Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita doa dan dzikir ketika hendak berkendara, dimulai dengan bismillah saat akan menaiki kendaraan, alhamdulillah ketika telah duduk di atasnya, lalu membaca doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an (QS. Az-Zukhruf: 13-14), kemudian diikuti dengan dzikir alhamdulillah, Allahu Akbar, dan doa ampunan. Yang paling indah dari hadits ini adalah kabar bahwa Allah 'ajiba (merasa kagum/senang) kepada hamba-Nya yang memohon ampunan sambil meyakini bahwa tiada yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Ini adalah pelajaran tentang adab berkendara sekaligus pelajaran tentang keikhlasan dan pengharapan hanya kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang dibaca dalam hadits ini:
Allah ﷻ berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَ ۙ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
"Maha Suci Allah yang telah menundukkan (kendaraan) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (QS. Az-Zukhruf [43]: 13-14)
2. Hadits yang sedang dijelaskan:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab "Apa yang Diucapkan Seorang Laki-laki Ketika Naik Kendaraan", nomor 2602, dari Ali bin Rabi'ah, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dan para ulama menilainya hasan atau shahih.
3. Kaitan dengan ulama dalam daftar:
- Imam Abu Dawud (w. 275 H) memuat hadits ini dalam kitab Sunan-nya sebagai bentuk pengamalan sunnah dalam perjalanan.
- Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) juga meriwayatkan hadits ini dalam Sunan-nya dan menjelaskan bahwa hadits ini hasan shahih.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) menilai hadits ini shahih dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih At-Tirmidzi.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) sering menyebutkan hadits ini dalam pembahasan adab perjalanan dan doa safar, menekankan pentingnya membaca dzikir ini ketika berkendara.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung adab yang sangat lengkap ketika seseorang hendak berkendara, baik itu kendaraan di zaman dahulu (unta, kuda) maupun kendaraan modern (mobil, motor, pesawat). Mari kita rinci satu per satu:
1. Mengucapkan Bismillah saat akan menaiki kendaraan
Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu meletakkan kakinya di stirrup (pijakan kendaraan), beliau mengucapkan bismillah. Ini mengajarkan kita bahwa setiap aktivitas yang dimulai dengan nama Allah akan membawa keberkahan dan perlindungan. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa membaca bismillah di awal setiap perkara yang penting adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ.
2. Mengucapkan Alhamdulillah ketika telah duduk di atas kendaraan
Setelah duduk dengan mantap, beliau mengucapkan alhamdulillah sebagai rasa syukur kepada Allah yang telah memudahkan dan menundukkan kendaraan tersebut. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menundukkan kendaraan bagi manusia adalah bentuk kasih sayang Allah, dan sudah sepantasnya manusia bersyukur atas nikmat ini.
3. Membaca doa dari Al-Qur'an (QS. Az-Zukhruf: 13-14)
Kemudian beliau membaca ayat yang mulia ini. Syaikh as-Sa'di menjelaskan bahwa makna "subhanalladzi sakhkhara lana hadza" adalah kita mengakui bahwa Allah-lah yang menundukkan kendaraan ini, dan kita sendiri tidak mampu menundukkannya dengan kekuatan kita. Kata "muqrinin" artinya kita tidak mampu menguasainya. Ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan kendaraan yang kita miliki, karena sesungguhnya Allah-lah yang menundukkannya.
4. Dzikir Alhamdulillah tiga kali dan Allahu Akbar tiga kali
Setelah membaca ayat tersebut, Ali bin Abi Thalib mengucapkan alhamdulillah tiga kali dan Allahu Akbar tiga kali. Ini adalah bentuk pengagungan dan pujian kepada Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dzikir dengan pengulangan tiga kali adalah kebiasaan Nabi ﷺ dalam banyak doa, sebagai bentuk penekanan dan penguatan makna.
5. Doa ampunan: Subhanaka inni zhalamtu nafsi...
Kemudian beliau membaca doa: "Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau." Doa ini adalah pengakuan atas kelemahan diri dan dosa-dosa yang telah diperbuat, serta keyakinan penuh bahwa hanya Allah yang bisa mengampuni.
6. Keajaiban: Allah 'ajiba (kagum) kepada hamba-Nya
Bagian paling menarik dari hadits ini adalah ketika Nabi ﷺ tertawa setelah membaca doa tersebut. Ketika ditanya, beliau menjelaskan bahwa Allah ya'jabu (merasa kagum/senang) kepada hamba-Nya yang memohon ampunan sambil meyakini bahwa tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain Allah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa 'ajab (kekaguman) Allah adalah sifat yang layak bagi Allah, bukan seperti kekaguman manusia yang disebabkan oleh ketidaktahuan. Kekaguman Allah di sini adalah bentuk keridhaan dan penghargaan-Nya kepada hamba yang memiliki keyakinan yang benar tentang pengampunan Allah. Hamba tersebut tahu bahwa dosanya hanya bisa diampuni oleh Allah, maka ia langsung memohon kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya. Ini menunjukkan kesempurnaan tauhid dan keikhlasan hamba tersebut.
7. Pelajaran tentang perjalanan sebagai pengingat akhirat
Syaikh as-Sa'di menjelaskan bahwa dalam ayat "wa inna ila rabbina lamunqalibun" (dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami) terdapat pelajaran bahwa perjalanan di dunia ini mengingatkan kita pada perjalanan terakhir kita, yaitu kembali kepada Allah. Ketika kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hendaknya kita ingat bahwa suatu saat kita akan berpindah dari dunia ini menuju akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan doa-doa Nabi ﷺ dalam berbagai kesempatan. Suatu hari, ketika beliau hendak menaiki kendaraannya, beliau melakukan persis seperti yang dicontohkan Nabi ﷺ. Para sahabat yang hadir memperhatikan dengan seksama.
Ketika beliau tertawa setelah membaca doa ampunan, para sahabat merasa heran dan bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu tertawa?" Beliau menjawab, "Aku melihat Nabi ﷺ melakukan seperti yang aku lakukan, kemudian beliau tertawa. Aku bertanya kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?' Beliau menjawab, 'Tuhanmu merasa kagum kepada hamba-Nya ketika ia berkata: "Ampunilah dosa-dosaku," sementara ia mengetahui bahwa tidak ada yang mengampuni dosa selain Allah.'"
Kisah ini menunjukkan betapa dekatnya para sahabat dengan Nabi ﷺ, mereka memperhatikan setiap gerakan dan ucapan beliau, lalu meneladaninya dengan sempurna. Ali bin Abi Thalib tidak hanya menghafal doanya, tetapi juga meniru cara beliau tertawa, karena beliau paham bahwa dalam setiap perilaku Nabi ﷺ terdapat hikmah dan pelajaran.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan membaca bismillah ketika hendak menaiki kendaraan, baik kendaraan darat, laut, maupun udara.
- Ucapkan alhamdulillah setelah duduk dengan mantap di atas kendaraan sebagai rasa syukur.
- Baca doa safar yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu QS. Az-Zukhruf: 13-14, kemudian alhamdulillah tiga kali, Allahu Akbar tiga kali, dan doa ampunan.
- Jadikan perjalanan sebagai momen mengingat Allah dan akhirat, karena setiap kali kita berpindah tempat, kita diingatkan bahwa suatu saat kita akan kembali kepada Allah.
- Perbanyak istighfar dan doa ampunan dalam setiap kesempatan, terutama saat bepergian, dengan keyakinan penuh bahwa hanya Allah yang bisa mengampuni dosa.
- Jangan sombong dengan kendaraan yang kita miliki, karena sesungguhnya Allah-lah yang menundukkannya bagi kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.