Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi nasihat Nabi ﷺ kepada Jabir bin Sulaim radhiyallahu 'anhu tentang adab salam, tauhid, akhlak mulia, dan larangan isbal (menjulurkan kain di bawah mata kaki karena sombong). Intinya: jangan mencela siapa pun, jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, tampilkan wajah ceria kepada saudara, dan jangan menjulurkan kain melebihi mata kaki karena itu tanda kesombongan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait larangan sombong:
QS. Al-Isra' [17]: 37
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Terjemahan: "Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
Hadits terkait isbal — Shahih al-Bukhari, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma:
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Terjemahan: "Barangsiapa menyeret kainnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."
Kaitan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa isbal yang dilarang adalah yang disertai kesombongan; jika tanpa kesombongan, sebagian ulama memakruhkannya dan sebagian membolehkan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari merinci perbedaan pendapat ini dan menguatkan bahwa 'illah (sebab) larangan adalah kesombongan (makhilah). Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menekankan pentingnya menjaga hati dari kesombongan dalam berpakaian.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4084) dalam Kitab Pakaian, dari sahabat Jabir bin Sulaim radhiyallahu 'anhu. Para ulama hadits seperti Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lainnya meriwayatkan kisah ini melalui jalur yang berbeda. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah akhlak dan adab.
Pertama: Adab salam. Nabi ﷺ mengoreksi ucapan "عَلَيْكَ السَّلَامُ" (semoga keselamatan atasmu) karena itu adalah salam penghormatan untuk orang yang telah meninggal. Yang benar adalah "السَّلَامُ عَلَيْكَ" (keselamatan atasmu). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan pentingnya menjaga lafazh salam sesuai tuntunan.
Kedua: Tauhid. Nabi ﷺ memperkenalkan dirinya sebagai Rasul Allah yang doanya dikabulkan ketika ada kesulitan — musibah, paceklik, atau kehilangan hewan. Ini menegaskan bahwa hanya Allah yang mengangkat kesulitan, menumbuhkan tanaman, dan mengembalikan yang hilang. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menekankan bahwa mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya adalah inti tauhid.
Ketiga: Larangan mencela. "لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا" — jangan mencela siapa pun. Jabir bin Sulaim berkata setelah itu ia tidak pernah mencela orang merdeka, budak, unta, maupun domba. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan larangan mencela makhluk secara umum, karena celaan adalah penyakit hati.
Keempat: Jangan meremehkan kebaikan. "وَلَا تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ" — jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, termasuk tersenyum dan berwajah ceria kepada saudara. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa kebaikan kecil bisa menjadi besar di sisi Allah jika dilakukan dengan ikhlas.
Kelima: Isbal. "وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ" — angkatlah kainmu hingga setengah betis, jika tidak mampu maka hingga mata kaki. "وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ" — hati-hati isbal, karena itu bagian dari kesombongan. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa larangan isbal yang tegas adalah yang disertai kesombongan; adapun tanpa kesombongan, hukumnya makruh menurut jumhur. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa 'illah larangan adalah kesombongan, dan jika tidak ada kesombongan maka tidak sampai haram.
Keenam: Jangan membalas celaan. "وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ" — jika seseorang mencela dan mempermalukanmu, jangan balas mempermalukannya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ini adalah akhlak mulia yang diajarkan Islam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Jabir bin Sulaim radhiyallahu 'anhu datang dari daerahnya menuju Madinah untuk mencari ilmu. Ia melihat seorang lelaki yang diikuti banyak orang dan setiap ucapannya diikuti. Ia bertanya siapa orang itu, dan dijawab bahwa itu adalah Rasulullah ﷺ. Jabir kemudian mendekat dan mengucapkan salam dengan lafazh yang salah, lalu Nabi ﷺ mengajarinya lafazh yang benar. Jabir meminta nasihat, dan Nabi ﷺ memberikan nasihat yang sangat berharga. Jabir berkata bahwa setelah itu ia tidak pernah mencela siapa pun — tidak kepada orang merdeka, budak, unta, maupun domba. Kisah ini menunjukkan betapa nasihat Nabi ﷺ mengubah kehidupan seorang sahabat secara total. (Disebutkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i; at-Tirmidzi menyebutnya hasan shahih).
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki lafazh salam: Ucapkan "السَّلَامُ عَلَيْكَ" bukan "عَلَيْكَ السَّلَامُ".
- Tinggalkan celaan: Jangan mencela siapa pun, baik manusia maupun hewan.
- Jangan remehkan kebaikan: Senyum, wajah ceria, dan sapaan hangat adalah kebaikan.
- Jaga pakaian: Angkat kain hingga setengah betis atau maksimal mata kaki; hindari isbal karena sombong.
- Balas keburukan dengan kebaikan: Jika dicela, jangan balas mencela.
- Kenali Allah: Ingat bahwa hanya Allah yang mengangkat kesulitan dan memberi rezeki.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.