Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa di masa jahiliyah, orang-orang memiliki kepercayaan tathayyur (takhayul/merasa sial) terhadap dua hal: Safar (ular di perut yang diyakini menular) dan Hamah (burung malam yang diyakini sebagai roh orang yang terbunuh). Islam datang untuk menghapus keyakinan batil ini. Nabi ﷺ dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada kesialan dalam Islam, dan semua keyakinan semacam itu adalah kebatilan yang harus ditinggalkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Hujurat [49]: 12
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa."
QS. Al-Mulk [67]: 3
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ
"Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang."
Hadits Terkait:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (merasa sial karena sesuatu), tidak ada hamah, dan tidak ada safar."
(HR. Al-Bukhari no. 5757, Muslim no. 2220)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa kata "Safar" dalam hadits ini memiliki beberapa makna, dan salah satunya adalah penyakit perut yang diyakini menular. Adapun "Hamah" adalah burung malam yang oleh orang jahiliyah diyakini sebagai roh orang yang terbunuh yang tidak bisa tenang sampai dibalaskan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menolak seluruh kepercayaan jahiliyah tersebut.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bantahan terhadap kepercayaan-kepercayaan batil masyarakat jahiliyah:
1. Makna "Safar"
Imam Ibn Hajar al-Asqalani menyebutkan beberapa pendapat tentang makna "Safar":
- Sebagian ulama mengatakan itu adalah penyakit perut yang menular
- Sebagian lain mengatakan itu adalah ular yang berada di perut dan diyakini bisa menular kepada orang lain
- Ada juga yang mengatakan itu adalah bulan Safar yang dianggap sial oleh orang jahiliyah
Yang terakhir ini penting: orang-orang jahiliyah menganggap bulan Safar sebagai bulan sial, sehingga mereka menunda pernikahan atau perjalanan di bulan tersebut. Islam datang menghapus keyakinan ini. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menegaskan bahwa keyakinan semacam ini adalah kebatilan murni.
2. Makna "Hamah"
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa orang jahiliyah meyakini jika ada seseorang terbunuh, maka rohnya berubah menjadi burung malam (hamah) yang terus-menerus berteriak di sekitar kuburnya, meminta agar darahnya dibalaskan. Keyakinan ini adalah khurafat yang sangat batil.
Dalam riwayat Abu Dawud ini, Atha' bin Abi Rabah (seorang tabi'in terkemuka) dengan tegas membantah keyakinan ini dengan mengatakan: "Itu bukan roh manusia. Itu adalah hewan." Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat tegas dalam membantah khurafat dan takhayul.
3. Prinsip Tathayyur (Merasa Sial)
Para ulama membedakan antara:
- Thiyarah/Tathayyur: merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu (burung, binatang, angka, dll) — ini diharamkan dan termasuk kesyirikan kecil
- Fa'l (optimisme): berbaik sangka kepada Allah ketika mendengar hal yang baik — ini dibolehkan bahkan disunnahkan
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa tathayyur adalah bentuk kesyirikan karena hati bergantung kepada selain Allah dalam menentukan baik-buruknya nasib. Ini bertentangan dengan tauhid.
4. Hikmah Larangan Ini
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa larangan tathayyur ini memiliki hikmah besar:
- Membersihkan tauhid dari ketergantungan kepada selain Allah
- Menghilangkan kecemasan dan ketakutan yang tidak berdasar
- Mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, bukan karena pengaruh benda atau makhluk
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang tathayyur. Beliau bersabda:
"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik." Kemudian beliau melanjutkan: "Akan tetapi Allah menghilangkan (kesialan) itu dengan tawakkal kepada-Nya." (HR. Abu Dawud no. 3910, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Para ulama menjelaskan bahwa obat dari penyakit tathayyur adalah tawakkal kepada Allah. Ketika seseorang bersandar sepenuhnya kepada Allah dan yakin bahwa tidak ada yang bisa memberikan manfaat atau mudharat kecuali dengan izin Allah, maka hatinya akan tenang dan terbebas dari khurafat.
Imam Sufyan ats-Tsauri pernah berkata: "Tidak ada seorang pun yang lebih banyak terkena tathayyur kecuali orang yang paling lemah imannya. Adapun orang yang kuat imannya, ia bertawakkal kepada Allah dan tidak peduli dengan hal-hal semacam itu."
Kesimpulan Praktis
- Tinggalkan semua bentuk takhayul — baik itu merasa sial karena burung, angka, tanggal, bulan, atau kejadian tertentu. Semua itu adalah kebatilan.
- Perkuat tauhid dan tawakkal — yakinlah bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat atau menolak mudharat kecuali Allah semata.
- Ganti tathayyur dengan tafa'ul — jika mendengar hal yang baik, berbaik sangkalah kepada Allah. Ini adalah akhlak Nabi ﷺ.
- Jangan menyebarkan keyakinan batil — sebagaimana Atha' bin Abi Rabah membantah keyakinan tentang hamah, kita pun harus berani meluruskan keyakinan yang salah di masyarakat.
- Rujuklah ulama — jika ada persoalan yang tidak jelas, kembalikan kepada ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.