Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4246 tentang Fitnah beruntun dan anjuran berpegang pada Al-Qur'an

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits tentang fitnah akhir zaman yang sangat penting. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa setelah kebaikan (Islam yang tegak), akan datang keburukan dan fitnah. Kemudian akan ada masa kebaikan yang tidak murni (gencatan senjata di atas kotoran/kerusakan), lalu setelah itu datang fitnah yang sangat gelap dan membutakan. Dalam kondisi fitnah seperti itu, seorang muslim diperintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, dan jika harus memilih, lebih baik mati dalam keadaan berpegang pada kebenaran walaupun sendirian daripada mengikuti para penyeru kesesatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan wal-Malahim, Bab Dzikr al-Fitan wa 'Alamatiha, no. 4246. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih*-nya (no. 1847) dengan lafaz yang serupa, dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits ini:

> "يَا حُذَيْفَةُ تَعَلَّمْ كِتَابَ اللَّهِ وَاتَّبِعْ مَا فِيهِ"

>

> "Wahai Hudzaifah, pelajarilah Kitabullah dan ikutilah apa yang ada di dalamnya."

Ini sejalan dengan firman Allah ﷻ:

QS. Ali 'Imran [3]: 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu..."

QS. Al-An'am [6]: 153

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kalian bertakwa."

Penjelasan ulama tentang hadits ini:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (kitab Al-Fitan, bab "La Taqumus Sa'ah hatta...") menjelaskan bahwa makna "hudnatin 'ala dakhan" adalah perdamaian yang di dalamnya terdapat kemunafikan dan kerusakan hati. Beliau menukil pendapat para ulama bahwa "dakhan" berarti kotoran atau asap yang menunjukkan ketidakjernihan.
  • Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Al-Fitan) menjelaskan bahwa "fitnah 'amya' shamma'" adalah fitnah yang buta dan tuli, artinya pelakunya tidak melihat kebenaran dan tidak mendengar nasihat. Beliau juga menjelaskan bahwa perintah "berpegang pada batang kayu" adalah permisalan untuk tetap berpegang pada jamaah atau imam yang benar walaupun dalam keadaan hina dan terasing.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin (bab tentang sabar atas gangguan) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa ketika fitnah memuncak, seorang muslim harus menyelamatkan agamanya, walaupun harus berpisah dari masyarakat yang rusak.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah dialog panjang antara Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu dengan Rasulullah ﷺ. Hudzaifah dikenal sebagai sahabat yang menyimpan banyak rahasia tentang fitnah, karena beliau sering bertanya tentang hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman.

Pertanyaan pertama: "Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?" Beliau menjawab: "Fitnah dan keburukan." Ini menunjukkan bahwa setelah masa kenabian dan khilafah yang lurus, akan datang masa kekacauan dan pemerintahan yang tidak sesuai dengan sunnah.

Pertanyaan kedua: "Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?" Beliau menjawab: "Ya, tetapi di dalamnya ada 'dakhan' (asap/kotoran)." Ini adalah masa di mana ada kebaikan, tetapi tidak murni. Para ulama menjelaskan ini sebagai masa pemerintahan yang baik di tengah-tengah umat, tetapi ada noda dan kekurangan. Jawaban Nabi ﷺ yang berulang kali "Pelajarilah Kitabullah dan ikutilah isinya" menunjukkan bahwa obat utama dalam setiap masa fitnah adalah kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Pertanyaan ketiga: "Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?" Beliau menjawab: "Fitnah yang buta dan tuli." Ini adalah fitnah besar di mana kebenaran menjadi samar, orang-orang tidak bisa membedakan yang haq dan yang batil. Penyerunya mengajak ke neraka, bukan ke surga. Dalam kondisi ini, Nabi ﷺ memberikan nasihat yang sangat tegas: "Jika engkau mati dalam keadaan menggigit akar pohon (yaitu berpegang teguh pada kebenaran walaupun sendirian), itu lebih baik bagimu daripada mengikuti salah seorang dari mereka."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa makna "berpegang pada jidzil (akar kayu)" adalah tetap berpegang pada jamaah dan imam yang benar, walaupun kondisi sangat sulit. Beliau juga menegaskan bahwa dalam kondisi fitnah, seorang muslim harus menjauh dari para penyeru kesesatan dan tidak ikut serta dalam barisan mereka, walaupun harus terisolasi.

Imam Al-Barbahari dalam Syarhus Sunnah menjelaskan bahwa di akhir zaman akan muncul banyak kelompok yang mengaku Islam tetapi menyimpang. Maka kewajiban seorang muslim adalah berpegang pada sunnah dan jamaah, dan waspada terhadap setiap orang yang mengajak kepada selain sunnah.

Syaikh Shalih Al-Fauzan dalam Syarah Kitab At-Tauhid dan berbagai ceramahnya menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa wajibnya memisahkan diri dari pelaku kesesatan ketika tidak mampu mengubah kemungkaran. Ini bukan berarti memutuskan silaturahmi secara mutlak, tetapi menjaga agama dari pengaruh kesesatan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat teliti dalam menjaga diri dari fitnah. Beliau sering ditanya orang-orang tentang tanda-tanda fitnah, karena beliau adalah sahabat yang mengetahui rahasia itu dari Nabi ﷺ.

Suatu ketika, di masa pemerintahan Utsman bin Affan, terjadi gejolak dan fitnah. Hudzaifah melihat bahwa banyak orang mulai bingung dan terpecah belah. Maka beliau selalu mengingatkan mereka dengan sabda Nabi ﷺ: "Pelajarilah Kitabullah dan ikutilah isinya." Beliau tidak pernah ikut campur dalam pertikaian politik yang terjadi, tetapi beliau sibuk mengajarkan Al-Qur'an dan sunnah kepada generasi muda.

Diriwayatkan bahwa ketika fitnah besar terjadi antara Ali dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma, Hudzaifah justru sibuk dengan ilmunya dan tidak memihak salah satu kelompok yang bertikai. Beliau berkata: "Aku tidak ingin menjadi bagian dari fitnah ini. Aku lebih memilih berpegang pada Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya." Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang sahabat mengamalkan wasiat Nabi ﷺ dalam hadits ini.

Hikmah: Dalam setiap pertikaian dan fitnah, orang yang selamat adalah yang kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan yang sibuk mencari "pemenang" di antara kelompok yang bertikai.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah — ini adalah benteng utama dalam menghadapi fitnah. Semakin kuat ilmu kita, semakin selamat kita dari kesesatan.
  2. Jangan mudah mengikuti penyeru fitnah — setiap orang yang mengajak kepada perpecahan, kebencian, atau kesesatan, walaupun mengaku Islam, harus diwaspadai.
  3. Berpegang pada jamaah yang benar — yaitu para ulama Ahlus Sunnah yang berpegang pada Al-Qur'an dan hadits dengan pemahaman salaf.
  4. Jika terpaksa harus menyendiri demi menjaga agama, itu lebih baik — daripada ikut serta dalam barisan kesesatan.
  5. Bersabar dalam menghadapi fitnah — jangan tergesa-gesa menghakimi sesama muslim, tetapi perbanyak doa dan minta perlindungan dari fitnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.