Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan tentang larangan berlebihan dalam kenikmatan dunia (al-irfah) dan perintah untuk sesekali hidup sederhana, termasuk tidak memakai alas kaki. Ini bukan berarti haram menikmati hal yang baik, tetapi mengingatkan agar tidak tenggelam dalam kemewahan sehingga melupakan akhirat. Sahabat Fudalah bin 'Ubayd radhiyallahu 'anhu yang menjadi gubernur Mesir tetap tampil sederhana karena mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-A'raf [7]: 31
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Berhias, Bab Larangan Terhadap Banyak Berlebihan dalam Kenikmatan, no. 4160. Sanadnya dari Abdullah bin Buraidah, dari seorang sahabat yang bertanya kepada Fudalah bin 'Ubayd radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam al-Bukhari (w. 256 H) dalam Shahih-nya meriwayatkan hadits serupa tentang kesederhanaan para sahabat. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa larangan "banyak irfah" (kenikmatan) adalah peringatan agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menekankan bahwa hadits ini mengajarkan keseimbangan antara memanfaatkan nikmat Allah dan menjaga kesederhanaan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan sikap seorang sahabat yang menjadi gubernur (penguasa) di Mesir, yaitu Fudalah bin 'Ubayd al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Ketika didatangi oleh sahabat lain yang ingin menanyakan hadits, ia terlihat dalam keadaan "sya'its" (rambut acak-acakan, tidak rapi) dan tidak memakai alas kaki. Ini bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.
Makna "Katsir min al-irfah":
Al-Irfah berarti kenikmatan, kemewahan, dan kenyamanan yang berlebihan. Imam al-Khaththabi (w. 388 H) dalam Ma'alim as-Sunan menjelaskan bahwa yang dilarang adalah "banyak berlebihan dalam kenikmatan", bukan menikmati yang halal secara wajar. Para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) menekankan bahwa larangan ini terkait dengan sikap hati: jangan sampai kemewahan membuat lalai dari ibadah dan akhirat.
Hikmah "Menghina" (tidak memakai alas kaki):
Nabi ﷺ memerintahkan untuk sesekali berjalan tanpa alas kaki. Ini bukan kewajiban, tetapi sunnah yang mengajarkan tawadhu' (rendah hati) dan mengingatkan bahwa manusia tidak selalu bergantung pada kemewahan. Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hal ini juga bermanfaat untuk kesehatan dan melatih kesabaran.
Sikap Para Ulama Salaf:
Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata: "Sungguh aku melihat para sahabat Rasulullah ﷺ, dunia ini hina di mata mereka." Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) hidup sangat sederhana meskipun ia seorang ulama besar. Fudail bin 'Iyadh (w. 187 H) meninggalkan jabatan dan kemewahan demi menjaga hati.
Hadits ini tidak berarti kita harus selalu kumal atau tidak memakai alas kaki. Yang dilarang adalah berlebihan sehingga melampaui batas syariat dan melupakan tujuan hidup. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan." (HR. Ahmad, dari 'Amr bin Syu'aib, shahih).
Story Telling
Diriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah, bahwa seorang sahabat melakukan perjalanan jauh dari Madinah ke Mesir hanya untuk menanyakan satu hadits kepada Fudalah bin 'Ubayd. Ketika sampai, ia terkejut melihat gubernur Mesir itu tampil sederhana: rambut tidak disisir rapi, pakaian biasa, dan tanpa alas kaki. Padahal saat itu Mesir adalah negeri yang makmur.
Fudalah pun tersenyum dan berkata, "Rasulullah ﷺ melarang kami dari banyak berlebihan dalam kenikmatan. Beliau juga memerintahkan kami untuk sesekali tidak memakai alas kaki." Subhanallah, inilah akhlak para pemimpin yang benar-benar memahami Islam. Mereka tidak silau dengan jabatan dan harta, tetapi tetap rendah hati dan mengikuti sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berlebihan dalam kenikmatan dunia – Nikmati rezeki halal secukupnya, jangan sampai melupakan ibadah dan akhirat.
- Sesekali hidup sederhana – Seperti tidak memakai alas kaki atau memakai pakaian biasa, untuk melatih tawadhu'.
- Jadilah teladan dalam kesederhanaan – Terutama bagi yang memiliki jabatan atau harta, jangan sampai kemewahan menjauhkan dari sunnah.
- Niatkan semua untuk Allah – Baik saat menikmati nikmat maupun saat bersederhana, niatkan karena mengikuti petunjuk Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.