Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3911 tentang Larangan mempercayai takhayul dan infeksi penyakit

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua hal penting sekaligus. Pertama, meniadakan keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara independen dari takdir Allah, begitu juga meniadakan keyakinan pada kesialan (thiyarah), bulan Safar yang dianggap sial, dan burung hantu (hamah) sebagai pembawa kabar buruk. Kedua, hadits ini tetap mengajarkan kita untuk mengambil langkah pencegahan (ikhtiar) dengan tidak mencampurkan hewan yang sakit dengan hewan yang sehat, karena ini adalah bagian dari sunnah Nabi ﷺ. Jadi, kita harus menyerahkan urusan kepada Allah setelah berusaha, bukan malah meyakini sebab-sebab yang bertentangan dengan tauhid.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.

Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah." (QS. At-Taghabun [64]: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan izin Allah, bukan karena kekuatan sebab-sebab semata.

Hadits Terkait:

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

"Tidak ada 'adwa (penularan penyakit dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (merasa sial karena sesuatu), tidak ada hamah (burung hantu), dan tidak ada shafar (bulan yang dianggap sial)." (HR. Al-Bukhari no. 5757)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk salah satu hadits yang membahas tentang tauhid dan keyakinan yang benar. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa maksud dari "tidak ada 'adwa" adalah meniadakan keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, bukan meniadakan fakta bahwa penyakit bisa menular.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat hati-hati, karena di satu sisi hadits ini meniadakan penularan penyakit, namun di sisi lain ada hadits lain yang memerintahkan untuk menjauhi orang yang sakit kusta seperti menjauhi singa. Maka para ulama menggabungkan kedua dalil ini dengan penjelasan yang indah.

Penjelasan Imam Ibn Rajab al-Hanbali:

Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa makna "لا عدوى" (tidak ada 'adwa) adalah meniadakan keyakinan bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara alami, tanpa campur tangan Allah. Karena jika seseorang meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, maka ini adalah bentuk kesyirikan, karena ia meyakini ada sebab yang bekerja di luar kehendak Allah.

Namun, beliau juga menjelaskan bahwa larangan untuk mencampurkan hewan yang sakit dengan yang sehat adalah perintah untuk mengambil langkah pencegahan. Ini bukan karena penularan terjadi dengan sendirinya, tetapi karena Allah menjadikan penularan sebagai sebab yang biasa terjadi. Maka kita diperintahkan untuk menjauhi sebab-sebab tersebut sebagai bentuk ikhtiar dan kepatuhan kepada syariat.

Penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani:

Dalam Fath al-Bari, Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan fakta bahwa penyakit bisa menular. Yang ditiadakan adalah keyakinan bahwa penularan terjadi secara independen tanpa izin Allah. Beliau menukil perkataan Imam al-Khattabi bahwa makna hadits ini adalah meniadakan keyakinan orang-orang Jahiliyah yang menganggap bahwa penyakit menular dengan sendirinya secara alami, bukan meniadakan fakta penularan itu sendiri.

Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:

Syaikh al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini memiliki dua sisi:

  1. Sisi keyakinan (tauhid): Kita tidak boleh meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya, karena ini menafikan takdir Allah. Yang menularkan penyakit hanyalah Allah.
  2. Sisi syariat (ikhtiar): Kita tetap diperintahkan untuk menjauhi sebab-sebab penularan, seperti tidak mencampurkan hewan sakit dengan hewan sehat. Ini adalah bentuk ketaatan kepada perintah Nabi ﷺ, bukan karena meyakini sebab tersebut bekerja dengan sendirinya.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama:

Ada sebagian ulama yang memahami hadits ini secara tekstual, bahwa penyakit tidak menular sama sekali. Namun pendapat yang lebih kuat dan dipilih oleh mayoritas ulama dari kalangan Ahlus Sunnah adalah yang menggabungkan antara hadits ini dengan hadits larangan mencampurkan hewan sakit dengan sehat, yaitu:

  • Penyakit tidak menular dengan sendirinya secara independen.
  • Namun Allah menjadikan penularan sebagai sebab yang biasa terjadi.
  • Maka kita diperintahkan untuk menjauhi sebab tersebut sebagai bentuk ikhtiar, sambil tetap meyakini bahwa yang menularkan hanyalah Allah.

Hikmah dari Kisah dalam Hadits:

Dalam hadits ini, ada seorang Arab Badui yang bertanya kepada Nabi ﷺ: "Bagaimana bisa unta yang sehat di padang pasir seperti kijang (sangat sehat), lalu datang unta yang berpenyakit kudis, lalu menulari unta-unta yang sehat tersebut?"

Nabi ﷺ menjawab dengan pertanyaan yang sangat dalam: "Siapa yang menulari unta yang pertama?"

Maksudnya, dari mana penyakit itu berasal pada unta yang pertama? Jika penyakit itu bisa menular dengan sendirinya, lalu siapa yang menulari unta yang pertama kali terkena penyakit? Ini menunjukkan bahwa semua berasal dari Allah, dan penularan hanyalah sebab yang Allah ciptakan.

Story Telling

Imam az-Zuhri meriwayatkan bahwa Abu Salamah berkata: "Abu Hurairah pernah meriwayatkan hadits ini, dan aku tidak pernah mendengar Abu Hurairah melupakan satu hadits pun kecuali hadits ini."

Ini menunjukkan betapa hati-hatinya para sahabat dalam meriwayatkan hadits. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, yang dikenal sebagai perawi hadits terbanyak, pernah lupa atau ragu dalam meriwayatkan hadits ini karena kompleksitasnya. Namun kemudian beliau meriwayatkannya dengan lengkap setelah diingatkan.

Ada kisah menarik tentang Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, mencapai lebih dari 5.000 hadits. Beliau selalu berusaha untuk tidak melupakan satu hadits pun yang didengarnya dari Nabi ﷺ. Suatu ketika, beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian: sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk shalat, dan sepertiga untuk mengulang hadits-hadits Nabi ﷺ. Inilah sebabnya beliau hafal begitu banyak hadits.

Namun dalam hadits ini, beliau sempat ragu karena ada dua riwayat yang tampak bertentangan: hadits "tidak ada 'adwa" dan hadits "jangan mencampurkan unta sakit dengan unta sehat". Maka beliau pun berhati-hati dalam meriwayatkannya. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadits Nabi ﷺ, dan mereka tidak ragu untuk mengakui jika ada keraguan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meyakini kesialan (thiyarah): Jangan pernah merasa sial karena melihat burung tertentu, angka tertentu, atau kejadian tertentu. Semua itu adalah keyakinan Jahiliyah yang dihapus oleh Islam.
  2. Jangan meyakini bulan Safar membawa sial: Ini adalah keyakinan orang-orang Jahiliyah yang telah dihapus oleh Nabi ﷺ.
  3. Tetap berikhtiar dan mengambil langkah pencegahan: Meskipun kita tidak meyakini penularan dengan sendirinya, kita tetap diperintahkan untuk menjaga kesehatan dan menjauhi sebab-sebab penyakit. Ini adalah bentuk ketaatan kepada syariat.
  4. Serahkan hasil kepada Allah: Setelah berikhtiar, kita bertawakal kepada Allah. Karena yang menentukan sakit atau sehat hanyalah Allah.
  5. Jangan menyalahkan orang sakit: Orang yang sakit bukanlah pembawa sial. Kita tetap harus bersikap baik kepada mereka, hanya saja kita mengambil langkah pencegahan yang diajarkan syariat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?