Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4315 tentang Tanda-tanda dan fitnah Dajjal berupa air dan api

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang salah satu fitnah besar Dajjal, yaitu ujian berupa sesuatu yang tampak seperti api tetapi hakikatnya adalah air, dan sesuatu yang tampak seperti air tetapi hakikatnya adalah api. Ini adalah ujian ketaatan dan keyakinan seorang mukmin: apakah ia mengikuti apa yang terlihat oleh mata atau mengikuti petunjuk Nabi ﷺ. Maka siapa yang beriman kepada berita Nabi ﷺ, ia akan selamat; dan siapa yang tertipu oleh pandangan mata, ia akan celaka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Malahim (Perang), Bab Khuruj Ad-Dajjal, no. 4315, dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman dan Abu Mas'ud Al-Badri radhiyallahu 'anhuma.

Terdapat juga riwayat senada dalam Shahih Muslim dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Dajjal:

"إِنَّ مَعَهُ مَاءً وَنَارًا، فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَمَاؤُهُ نَارٌ"

"Sesungguhnya bersama Dajjal ada air dan api. Apinya adalah surga, dan airnya adalah neraka." (HR. Muslim, no. 2934)

Adapun dalil dari Al-Qur'an yang menguatkan bahwa ujian ini adalah bentuk ketaatan kepada berita Nabi ﷺ dan bukan kepada pandangan mata, Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka." (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin wajib mendahulukan berita Allah dan Rasul-Nya di atas apa yang ia lihat dan rasakan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang hakikat iman. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "apinya adalah surga dan airnya adalah neraka" adalah bahwa apa yang tampak di mata manusia sebagai api ternyata adalah air yang menyegarkan, dan apa yang tampak sebagai air ternyata adalah api yang membakar. Ini adalah ujian dari Allah untuk membedakan hamba yang beriman kepada berita gaib dari Rasulullah ﷺ dengan hamba yang hanya berpegang pada zhahir (penampakan) semata.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa fitnah Dajjal adalah ujian terbesar setelah Nabi Adam, karena Dajjal diberi kemampuan luar biasa untuk mengelabui manusia. Maka barang siapa yang beriman kepada berita Nabi ﷺ, ia akan selamat dari tipu dayanya, karena ia tidak tertipu oleh apa yang ia lihat, melainkan ia berpegang pada apa yang ia dengar dari wahyu.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam menjelaskan makna-makna iman kepada yang gaib menegaskan bahwa salah satu ciri orang bertakwa adalah beriman kepada yang gaib, yaitu membenarkan berita Allah dan Rasul-Nya meskipun bertentangan dengan apa yang tampak di mata. Inilah inti dari hadits ini.

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menyebutkan bahwa ujian seperti ini menunjukkan bahwa hati seorang mukmin itu hidup dengan cahaya iman, sehingga ia mampu menembus tabir penampakan dan berpegang pada hakikat yang dikabarkan oleh wahyu. Adapun orang yang hatinya mati, ia hanya melihat dengan mata kepala, sehingga ia tertipu.

Adapun dalam riwayat Abu Dawud ini, Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku lebih tahu daripada dia (Abu Mas'ud) tentang apa yang dibawa Dajjal." Ini menunjukkan bahwa para sahabat saling berbagi ilmu yang mereka dengar dari Nabi ﷺ, dan mereka sangat perhatian untuk menyampaikan kabar tentang fitnah besar ini kepada umat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu hari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu dan Abu Mas'ud Al-Badri radhiyallahu 'anhu berkumpul. Hudzaifah—yang dikenal sebagai pemegang rahasia Rasulullah ﷺ tentang fitnah-fitnah akhir zaman—berkata dengan penuh keyakinan: "Aku tahu apa yang akan dibawa Dajjal. Ia akan membawa lautan air dan sungai api. Apa yang kalian lihat sebagai api adalah air, dan apa yang kalian lihat sebagai air adalah api."

Maka Abu Mas'ud Al-Badri, yang juga sahabat senior dan ikut dalam Perang Badar, membenarkan perkataannya seraya berkata: "Beginilah aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda."

Lihatlah bagaimana para sahabat saling menguatkan dalam menyampaikan ilmu. Mereka tidak berdusta, tidak menambah-nambah, dan tidak mengurangi. Mereka hanya menyampaikan apa yang mereka dengar dari Nabi ﷺ. Inilah adab para sahabat dalam menjaga ilmu: jujur, teliti, dan saling mengingatkan.

Hikmah dari kisah ini: ilmu tentang fitnah akhir zaman bukanlah untuk ditakuti secara berlebihan, tetapi untuk dipelajari agar kita waspada dan siap menghadapinya dengan iman yang teguh.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib beriman kepada berita Nabi ﷺ tentang Dajjal, karena itu termasuk beriman kepada yang gaib.
  2. Jangan tertipu oleh penampakan lahiriah; ukuran kebenaran adalah Al-Qur'an dan Sunnah, bukan pandangan mata semata.
  3. Saling menyampaikan ilmu sebagaimana para sahabat saling mengingatkan, dengan jujur dan teliti.
  4. Perbanyak doa perlindungan dari fitnah Dajjal, terutama di akhir shalat, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min fitnatil masihid dajjal."
  5. Perkuat iman dengan mempelajari sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya, karena Dajjal akan mengaku sebagai tuhan, dan orang yang mengenal Allah dengan benar tidak akan tertipu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?