Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 33 tentang Larangan menggunakan tangan kanan untuk istinja

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu membiasakan menggunakan tangan kanan untuk hal-hal yang baik dan mulia, seperti bersuci (wudhu, mandi) dan makan. Sebaliknya, tangan kiri digunakan untuk hal-hal yang dianggap kotor atau tidak menyenangkan, seperti membersihkan diri dari najis (istinja'). Ini adalah bagian dari kesempurnaan akhlak dan pengagungan terhadap sunnah Nabi ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda berikan, dengan harakat lengkap):

<p>حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنِي عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كَانَتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْيُمْنَى لِطُهُورِهِ وَطَعَامِهِ وَكَانَتْ يَدُهُ الْيُسْرَى لِخَلاَئِهِ وَمَا كَانَ مِنْ أَذًى .</p>

Terjemahan: Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Tangan Rasulullah ﷺ yang kanan digunakan untuk bersuci dan makan, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk bersuci dari hadas (istinja') dan hal-hal yang tidak menyenangkan."

Hadits Pendukung dari Shahih Muslim:

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

<p>كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ</p>

"Adalah Nabi ﷺ suka mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam semua urusannya." (HR. Al-Bukhari no. 168, Muslim no. 268)

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman (tentang keutamaan orang-orang yang bersih dan berpegang pada adab):

QS. At-Taubah [9]: 108

<p>لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ</p>

"Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama lebih berhak engkau melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersuci." (QS. At-Taubah [9]: 108)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 3, hlm. 160) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya mendahulukan anggota tubuh kanan dalam hal-hal yang mulia, dan menggunakan kiri untuk hal-hal yang kotor. Beliau menegaskan bahwa ini adalah adab yang disepakati oleh para ulama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (jilid 1, hlm. 267) saat menjelaskan hadits Aisyah di atas, beliau menyebutkan bahwa para ulama membagi perkara menjadi tiga: (1) perkara yang dimuliakan, maka sunnah menggunakan kanan; (2) perkara yang kotor, maka sunnah menggunakan kiri; (3) perkara yang netral, maka boleh keduanya, namun kanan lebih utama.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil utama dalam bab adab harian seorang muslim. Mari kita bedah maknanya secara mendalam:

1. Makna "Tangan Kanan untuk Bersuci dan Makan"

Yang dimaksud "bersuci" di sini adalah thaharah dari hadas, yaitu wudhu dan mandi janabah. Para ulama menjelaskan bahwa dalam berwudhu, disunnahkan mendahulukan anggota kanan (tangan kanan, kaki kanan) sebelum yang kiri. Ini berdasarkan hadits Aisyah di atas dan hadits-hadits lain yang semakna.

Adapun "makan" menggunakan tangan kanan adalah perintah yang tegas. Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda kepada Umar bin Abi Salamah:

<p>يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ</p>

"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di dekatmu." (HR. Al-Bukhari no. 5376, Muslim no. 2022)

2. Makna "Tangan Kiri untuk Hal yang Tidak Menyenangkan"

Yang dimaksud "khala'ihi" adalah buang air besar/kecil (istinja'), dan "ma kana min adza" adalah segala hal yang dianggap kotor, seperti membersihkan ingus, meludah di tempat kotor, atau membuang sesuatu yang menjijikkan.

3. Hukum Menggunakan Tangan Kiri untuk Istinja'

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum istinja' dengan tangan kiri:

  • Jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa menggunakan tangan kiri untuk istinja' adalah sunnah dan dianjurkan. Dasarnya adalah hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.
  • Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya menyatakan bahwa istinja' dengan tangan kiri adalah wajib jika tidak ada air atau batu. Namun pendapat yang lebih kuat dalam madzhabnya adalah sunnah, bukan wajib.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (jilid 1, hlm. 78) menjelaskan: "Para ulama sepakat bahwa menggunakan tangan kiri untuk istinja' adalah sunnah yang dianjurkan. Bahkan sebagian ulama mewajibkannya, namun pendapat yang benar adalah sunnah. Yang penting, seorang muslim tidak boleh menggunakan tangan kanannya untuk membersihkan najis."

4. Hikmah di Balik Adab Ini

  • Menghormati tangan kanan sebagai simbol kemuliaan dan keberkahan.
  • Melatih jiwa untuk selalu bersih dan menjauhi hal-hal yang kotor.
  • Menunjukkan kesempurnaan syariat Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan, bahkan hal sekecil ini.
  • Meneladani Nabi ﷺ dalam setiap gerak-geriknya, karena kecintaan kepada beliau berarti mengikuti beliau dalam segala hal.

5. Peringatan dari Imam Al-Barbahari

Imam Al-Barbahari dalam kitabnya Syarhus Sunnah (hlm. 78) berkata: "Ketahuilah bahwa Islam itu adalah sunnah, dan sunnah itu adalah Islam. Tidaklah seseorang berpegang pada sunnah kecuali ia akan menjadi orang yang istiqamah." Ini menunjukkan bahwa adab-adab kecil seperti ini adalah bagian dari kesempurnaan beragama.

Story Telling

Dahulu, ada seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Suatu hari, ia melihat seorang pemuda makan dengan tangan kirinya. Abu Hurairah pun menegurnya dengan lembut:

"Wahai anakku, makanlah dengan tangan kananmu."

Pemuda itu menjawab, "Aku tidak bisa, aku kidal."

Abu Hurairah berkata, "Kalau begitu, jangan pernah makan lagi!" Maksudnya, ia menegur dengan tegas agar pemuda itu membiasakan diri menggunakan tangan kanan, karena itu adalah sunnah Nabi ﷺ.

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat perhatian terhadap adab-adab kecil yang diajarkan Nabi ﷺ. Mereka tidak menganggap remeh hal-hal seperti ini, karena mereka paham bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah ketaatan kepada Allah Ta'ala.

(Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 1191, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 908)

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan menggunakan tangan kanan untuk hal-hal yang mulia: makan, minum, berwudhu, mandi, memakai pakaian, memberi salam, dan menerima sesuatu.
  2. Gunakan tangan kiri untuk hal-hal yang kotor: istinja', membersihkan kotoran, dan membuang hal-hal yang menjijikkan.
  3. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak sejak dini, karena ini adalah bagian dari pendidikan akhlak Islam.
  4. Jangan meremehkan adab-adab kecil, karena kesempurnaan iman terletak pada mengikuti Nabi ﷺ dalam segala hal, baik besar maupun kecil.
  5. Jika seseorang memiliki uzur (seperti kidal atau cacat), maka ia boleh menggunakan tangan yang memudahkannya, karena Allah tidak membebani seseorang melampaui kemampuannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?