Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4225 tentang Larangan memakai cincin di jari telunjuk dan tengah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi dua pelajaran utama dari Rasulullah ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu: (1) doa memohon hidayah (petunjuk jalan yang lurus) dan sadad (ketepatan/kelurusan dalam segala urusan), dan (2) larangan mengenakan cincin di jari telunjuk dan jari tengah, serta larangan memakai pakaian qasiyyah dan mitharah yang mengandung unsur menyerupai lawan jenis atau bermewah-mewahan. Kedua hal ini menunjukkan perhatian Islam terhadap doa yang benar dan adab berpakaian serta berhias yang sesuai sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Fatihah [1]: 6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Terjemahan: "Tunjukilah kami jalan yang lurus."

QS. Al-A'raf [7]: 43 (potongan)

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ

Terjemahan: "Dan mereka berkata: 'Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami petunjuk untuk ini, dan kami tidak akan mendapat petunjuk kalau bukan karena Allah yang telah memberi kami petunjuk.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Cincin, Bab Apa yang Dikatakan tentang Cincin Besi, nomor 4225. Perawi: Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Abu Burdah, dari 'Ashim bin Kulaib.

Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam Shahih Muslim dari Ali bin Abi Thalib, yang menunjukkan keabsahannya.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa "Allahummahdini wasaddidni" mengandung permohonan dua hal besar: hidayah (petunjuk menuju jalan yang benar) dan sadad (ketepatan dan kelurusan dalam ucapan serta perbuatan).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa larangan memakai cincin di jari telunjuk dan tengah termasuk adab berhias yang harus dijaga.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melarang pakaian yang menyerupai pakaian wanita atau pakaian orang kafir yang menjadi ciri khas mereka.

Penjelasan Rinci

1. Doa "Allahummahdini wasaddidni"

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada Ali bin Abi Thalib doa yang sangat singkat namun padat makna:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

"Ya Allah, tunjukilah aku dan perbaikilah aku (luruskanlah aku)."

Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan maknanya:

  • Hidayah di sini diibaratkan seperti menunjukkan jalan yang lurus — artinya memohon agar Allah menunjukkan kepada kita jalan yang benar dalam agama, akidah, dan amal.
  • Sadad diibaratkan seperti memperbaiki anak panah yang bengkok agar tepat sasaran — artinya memohon agar Allah menjadikan ucapan, perbuatan, dan niat kita tepat, lurus, dan tidak menyimpang.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hidayah berkaitan dengan ilmu dan petunjuk, sedangkan sadad berkaitan dengan amal dan ketepatan. Keduanya saling melengkapi: seseorang bisa tahu jalan yang benar (hidayah) tetapi tidak mampu mengamalkannya dengan tepat (sadad), maka ia memohon keduanya.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa doa ini mencakup seluruh kebaikan agama dan dunia, karena hidayah dan sadad adalah pondasi semua kebaikan.

2. Larangan memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah

Nabi ﷺ melarang Ali mengenakan cincin di jari telunjuk (sabbabah) dan jari tengah (wustha). 'Ashim bin Kulaib ragu apakah yang dimaksud telunjuk atau tengah, namun keduanya disebutkan dalam larangan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini karena:

  • Memakai cincin di jari telunjuk dan tengah menyerupai kebiasaan orang-orang sombong atau menyerupai cara berpakaian yang tidak sesuai dengan adab Islam.
  • Cincin sunnahnya dipakai di jari kelingking atau jari manis.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa larangan ini bersifat makruh, bukan haram, menurut jumhur ulama, karena hadits ini menunjukkan adab dan keutamaan, bukan larangan yang tegas.

3. Larangan memakai qasiyyah dan mitharah

  • Qasiyyah adalah pakaian yang diimpor dari Syam atau Mesir, yang memiliki corak bergaris-garis atau bermotif seperti buah jeruk. Pakaian ini termasuk pakaian mewah dan menyerupai pakaian orang non-Muslim atau pakaian yang menjadi ciri khas mereka.
  • Mitharah adalah alas pelana atau pakaian yang dibuat wanita untuk suami mereka, yang biasanya terbuat dari sutra atau bahan mewah, dan mengandung unsur menyerupai wanita atau bermewah-mewahan.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan menjaga kesederhanaan, menjauhi tasyabbuh (menyerupai) dengan orang kafir atau lawan jenis, dan menjauhi kemewahan yang berlebihan.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menyatakan larangan ini bersifat makruh tanzih (makruh yang tidak sampai haram), kecuali jika mengandung unsur tasyabbuh yang jelas atau kesombongan, maka bisa menjadi haram.
  • Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa pakaian yang menjadi ciri khas orang kafir atau wanita tidak boleh dipakai oleh pria, dan ini bisa sampai derajat haram jika menjadi syi'ar (simbol) kekufuran atau menyerupai lawan jenis.

Pendapat yang paling kuat: Larangan memakai cincin di telunjuk dan tengah adalah makruh, sedangkan larangan memakai pakaian yang menyerupai lawan jenis atau orang kafir bisa sampai haram jika mengandung tasyabbuh yang jelas. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ. Suatu hari, Nabi ﷺ memanggilnya dan mengajarkan doa yang singkat namun penuh makna. Nabi ﷺ tidak hanya mengajarkan doa, tetapi juga menjelaskan maknanya dengan perumpamaan yang mudah dipahami: hidayah seperti menunjukkan jalan, dan sadad seperti memperbaiki anak panah.

Kemudian Nabi ﷺ juga mengajarkan adab berpakaian dan berhias. Beliau melarang Ali memakai cincin di jari telunjuk dan tengah, serta melarang pakaian qasiyyah dan mitharah. Ali pun bertanya tentang makna qasiyyah dan mitharah, dan Nabi ﷺ menjelaskannya dengan detail.

Hikmah: Islam adalah agama yang lengkap. Ia mengajarkan doa yang benar, adab berpakaian yang baik, dan menjauhi segala yang menyerupai kebiasaan yang tidak sesuai dengan sunnah. Ali bin Abi Thalib adalah contoh sahabat yang selalu bertanya untuk memahami, bukan sekadar mengikuti tanpa ilmu.

(Sumber: Sunan Abu Dawud, Shahih Muslim, dan penjelasan para ulama seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Qayyim)

Kesimpulan Praktis

  1. Rutinkan doa "Allahummahdini wasaddidni" — memohon hidayah dan ketepatan dalam ucapan, perbuatan, dan niat.
  2. Hindari memakai cincin di jari telunjuk dan jari tengah — sunnahnya di jari kelingking atau jari manis.
  3. Jauhi pakaian yang menyerupai lawan jenis atau orang kafir — baik dari segi model, corak, maupun bahan yang berlebihan.
  4. Jaga kesederhanaan dalam berhias — Islam mengajarkan keindahan yang tidak berlebihan dan tidak menyerupai kebiasaan yang tidak sesuai sunnah.
  5. Bertanyalah untuk memahami — seperti Ali yang bertanya tentang makna qasiyyah dan mitharah, agar amal kita berdasarkan ilmu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?