Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4023 tentang Doa makan dan berpakaian sebagai penghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah dzikir yang sangat agung dan mudah diamalkan setiap hari, yaitu ketika selesai makan atau mengenakan pakaian baru. Dengan mengucapkan pujian kepada Allah dan mengakui bahwa segala nikmat itu murni dari-Nya, tanpa ada daya dan kekuatan dari diri kita, maka Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu dan yang akan datang. Ini adalah bentuk syukur yang sangat dicintai Allah dan merupakan pintu ampunan yang luas bagi hamba-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab Apa yang Dikatakan Jika Memakai Pakaian Baru, nomor 4023. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dan Imam Ibnu Majah. Para ulama berbeda pendapat mengenai status hadits ini; ada yang menganggapnya hasan (baik) dan ada pula yang menganggapnya dha'if (lemah) karena jalur periwayatannya. Namun, makna dan kandungannya sangat baik untuk diamalkan karena merupakan dzikir syukur yang diajarkan Nabi ﷺ.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Ibrahim [14]: 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah kunci bertambahnya nikmat, dan dzikir dalam hadits ini adalah salah satu bentuk syukur yang paling utama.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Mu'adz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu 'anhu. Imam Abu Dawud meriwayatkannya dalam Sunan-nya, dan Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkannya dalam Sunan-nya.

Kaitan dengan ulama:

Para ulama seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Shahih Sunan Abi Dawud membahas hadits ini. Beliau menyimpulkan bahwa hadits ini hasan (baik) dan layak diamalkan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga pernah ditanya tentang hadits ini dan beliau menjelaskan bahwa maknanya benar dan dianjurkan untuk diamalkan, meskipun ada sebagian ulama yang melemahkan sanadnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung dua doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ:

  1. Doa Setelah Makan: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku makanan ini dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dari diriku."
  2. Doa Setelah Memakai Pakaian: "Segala puji bagi Allah yang telah memakaikanku pakaian ini dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan kekuatan dari diriku."

Makna dan Kandungan Hadits:

  • Pengakuan atas Kelemahan Diri: Frasa "tanpa ada daya dan kekuatan dari diriku" adalah inti dari doa ini. Ini adalah pengakuan yang tulus bahwa manusia tidak memiliki kemampuan apa pun untuk mendatangkan rezeki, makanan, atau pakaian. Semua itu murni karunia Allah. Ini adalah puncak dari rasa syukur dan ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya.
  • Janji Ampunan: Balasan yang disebutkan adalah "diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang." Ini adalah kabar gembira yang sangat besar. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah keutamaan khusus bagi orang yang mengucapkannya dengan penuh keyakinan dan keikhlasan. Ini bukan berarti seseorang bebas berbuat dosa, tetapi ini adalah rahmat Allah yang luas bagi hamba-Nya yang bersyukur.
  • Sikap Ulama terhadap Hadits Ini: Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 4023) menyatakan hadits ini hasan. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini memiliki penguat dari riwayat lain. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ketika ditanya tentang hadits ini, beliau menjelaskan bahwa meskipun ada sebagian ulama yang melemahkan sanadnya, namun maknanya sangat baik dan tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain tentang keutamaan bersyukur. Beliau menganjurkan untuk mengamalkannya karena termasuk dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ.
  • Perbedaan Pendapat Ulama: Sebagian ulama seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Abu Hatim ar-Razi menganggap hadits ini dha'if (lemah) karena ada perawi yang bernama Abu Marhum yang dinilai kurang kuat hafalannya. Namun, ulama lain seperti Imam At-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani menganggapnya hasan (baik) karena ada jalur periwayatan lain yang menguatkan. Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 201) menyebutkan bahwa hadits ini hasan dan memiliki penguat dari hadits lain yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Penerapan dalam Kehidupan:

Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak pernah melupakan Allah dalam setiap nikmat yang kita terima, sekecil apa pun. Ketika kita makan, kita ingat bahwa makanan itu dari Allah. Ketika kita memakai baju, kita ingat bahwa pakaian itu dari Allah. Ini akan menumbuhkan rasa syukur yang mendalam dan menjauhkan kita dari sifat sombong dan merasa mampu sendiri.

Story Telling

Dikisahkan bahwa salah seorang ulama salaf, Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, sangat memperhatikan adab-adab makan dan berpakaian. Beliau sering kali menangis ketika mengingat nikmat Allah. Suatu hari, beliau ditanya, "Wahai Abu Sa'id, mengapa engkau sering menangis?" Beliau menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis, sedangkan aku tidak mengetahui apakah Allah menerima amalanku atau tidak? Dan bagaimana aku tidak bersyukur, sedangkan setiap kali aku makan dan minum, aku ingat bahwa banyak orang yang tidak mendapatkannya?"

Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat peka terhadap nikmat Allah dan selalu mengaitkannya dengan rasa syukur. Mereka tidak pernah menganggap remeh nikmat sekecil apa pun, karena semua itu adalah karunia dari Allah yang Maha Pemurah.

Kesimpulan Praktis

Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:

  1. Hafalkan doa ini dan biasakan membacanya setiap kali selesai makan atau minum, dan setiap kali mengenakan pakaian baru atau pakaian yang kita pakai sehari-hari.
  2. Ucapkan dengan penuh keyakinan bahwa segala nikmat datang dari Allah, dan kita tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun tanpa pertolongan-Nya.
  3. Jadikan dzikir ini sebagai sarana untuk meningkatkan rasa syukur kita dan menjauhkan diri dari sifat sombong dan kufur nikmat.
  4. Jangan remehkan amalan kecil. Meskipun ada perbedaan pendapat tentang derajat hadits ini, namun para ulama seperti Syaikh al-Albani dan Syaikh bin Baz menganjurkan untuk mengamalkannya karena maknanya sangat baik dan sesuai dengan ajaran Al-Qur'an tentang keutamaan bersyukur.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?