Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu kabar ghaib (berita masa depan) dari Nabi ﷺ tentang peristiwa besar di akhir zaman, yaitu terjadinya perdamaian antara kaum Muslimin dan Romawi (Bizantium), kemudian mereka bersama-sama memerangi musuh bersama, lalu terjadi pengkhianatan dari pihak Romawi yang berujung pada perang besar (al-Malhamah al-Kubra). Hadits ini mengajarkan kita untuk percaya kepada kabar Nabi ﷺ, waspada terhadap tipu daya musuh, dan tetap teguh di atas agama meskipun menghadapi fitnah besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab al-Malahim, Bab Ma Jaa-a fi Malahim ar-Rum, no. 4292. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya dari jalur yang serupa.
Terdapat ayat Al-Qur'an yang senada tentang kepastian janji Allah dan pertolongan-Nya kepada kaum mukminin, di antaranya:
QS. Ar-Rum [30]: 54 (tentang sunnatullah dan janji Allah):
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
"Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa."
Juga firman Allah tentang janji pertolongan-Nya:
QS. Muhammad [47]: 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah tentang al-Malhamah al-Kubra dan pembebasan Konstantinopel, serta hadits-hadits lain tentang fitnah akhir zaman.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang al-Malahim (peperangan besar akhir zaman) adalah bagian dari iman kepada berita-berita ghaib yang disampaikan Nabi ﷺ. Di antara ulama yang membahas hadits-hadits semacam ini adalah:
- Imam al-Auza'i (salah satu perawi dalam sanad hadits ini) – Beliau adalah ulama besar Syam yang dikenal sangat memperhatikan hadits-hadits tentang fitnah dan peperangan akhir zaman. Beliau meriwayatkan hadits ini dari gurunya, Hassan bin Athiyyah, yang menunjukkan perhatian ulama salaf terhadap periwayatan berita-berita ghaib ini.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – Beliau menjelaskan bahwa berita-berita tentang al-Malhamah dan peperangan dengan Romawi adalah bagian dari mukjizat Nabi ﷺ yang terbukti kebenarannya. Beliau berkata bahwa apa yang dikabarkan Nabi ﷺ tentang pembebasan Konstantinopel dan peperangan dengan Romawi telah terjadi sebagiannya dan akan terjadi sebagian lainnya.
- Al-Hafizh Ibnu Katsir – Dalam kitab an-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim, beliau membawakan hadits ini dan menjelaskan bahwa makna "perdamaian yang aman" adalah perjanjian damai yang terjadi antara kaum Muslimin dan Romawi sebelum munculnya Dajjal. Beliau juga menjelaskan bahwa "musuh di belakang kalian" adalah bangsa-bangsa yang berada di belakang wilayah Romawi.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani – Dalam Fath al-Bari, beliau membahas hadits-hadits tentang al-Malahim dan menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa ini termasuk tanda-tanda besar hari kiamat yang akan terjadi secara berurutan.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – Beliau menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang fitnah akhir zaman harus dipahami secara tekstual sesuai zhahirnya, karena itu adalah berita ghaib yang tidak bisa ditakwilkan kecuali dengan dalil. Beliau juga mengingatkan agar kaum Muslimin tidak sibuk dengan perdebatan tentang waktu terjadinya, tetapi fokus pada persiapan iman dan amal.
Adapun makna hadits secara rinci:
- "Kalian akan membuat perdamaian yang aman dengan orang-orang Romawi" – Ini adalah kabar tentang perjanjian damai yang akan terjadi antara kaum Muslimin dan Bizantium. Sebagian ulama mengatakan ini telah terjadi pada masa-masa tertentu dalam sejarah, dan sebagian lagi mengatakan ini akan terjadi di akhir zaman.
- "Kemudian kalian dan mereka akan melawan musuh di belakang kalian" – Maksudnya, ada musuh bersama yang lebih berbahaya, sehingga kedua belah pihak bersekutu untuk menghadapinya. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, kaum Muslimin boleh bekerja sama dengan non-Muslim untuk kepentingan bersama, selama tidak melanggar syariat.
- "Kalian akan menang, mengambil harta rampasan, dan selamat" – Ini adalah janji kemenangan dari Allah bagi kaum Muslimin dalam peperangan tersebut.
- "Kemudian kalian akan turun di sebuah padang dengan gundukan" – Ini menggambarkan tempat kejadian, yaitu sebuah lembah atau dataran yang memiliki bukit-bukit kecil.
- "Salah seorang dari orang Kristen akan mengangkat salib dan berkata: Salib telah menang" – Ini menunjukkan provokasi dari pihak Kristen yang mengklaim kemenangan atas nama salib, padahal kemenangan itu sebenarnya dari Allah.
- "Salah seorang Muslim akan marah dan menghancurkannya" – Ini adalah reaksi spontan seorang Muslim yang tidak bisa menahan kemarahannya ketika melihat simbol kekufuran diagungkan. Namun, tindakan ini menjadi pemicu pengkhianatan Romawi.
- "Orang-orang Romawi akan berkhianat dan bersiap untuk berperang" – Ini menunjukkan bahwa perjanjian damai itu akan dilanggar oleh Romawi, dan mereka akan memulai peperangan besar yang dikenal dengan al-Malhamah al-Kubra.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Kebenaran kabar Nabi ﷺ – Semua yang beliau kabarkan pasti terjadi, karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu.
- Sifat khianat musuh – Orang-orang kafir tidak akan pernah setia pada perjanjian jika mereka melihat peluang untuk menghancurkan Islam.
- Pentingnya menjaga lisan dan emosi – Meskipun tindakan menghancurkan salib adalah reaksi yang bisa dipahami, namun hadits ini menunjukkan bahwa tindakan tersebut menjadi pemicu perang. Ini bukan berarti kita tidak boleh marah terhadap kekufuran, tetapi kita harus bijak dalam bertindak.
- Persiapan menghadapi fitnah akhir zaman – Kaum Muslimin harus mempersiapkan diri secara iman, ilmu, dan amal untuk menghadapi masa-masa sulit tersebut.
Story Telling
Diriwayatkan dari Jubair bin Nufair – seorang tabi'in yang mulia – bahwa ia pergi bersama Makhul dan Ibnu Abi Zakariyya kepada seorang sahabat Nabi ﷺ yang bernama Dzu Mikhbar untuk menanyakan tentang hadits al-Hudnah (perdamaian). Dzu Mikhbar adalah seorang sahabat yang pernah ikut dalam perjalanan Nabi ﷺ dan meriwayatkan hadits-hadits penting.
Kisah ini menunjukkan semangat para tabi'in dalam mencari ilmu. Mereka rela bepergian jauh hanya untuk menanyakan satu hadits tentang peristiwa akhir zaman. Ini mengajarkan kita bahwa ilmu tentang tanda-tanda kiamat adalah ilmu yang penting dan dicari oleh para salaf.
Imam al-Auza'i – ulama besar Syam yang meriwayatkan hadits ini – dikenal sangat teliti dalam periwayatan hadits. Beliau berkata: "Ilmu itu mulia, tidak akan diperoleh kecuali dengan merendahkan diri (tawadhu') dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh." Beliau juga dikenal sebagai ulama yang sangat memperhatikan hadits-hadits tentang fitnah dan peperangan akhir zaman, karena penduduk Syam adalah wilayah yang menjadi pusat peristiwa-peristiwa tersebut.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada berita ghaib – Kita wajib membenarkan semua kabar yang disampaikan Nabi ﷺ, termasuk tentang peristiwa akhir zaman, meskipun belum terjadi atau tidak kita saksikan.
- Waspada terhadap tipu daya musuh – Jangan pernah sepenuhnya percaya kepada perjanjian dengan orang-orang kafir, karena pengkhianatan adalah tabiat mereka.
- Kendalikan emosi – Marah karena Allah itu baik, tetapi harus disertai hikmah dan kebijaksanaan. Jangan sampai kemarahan kita dimanfaatkan musuh untuk memicu konflik yang lebih besar.
- Persiapkan diri – Perbanyak iman, ilmu, dan amal shalih. Jangan sibuk dengan perdebatan tentang waktu terjadinya peristiwa-peristiwa ini, tetapi sibukkan diri dengan persiapan menghadapinya.
- Jangan putus asa – Meskipun banyak fitnah dan pengkhianatan, Allah menjanjikan kemenangan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.