Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab penting dalam berjihad: seorang muslim tidak boleh menginginkan atau merindukan pertempuran, tetapi hendaknya memohon keselamatan kepada Allah. Namun jika pertempuran benar-benar terjadi, maka wajib bersabar, teguh, dan yakin bahwa kemenangan serta surga berada di balik kesabaran dan pengorbanan di jalan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 216
وَكُتُبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Terjemahan: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Abi Aufa (radhiyallahu 'anhu), sahabat Nabi ﷺ, dan dicatat oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab tentang kebencian menginginkan pertemuan dengan musuh (no. 2631). Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) dengan lafaz yang semakna.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan tamanni liqa' al-'aduww (menginginkan pertemuan dengan musuh) adalah bentuk tarbiyah Nabi ﷺ agar seorang muslim tidak sombong dengan kekuatannya sendiri, melainkan selalu bergantung kepada Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa makna "jangan menginginkan pertemuan dengan musuh" adalah jangan berangan-angan berperang tanpa kebutuhan, karena bisa jadi ia binasa atau tergelincir. Yang diminta adalah al-'afiyah (keselamatan).
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa doa Nabi ﷺ "Allahumma munzilal kitab..." adalah doa istighotsah (memohon pertolongan) saat pasukan bertemu musuh, dan ini sunnah yang dianjurkan.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Nabi ﷺ mengajarkan tiga prinsip dalam menghadapi musuh:
- Larangan menginginkan pertempuran — Seorang muslim tidak boleh berangan-angan atau merindukan perang, karena perang adalah sesuatu yang berat dan penuh risiko. Ini sejalan dengan QS. Al-Baqarah [2]: 216 bahwa perang itu kurhun (tidak disukai). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa meskipun perang terkadang wajib, tabiat manusia normal tidak menyukainya; maka janganlah mencari-cari.
- Perintah memohon al-'afiyah — Al-'afiyah mencakup keselamatan agama, jiwa, dan kehormatan. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa memohon al-'afiyah lebih utama daripada memohon ujian, karena al-'afiyah adalah nikmat yang sering dilupakan. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa al-'afiyah adalah pokok segala kebaikan dunia dan akhirat.
- Kesabaran saat bertemu musuh — Jika pertempuran tak terhindarkan, maka wajib shabr (sabar) dan tsabat (teguh). Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa sabar di medan perang adalah kewajiban hati yang paling agung, dan barang siapa yang lari tanpa alasan syar'i maka ia berdosa besar.
Makna "surga di bawah naungan pedang":
Ini adalah ungkapan kinayah (kiasan) yang maknanya: jalan menuju surga adalah melalui perjuangan dan pengorbanan di jalan Allah. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maknanya bukanlah pedang itu sendiri yang memasukkan ke surga, melainkan kesabaran dan keikhlasan dalam mengangkat senjata di jalan Allah. Ibn Qayyim menambahkan bahwa ini menunjukkan bahwa kemuliaan surga diperoleh dengan harga yang mahal.
Doa Nabi ﷺ:
Doa "Allahumma munzilal kitab, wa mujriyas sahab, wa hazimal ahzab, ihzimhum wanshurna 'alaihim" mengandung tiga sifat Allah yang sesuai dengan konteks pertempuran:
- Munzilal kitab (Yang menurunkan Kitab) — karena pertolongan datang melalui wahyu dan janji Allah.
- Mujriyas sahab (Yang menggerakkan awan) — karena Allah yang mengatur alam semesta, termasuk cuaca dan kondisi medan perang.
- Hazimal ahzab (Yang mengalahkan pasukan sekutu) — mengingatkan peristiwa Perang Khandaq ketika Allah mengalahkan Ahzab dengan badai.
Perbedaan pendapat ulama:
Sebagian ulama seperti Al-Awza'i dan Al-Layts bin Sa'd memahami larangan ini sebagai larangan tamanni secara mutlak, sedangkan Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad memahami bahwa larangan ini berlaku ketika tidak ada kebutuhan, adapun jika musuh menyerang maka wajib melawan. Pendapat yang paling kuat adalah yang disebutkan Ibnu Hajar: larangan ini bersifat tarbawi (pendidikan), bukan larangan syar'i yang mutlak, karena Nabi ﷺ sendiri pernah berdoa memohon syahadah.
Story Telling
Dikisahkan oleh Salim Abu An-Nadhr, sekretaris 'Umar bin 'Ubaidillah bin Ma'mar, bahwa Abdullah bin Abi Aufa (radhiyallahu 'anhu) — seorang sahabat yang ikut dalam Bai'atur Ridhwan — menulis surat kepadanya ketika 'Umar keluar menghadapi kelompok Haruriyyah (Khawarij). Dalam surat itu, Ibnu Abi Aufa mengingatkan hadits Nabi ﷺ ini.
Hikmahnya: Ibnu Abi Aufa, meskipun sudah tua dan tidak ikut berperang, tetap menasihati pemimpin pasukan dengan ilmu dari Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa nasihat ilmiah adalah bentuk jihad juga. Dan hadits ini menjadi pegangan para sahabat ketika menghadapi fitnah Khawarij — mereka tidak menginginkan pertempuran, tetapi ketika harus berperang, mereka bersabar dan teguh.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) mengatakan: "Nabi ﷺ pernah bersabda: 'Janganlah kalian menginginkan pertemuan dengan musuh, dan jika kalian bertemu mereka, bersabarlah.'" Ini menunjukkan betapa pentingnya adab ini dalam Islam.
Kesimpulan Praktis
- Jangan merindukan konflik — Baik dalam perang fisik maupun dalam kehidupan sehari-hari, jangan mencari-cari masalah atau pertengkaran. Mohonlah keselamatan kepada Allah.
- Perbanyak doa al-'afiyah — Doa "Allahumma inni as'alukal 'afiyah" adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ dan sangat dianjurkan.
- Sabar saat ujian datang — Jika konflik tak terhindarkan, bersabarlah, jangan panik, dan yakinlah bahwa pertolongan Allah dekat.
- Bergantung kepada Allah, bukan pada kekuatan sendiri — Doa Nabi ﷺ menunjukkan bahwa kemenangan datang dari Allah, bukan dari jumlah atau persenjataan semata.
- Jadikan ilmu sebagai senjata — Seperti Ibnu Abi Aufa yang menasihati dengan hadits, sampaikanlah kebenaran dengan cara yang lembut dan berdasarkan dalil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.