Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4649 tentang Sepuluh sahabat dijamin masuk surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil utama tentang kabar gembira bagi sepuluh sahabat Nabi ﷺ yang dijamin masuk surga, yang dikenal dengan Al-Asyrah Al-Mubasyyarun bil Jannah (sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga). Hadits ini menunjukkan keutamaan besar para sahabat tersebut dan menjadi dasar bagi Ahlus Sunnah untuk mencintai mereka semua, tanpa memihak salah satu dan merendahkan yang lain. Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu meriwayatkan hadits ini dengan penuh kejujuran, bahkan beliau menahan diri untuk menyebut namanya sendiri sebagai yang kesepuluh, menunjukkan sifat tawadhu' dan kehati-hatiannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab As-Sunnah, Bab Tentang Para Khalifah, nomor 4649. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad, serta dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Teks Hadits (sebagian yang relevan):

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الأَخْنَسِ، أَنَّهُ كَانَ فِي الْمَسْجِدِ فَذَكَرَ رَجُلٌ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلاَمُ فَقَامَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ فَقَالَ أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنِّي سَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ: "عَشَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ"

Terjemahan: Dari Abdurrahman bin al-Akhnas, bahwa ketika dia berada di masjid, seorang lelaki menyebut Ali (semoga Allah meridhainya). Maka Sa'id bin Zaid berdiri dan berkata: "Aku bersaksi kepada Rasulullah ﷺ bahwa aku mendengar beliau bersabda: 'Sepuluh orang di surga: Nabi ﷺ di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-Awwam di surga, Sa'd bin Malik di surga, dan Abdurrahman bin Auf di surga.'"

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah [9]: 100)

Ayat ini menunjukkan keridhaan Allah kepada para sahabat secara umum, dan hadits ini memperinci sebagian dari mereka yang dijamin masuk surga.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan salah satu dalil terpenting dalam masalah keutamaan sahabat dan manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi perselisihan yang terjadi di antara mereka.

1. Latar Belakang dan Konteks Hadits

Kisah ini terjadi ketika ada seseorang yang menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dengan cara yang tidak baik, mungkin dengan mencela atau merendahkannya. Maka Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu—yang merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga—berdiri membela kehormatan Ali. Beliau bersaksi bahwa beliau mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ bahwa sepuluh orang dijamin masuk surga, dan Ali termasuk di dalamnya.

2. Siapa Saja yang Termasuk Sepuluh Sahabat Tersebut?

Mereka adalah:

  1. Nabi Muhammad ﷺ
  2. Abu Bakar Ash-Shiddiq
  3. Umar bin Al-Khaththab
  4. Utsman bin Affan
  5. Ali bin Abi Thalib
  6. Thalhah bin Ubaidillah
  7. Az-Zubair bin Al-Awwam
  8. Sa'd bin Abi Waqqash (Sa'd bin Malik)
  9. Abdurrahman bin Auf
  10. Sa'id bin Zaid

3. Keutamaan dan Kedudukan Hadits Ini

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya dari Sa'id bin Zaid, dan Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkannya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih At-Tirmidzi.

4. Pelajaran dari Sikap Sa'id bin Zaid

Ada pelajaran yang sangat indah dari sikap Sa'id bin Zaid. Ketika beliau menyebutkan sembilan nama, beliau berhenti dan berkata, "Jika aku mau, aku akan menyebutkan yang kesepuluh." Orang-orang bertanya, "Siapa dia?" Beliau diam. Mereka bertanya lagi, maka beliau menjawab, "Dia adalah Sa'id bin Zaid."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa sikap ini menunjukkan sifat tawadhu' dan wara' (kehati-hatian) Sa'id bin Zaid. Beliau tidak ingin menyebut namanya sendiri di hadapan orang banyak karena khawatir terkesan memuji diri sendiri. Namun ketika orang-orang mendesaknya, beliau akhirnya menyebutkannya demi menegakkan kebenaran dan menghilangkan keraguan.

5. Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menyikapi Para Sahabat

Imam Ibn Taymiyyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah mencintai semua sahabat, tidak memihak salah satu kelompok yang berlebihan dalam mencintai Ali atau mencela sahabat lain. Kita diperintahkan untuk:

  • Mencintai semua sahabat secara seimbang
  • Tidak mencela salah seorang dari mereka
  • Mengakui keutamaan mereka sesuai dengan urutan yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih

6. Hikmah Penyebutan "Sepuluh"

Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa penyebutan angka sepuluh ini bukanlah pembatasan bahwa hanya mereka yang masuk surga, tetapi ini adalah kabar gembira khusus bagi mereka. Banyak sahabat lain yang juga dijamin masuk surga melalui hadits-hadits lain, seperti Bilal, Suhaib, dan lainnya. Namun hadits ini menegaskan keutamaan khusus bagi sepuluh sahabat ini.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang keteguhan Sa'id bin Zaid dalam membela kehormatan para sahabat. Suatu hari, ada seorang lelaki yang mencela Ali bin Abi Thalib di masjid Kufah. Sa'id bin Zaid yang saat itu sudah sangat tua berdiri dan berkata dengan lantang:

"Aku bersaksi kepada Rasulullah ﷺ bahwa aku mendengar beliau bersabda: 'Sepuluh orang di surga...'"

Beliau menyebutkan satu per satu nama para sahabat yang mulia itu. Ketika sampai pada nama yang kesepuluh, beliau berhenti. Orang-orang bertanya, "Siapa dia?" Beliau diam. Mereka bertanya lagi, maka beliau menjawab dengan suara yang penuh ketawadhu'an, "Dia adalah Sa'id bin Zaid."

Subhanallah, betapa mulianya akhlak beliau. Beliau lebih memilih diam daripada menyebut nama sendiri, namun ketika kebenaran harus ditegakkan, beliau tidak ragu untuk bersaksi. Ini adalah pelajaran bagi kita tentang bagaimana membela kehormatan para sahabat dengan ilmu dan adab, bukan dengan emosi dan kebencian.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah bahwa sepuluh sahabat tersebut dijamin masuk surga berdasarkan kabar dari Nabi ﷺ yang shahih.
  2. Cintailah semua sahabat Nabi ﷺ tanpa kecuali, karena mencintai mereka adalah bagian dari iman.
  3. Jangan pernah mencela atau merendahkan salah seorang sahabat, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
  4. Teladani sikap Sa'id bin Zaid yang tawadhu', tidak suka memuji diri sendiri, namun berani membela kebenaran.
  5. Jadikan kecintaan kepada para sahabat sebagai pintu untuk mencintai Rasulullah ﷺ dan mengikuti sunnahnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?