Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4675 tentang Kedekatan Nabi Muhammad dengan Nabi Isa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling dekat dengan Nabi Isa عليه السلام, karena keduanya sama-sama membawa agama tauhid yang satu, meskipun syariat keduanya berbeda. Para nabi itu seperti saudara seayah dari ibu yang berbeda (banul 'allat), yaitu bersatu dalam pokok agama tetapi berbeda dalam syariat. Dan tidak ada nabi lain di antara Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa عليه السلام.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Sunnah, Bab Memilih Antara Para Nabi, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Az-Zuhri (Muhammad bin Syihab az-Zuhri) — salah satu ulama tabi'in dalam daftar rujukan.

Teks hadits:

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِابْنِ مَرْيَمَ، الْأَنْبِيَاءُ أَوْلَادُ عَلَّاتٍ، وَلَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ

Terjemahan:

"Aku adalah manusia yang paling dekat dengan Ibnu Maryam. Para nabi adalah saudara-saudara seayah dari ibu yang berbeda. Dan tidak ada nabi antara aku dan dia."

Ayat yang berkaitan — Allah berfirman:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ

QS. Ali 'Imran [3]: 68

" Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya, dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah pelindung orang-orang mukmin."

Ayat ini menjadi dasar bahwa kedekatan hakiki dengan para nabi adalah dengan mengikuti mereka, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah yang paling utama dalam mengikuti jejak para nabi sebelumnya.

Penjelasan Rinci

Makna "Aku adalah manusia yang paling dekat dengan Ibnu Maryam":

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kedekatan di sini bukanlah kedekatan nasab atau keluarga, melainkan kedekatan dalam risalah, kenabian, dan pokok agama tauhid. Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Isa عليه السلام sama-sama menyeru kepada tauhid, mengesakan Allah, dan mengajak manusia kepada-Nya. Karena itu Nabi ﷺ lebih berhak dan lebih dekat kepada Isa daripada orang-orang Nasrani yang mengaku mengikuti Isa tetapi menyimpang dari tauhid yang beliau bawa.

Makna "Para nabi adalah awladu 'allat":

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa banul 'allat (أولاد علات) adalah anak-anak dari satu ayah tetapi berbeda ibu. Maksudnya: para nabi bersatu dalam pokok agama (ushuluddin) — yaitu tauhid dan pengagungan Allah — tetapi berbeda dalam syariat dan cabang-cabang hukum (furu' syari'ah) sesuai dengan keadaan umat masing-masing. Ini menunjukkan bahwa agama para nabi pada dasarnya satu, meskipun aturan praktisnya berbeda-beda.

Makna "Tidak ada nabi antara aku dan dia":

Ini menegaskan bahwa Nabi Isa عليه السلام adalah nabi terakhir sebelum Nabi Muhammad ﷺ, dan Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir secara keseluruhan (khatamun nabiyyin), sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab [33]: 40. Tidak ada nabi di antara keduanya, dan tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ.

Pandangan ulama daftar:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang Isa عليه السلام dan kedudukannya sebagai hamba Allah yang mulia, bukan Tuhan atau anak Tuhan, sejalan dengan hadits ini. Kedekatan Nabi ﷺ dengan Isa adalah kedekatan iman dan tauhid.
  • Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa para nabi bersaudara dalam pokok agama, dan umat Islam adalah umat yang paling berhak mengikuti Isa عليه السلام yang sebenarnya, karena mereka mengikuti tauhid yang beliau bawa tanpa menambah atau mengurangi.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Hidayatul Hayara menjelaskan bahwa perbedaan syariat antar nabi adalah rahmat dan hikmah Allah, karena setiap umat memiliki kondisi yang berbeda, namun semua syariat bertujuan sama: mengesakan Allah dan beribadah kepada-Nya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda dalam memahami apakah "awladu 'allat" berarti perbedaan dalam pokok agama atau hanya dalam syariat. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah bahwa para nabi bersatu dalam pokok agama (tauhid) dan berbeda dalam syariat. Ini didukung oleh banyak ayat yang menyebutkan bahwa semua nabi menyeru kepada tauhid.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang Yahudi berkata kepada Nabi ﷺ, "Kalian mengikuti Isa, padahal kami lebih dulu mengikutinya." Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kedekatan yang sebenarnya bukanlah klaim, melainkan mengikuti ajaran tauhid yang dibawa para nabi. Az-Zuhri — perawi hadits ini — adalah salah satu ulama tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits, dan beliau dikenal sebagai penghimpun sunnah di zamannya. Beliau meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang jelas dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah, menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga keakuratan riwayat.

Hikmahnya: klaim kedekatan dengan para nabi harus dibuktikan dengan mengikuti ajaran mereka yang murni, bukan dengan mengaku-ngaku atau menambah-nambah ajaran.

Kesimpulan Praktis

  1. Kedekatan dengan para nabi diukur dengan iman dan tauhid, bukan dengan nasab atau klaim semata.
  2. Para nabi bersatu dalam pokok agama (tauhid) dan berbeda dalam syariat — maka umat Islam mengikuti syariat Nabi Muhammad ﷺ sebagai syariat terakhir yang menyempurnakan.
  3. Nabi Isa عليه السلام adalah nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ, dan tidak ada nabi di antara keduanya. Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi terakhir.
  4. Kita harus mencintai semua nabi dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ dengan sepenuh hati, karena beliau adalah nabi terakhir dan paling dekat dengan kita.
  5. Hindari ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan nabi atau orang saleh, karena kedekatan hakiki adalah dengan iman dan amal saleh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?