Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4607 tentang Kewajiban taat dan mengikuti sunnah setelah nasihat perpisahan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah wasiat terakhir Nabi ﷺ yang sangat agung dan menjadi pondasi bagi umat Islam dalam menghadapi perselisihan. Intinya ada tiga: (1) bertakwa kepada Allah, (2) mendengar dan taat kepada pemimpin, dan (3) berpegang teguh pada Sunnah Nabi ﷺ dan sunnah para Khulafaur Rasyidin, serta menjauhi segala perkara baru (bid'ah) dalam urusan agama. Ini adalah "wasiat perpisahan" yang mencakup pokok-pokok agama, dan menjadi pedoman utama Ahlus Sunnah dalam menyikapi perbedaan dan fitnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud, no. 4607 dari sahabat Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2676), Ibnu Majah (no. 42-44), dan Ahmad (no. 17149). Imam At-Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shahih.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan konteks turunnya hadits (tentang Al-'Irbadh bin Sariyah):

QS. At-Taubah [9]: 92

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

"Dan tidak ada (pula) dosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu (meminta) agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata: 'Aku tidak mendapatkan kendaraan untuk membawamu.' Lalu mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih, sebab mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan."

Hadits terkait lainnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim, no. 2674)

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini menjadi landasan utama bagi para ulama dalam daftar rujukan, di antaranya:

  • Imam Al-Barbahari (w. 329 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai pembuka dan inti dari penjelasan Ahlus Sunnah.
  • Imam Al-Ajurri (w. 360 H) dalam Asy-Syari'ah juga menjadikan hadits ini sebagai dalil pokok tentang kewajiban mengikuti Sunnah dan menjauhi bid'ah.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim seringkali merujuk hadits ini dalam pembahasan tentang ittiba' (mengikuti) dan ibtida' (mengada-adakan dalam agama).
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mencakup wasiat untuk bertakwa, taat kepada pemimpin, dan berpegang teguh pada Sunnah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia. Beliau termasuk sahabat yang disebut dalam ayat 92 Surat At-Taubah, yaitu mereka yang ingin ikut berjihad namun tidak mendapatkan kendaraan dari Nabi ﷺ.

Konteks hadits: Setelah shalat, Nabi ﷺ memberikan nasihat yang sangat menyentuh hati, sehingga para sahabat menangis dan hati mereka bergetar. Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?" Maka turunlah wasiat agung ini.

Poin-poin penting dalam hadits:

  1. Wasiat takwa — Ini adalah wasiat pertama dan paling utama. Takwa adalah landasan seluruh amal. Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa takwa adalah "melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh keimanan dan harapan pahala."
  2. Mendengar dan taat kepada pemimpin — Meskipun pemimpinnya seorang budak Habsyi (berkulit hitam), selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah kewajiban, namun dengan syarat tidak dalam kemaksiatan. Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, selama tidak memerintahkan kemaksiatan.
  3. "Siapa yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak" — Ini adalah kabar ghaib dari Nabi ﷺ yang terbukti terjadi. Maka solusinya bukanlah dengan berpecah belah, tetapi dengan kembali kepada Sunnah.
  4. "Wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin" — Ini menunjukkan bahwa Sunnah Nabi ﷺ adalah sumber utama, dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk adalah penjelas dan penerapannya. Empat khalifah yang dimaksud adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum. Imam Al-Barbahari menjelaskan bahwa mengikuti mereka adalah bagian dari mengikuti Nabi ﷺ.
  5. "Gigitlah dengan geraham kalian" — Ini adalah kiasan yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa eratnya kita harus berpegang pada Sunnah. Sebagaimana gigitan geraham adalah gigitan yang paling kuat, maka demikianlah kita harus berpegang teguh pada Sunnah, tidak goyah oleh fitnah dan perselisihan.
  6. "Jauhilah perkara-perkara baru (muhdatsat)" — Yang dimaksud adalah perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur'an dan Sunnah. "Setiap bid'ah adalah sesat" — Ini adalah kaidah umum yang tegas. Imam Asy-Syafi'i menjelaskan bahwa bid'ah terbagi menjadi bid'ah yang tercela (semua bid'ah dalam urusan agama) dan yang dimaksud dalam hadits ini adalah semua perkara baru dalam agama.

Catatan penting: Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bid'ah di sini adalah bid'ah dalam urusan agama (ibadah dan keyakinan), bukan perkara duniawi seperti teknologi, mobil, atau metode dakwah yang tidak bertentangan dengan syariat. Imam Asy-Syafi'i membedakan antara bid'ah hasanah dalam urusan dunia dan bid'ah dhalalah dalam urusan agama. Namun yang benar menurut jumhur ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, setiap bid'ah dalam urusan agama adalah sesat, sebagaimana zhahir hadits ini.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika para sahabat mendengar wasiat ini, mereka sangat tersentuh. Al-'Irbadh bin Sariyah sendiri adalah seorang yang sangat mencintai Nabi ﷺ. Beliau termasuk sahabat yang ikut dalam berbagai peperangan dan sangat teguh dalam berpegang pada Sunnah.

Ada kisah tentang Imam Al-Auza'i (salah satu ulama besar dari kalangan Tabi'in yang disebut dalam daftar rujukan). Beliau pernah ditanya tentang sunnah, maka beliau menjawab: "Sunnah itu adalah berpegang teguh pada atsar (jejak para sahabat), mengikuti mereka, meninggalkan pendapat orang-orang yang menyelisihi mereka, dan tidak berdebat tentang agama dengan perkataan-perkataan yang dibuat-buat." Ini persis dengan semangat hadits di atas — bahwa keselamatan ada pada mengikuti jejak Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Kisah lain, Imam Ahmad bin Hanbal — yang merupakan perawi hadits ini — ketika menghadapi fitnah khalqul Qur'an (paham bahwa Al-Qur'an itu makhluk), beliau tetap teguh di atas Sunnah meskipun dipenjara dan disiksa. Beliau berkata: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah karena perkataan manusia." Ini adalah buah dari pemahaman hadits ini — berpegang teguh pada Sunnah meskipun banyak yang menyelisihi.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertakwalah kepada Allah dalam semua keadaan, baik sendiri maupun di hadapan orang banyak.
  2. Taatilah pemimpin selama tidak memerintahkan kemaksiatan, meskipun pemimpin itu bukan dari kalangan terbaik.
  3. Berpegang teguhlah pada Sunnah Nabi ﷺ dan pemahaman para sahabat serta ulama Ahlus Sunnah yang mengikuti mereka.
  4. Jauhilah bid'ah dalam urusan agama, karena setiap bid'ah adalah kesesatan.
  5. Ketika terjadi perselisihan, kembalilah kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kepada hawa nafsu atau pendapat yang menyelisihi dalil.
  6. Pelajarilah agama dari ulama yang benar-benar mengikuti manhaj salaf, sebagaimana para ulama dalam daftar rujukan kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?