sunnah menetapkan jalan tengah: takdir tetap ada, usaha tetap wajib.
Yang paling kuat menurut dalil:
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, Ibn Hajar, dan as-Sa'di: takdir adalah ilmu dan ketetapan Allah yang azali, namun hamba tetap memiliki kemampuan, pilihan, dan usaha. Allah tidak menzalimi hamba-Nya, dan tidak ada alasan untuk meninggalkan amal.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab رضي الله عنه pernah ditanya tentang ayat ini, dan beliau menjawab dengan hadits yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan betapa para sahabat sangat berhati-hati dalam berbicara tentang takdir—mereka tidak menjawab dengan akal semata, tetapi merujuk kepada wahyu.
Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang takdir, lalu beliau berkata: "Sesungguhnya Allah tidak memaksa hamba-Nya untuk bermaksiat, dan tidak memberi udzur kepada mereka untuk meninggalkan ketaatan." (dinukil dalam kitab-kitab salaf). Ini menunjukkan bahwa takdir bukan alasan untuk berbuat dosa.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menceritakan bahwa sebagian orang bertanya: "Jika saya sudah ditetapkan ahli neraka, apa gunanya saya beramal?" Beliau menjawab: "Engkau tidak mengetahui takdirmu. Maka beramallah, karena amal adalah jalan menuju surga, dan tinggalkanlah dosa, karena dosa adalah jalan menuju neraka."
Kesimpulan Praktis
- Beriman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman, namun takdir tidak menjadi alasan untuk meninggalkan amal.
- Berusahalah melakukan amal saleh dan jauhi dosa, karena Allah akan memudahkan hamba-Nya sesuai dengan takdir yang telah Dia tetapkan.
- Jangan bertanya "apa takdir saya?" karena itu adalah rahasia Allah. Yang wajib adalah beramal dan berdoa.
- Perbanyak doa agar Allah menetapkan kita sebagai ahli surga, dan memudahkan kita beramal saleh hingga akhir hayat.
- Jangan berdebat tentang takdir dengan cara yang bisa menyesatkan, tetapi serahkan ilmu kepada Allah dan fokuslah pada amal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.