Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi setiap muslim. Intinya, jika seorang hamba terbiasa melakukan amal saleh, lalu ia terhalang oleh sakit atau safar (perjalanan), maka Allah tetap mencatat pahala amalnya secara penuh, sebagaimana ia melakukannya dalam keadaan sehat dan mukim (tidak safar). Ini adalah bentuk kemurahan dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang memiliki tekad dan kebiasaan baik, namun terhalang oleh uzur yang tidak ia inginkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab "Jika Seseorang Melakukan Amal Saleh tetapi Terganggu oleh Penyakit atau Perjalanan", nomor 3091. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya.
Teks Arab Hadits:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى، وَمُسَدَّدٌ، - الْمَعْنَى - قَالاَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنِ الْعَوَّامِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّكْسَكِيِّ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ يَقُولُ " إِذَا كَانَ الْعَبْدُ يَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحًا فَشَغَلَهُ عَنْهُ مَرَضٌ أَوْ سَفَرٌ كُتِبَ لَهُ كَصَالِحِ مَا كَانَ يَعْمَلُ وَهُوَ صَحِيحٌ مُقِيمٌ "
Terjemahan: "Jika seorang hamba melakukan amal saleh, kemudian ia terganggu oleh penyakit atau perjalanan, maka apa yang biasa ia lakukan ketika sehat dan tinggal di rumah akan dicatat untuknya."
Dalil Penguat dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ
"Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit..." (QS. An-Nur [24]: 61)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan keringanan dan tidak memberatkan orang-orang yang memiliki uzur. Hadits ini semakin memperjelas bahwa bukan hanya dihapus dosanya, tetapi pahala amalnya tetap ditulis sempurna.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam bab "niyyah" (niat) dan "al-'azm" (tekad yang kuat). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa pahala amal itu bisa tetap ditulis karena dua hal: karena niat yang tulus dan karena kebiasaan amal yang sudah mendarah daging dalam diri seorang hamba.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam menjelaskan makna hadits-hadits semacam ini menekankan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Jika seorang hamba memiliki kebiasaan shalat malam, puasa sunnah, sedekah, atau amal lainnya, lalu ia sakit atau safar sehingga tidak bisa melakukannya, maka Allah tetap menuliskan pahala amalnya secara sempurna. Ini adalah keutamaan yang murni dari Allah, bukan karena amalnya, tetapi karena rahmat-Nya.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa orang yang bertekad melakukan kebaikan, lalu terhalang oleh uzur, maka ia dicatat sebagai orang yang melakukan kebaikan tersebut. Bahkan dalam sebagian riwayat, pahalanya bisa berlipat karena niatnya yang kuat dan kesedihannya karena tidak bisa beramal.
Perbedaan kecil di kalangan ulama adalah apakah pahala ini ditulis sempurna seperti saat sehat, atau lebih besar? Sebagian ulama seperti Imam Ibn Rajab al-Hanbali cenderung mengatakan bahwa pahala bisa lebih besar, karena orang yang sakit atau safar itu sedang diuji, dan kesabarannya atas uzur tersebut juga bernilai pahala di sisi Allah. Namun yang jelas dan disepakati, pahala amalnya tidak hilang dan tetap ditulis sempurna.
Poin penting: Hadits ini berlaku bagi orang yang sudah terbiasa beramal saleh. Adapun orang yang tidak pernah beramal, lalu malas, maka tidak termasuk dalam hadits ini. Karena hadits ini berbunyi "kaana ya'malu" (ia biasa melakukan), menunjukkan adanya kebiasaan yang sudah ada sebelumnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian salaf sangat bersedih ketika mereka sakit dan tidak bisa beramal. Mereka khawatir pahala amalnya terputus. Namun ketika mereka mengetahui hadits ini, hati mereka menjadi tenang.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah sakit di penjara. Beliau tetap melakukan apa yang bisa dilakukan: berdzikir, merenung, dan berdoa. Ketika ditanya tentang keadaannya, beliau berkata dengan penuh keyakinan, "Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku? Jika mereka memenjarakanku, maka penjara itu adalah khalwat (menyendiri) untuk beribadah. Jika mereka mengusirku, maka itu adalah safar di jalan Allah. Dan jika mereka membunuhku, maka itu adalah syahadah." Ini menunjukkan keyakinan seorang ulama bahwa uzur tidak menghalangi pahala, bahkan bisa menjadi ladang pahala baru.
Kesimpulan Praktis
- Jaga kebiasaan amal saleh selagi sehat dan mampu. Karena kebiasaan inilah yang akan dicatat pahalanya saat kita terhalang.
- Jangan bersedih berlebihan saat sakit atau safar sehingga meninggalkan amal. Yakinlah Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-Nya.
- Perbanyak niat baik. Jika terhalang, niat yang tulus untuk tetap beramal akan dicatat oleh Allah.
- Ganti dengan amal yang bisa dilakukan. Jika tidak bisa shalat berdiri, shalatlah duduk. Jika tidak bisa puasa, bisa berdzikir dan berdoa.
- Jadikan sakit dan safar sebagai momen mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauhkan diri dari-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.