Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3915 tentang Larangan takhayul dan keyakinan buruk pada safar

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ meniadakan dua keyakinan batil dari zaman Jahiliyah: pertama, keyakinan tentang "hāmah" (burung hantu yang diyakini keluar dari kuburan orang mati), dan kedua, keyakinan tentang "ṣafar" (anggapan bahwa bulan Safar membawa sial atau penyakit menular dengan sendirinya). Nabi ﷺ meluruskan bahwa semua itu adalah keyakinan batil yang tidak berpengaruh apa pun, karena segala sesuatu terjadi dengan takdir dan kehendak Allah semata.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

لَا يُصِيبُ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak (juga) menimpa dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."

(QS. Al-Hadid [57]: 22)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Ramalan dan Takhayul, Bab Mengenai Takhayul, no. 3915. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (merasa sial karena sesuatu), tidak ada hāmah, dan tidak ada ṣafar."

(HR. Al-Bukhari no. 5757, Muslim no. 2220)

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk kaidah penting dalam masalah tauhid dan tawakkal kepada Allah, serta bantahan terhadap keyakinan Jahiliyah yang mengaitkan pengaruh pada selain Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bantahan terhadap empat keyakinan batil masyarakat Jahiliyah:

1. "Lā 'adwā" (tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya)

Maksudnya, penyakit tidak menular dengan sendirinya tanpa izin Allah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa penularan penyakit itu nyata secara medis, tetapi yang ditiadakan oleh Nabi ﷺ adalah keyakinan bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya, terlepas dari takdir Allah. Maka seorang mukmin tetap boleh mengambil sebab (seperti menjauhi orang sakit menular), namun hatinya tetap bergantung kepada Allah.

2. "Lā thiyarah" (tidak ada merasa sial karena sesuatu)

Yaitu merasa sial karena melihat burung, binatang, atau kejadian tertentu. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menyebutkan bahwa thiyarah adalah kesyirikan karena hati bergantung kepada selain Allah. Beliau menukil perkataan sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa thiyarah adalah syirik.

3. "Lā hāmah" (tidak ada burung hāmah)

Muhammad bin Rasyid menjelaskan dalam hadits ini bahwa orang-orang Jahiliyah meyakini jika seseorang meninggal dan dikuburkan, maka keluar dari kuburnya seekor burung (hāmah) yang terus berteriak minta dibalaskan kematiannya. Ini adalah keyakinan batil yang ditiadakan oleh Nabi ﷺ.

4. "Lā ṣafar" (tidak ada kesialan bulan Safar)

Ada dua penafsiran yang disebutkan dalam hadits ini:

  • Pertama, orang Jahiliyah menganggap bulan Safar sebagai bulan sial, sehingga mereka mengundurkan pernikahan atau perjalanan di bulan tersebut.
  • Kedua, sebagian ulama menafsirkan ṣafar sebagai penyakit di perut yang diyakini menular dengan sendirinya.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ meniadakan semua keyakinan ini untuk membersihkan hati umat dari ketergantungan kepada selain Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa keyakinan seperti ini termasuk bentuk syirik kecil karena hati berpaling dari tawakkal kepada Allah dan bergantung kepada makhluk atau hal-hal yang tidak berpengaruh apa pun.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, kami tinggal di rumah yang banyak penghuninya dan banyak rezekinya, lalu kami pindah ke rumah lain yang sedikit penghuninya dan sedikit rezekinya." Maka Nabi ﷺ bersabda:

ذَرُوهَا ذَمِيمَةً

"Tinggalkanlah rumah itu (yang kalian anggap sial), karena ia tercela."

(HR. Abu Dawud no. 3924, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membolehkan pindah dari tempat yang dianggap sial sebagai bentuk menghilangkan was-was, namun hati tetap tidak boleh meyakini bahwa tempat itu yang membawa sial. Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya agar tidak terjebak dalam keyakinan yang merusak tauhid.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meyakini sial karena bulan, hari, angka, atau tempat tertentu — semua itu tidak berpengaruh apa pun tanpa izin Allah.
  2. Tetap berikhtiar dan mengambil sebab — seperti menjauhi penyakit menular, namun hati tetap bertawakkal kepada Allah.
  3. Jika terlintas perasaan sial, maka lanjutkan aktivitas dan jangan hiraukan, karena Nabi ﷺ bersabda bahwa thiyarah adalah syirik.
  4. Perbanyak doa dan dzikir agar hati tenang dan terlindung dari was-was setan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.