Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kisah indah antara Nabi ﷺ dan istrinya, Aisyah radhiyallahu 'anha, tentang sebuah perlombaan lari. Kisah ini menunjukkan bahwa bermain dan bercanda dengan keluarga adalah perkara yang dibolehkan dalam Islam, selama tidak melanggar syariat. Hadits ini juga mengajarkan tentang sportivitas, tidak mudah tersinggung, dan bagaimana seorang suami atau ayah bisa mencairkan suasana dengan cara yang penuh kasih sayang dan kelembutan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab Perlombaan dengan Kaki, no. 2578. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Majah, dan Imam ad-Darimi dengan redaksi yang serupa.
Teks Hadits (Arab berharakat):
حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ الأَنْطَاكِيُّ، مَحْبُوبُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، - يَعْنِي الْفَزَارِيَّ - عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، وَعَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي سَفَرٍ قَالَتْ فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَىَّ فَلَمَّا حَمَلْتُ اللَّحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي فَقَالَ " هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ " .
Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Aku berlomba lari dengannya, dan aku berhasil mendahuluinya. Ketika aku telah bertambah gemuk, aku berlomba lagi dengannya, dan beliau berhasil mendahuluiku. Maka beliau bersabda: 'Ini sebagai balasan untuk kekalahanku yang dahulu.'"
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini menunjukkan bahwa para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Abu Dawud yang memasukkannya dalam kitab Sunan-nya, dan Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkannya dalam Musnad-nya, menganggap bahwa kisah ini memiliki faedah dan pelajaran penting dalam adab bermuamalah, khususnya dalam kehidupan rumah tangga. Para ulama seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini sebagai hadits yang shahih (sahih) dalam Shahih Abi Dawud.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu bukti nyata bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan keluarganya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Mari kita telaah beberapa poin penting:
- Kebolehan Berlomba dan Bermain: Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa berlomba lari atau aktivitas fisik lainnya yang tidak mengandung unsur dosa adalah perkara yang dibolehkan. Ini adalah bagian dari mubah (boleh). Bahkan, Rasulullah ﷺ sendiri yang mempraktekkannya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk bersenang-senang dan berolahraga, selama tidak melalaikan kewajiban.
- Adab Bergaul dengan Istri: Kisah ini adalah contoh terbaik dalam bergaul dengan istri. Rasulullah ﷺ tidak merasa gengsi atau marah ketika dikalahkan oleh istrinya dalam lomba lari. Beliau menerimanya dengan lapang dada dan senyuman. Kemudian, ketika beliau menang di perlombaan kedua, beliau mengucapkan kalimat yang sangat indah, "Ini sebagai balasan untuk kekalahanku yang dahulu." Kalimat ini menunjukkan kelembutan dan kecerdasan beliau dalam berkomunikasi. Beliau tidak berkata, "Aku menang," dengan nada sombong, tetapi beliau mengaitkannya dengan kekalahan sebelumnya, seolah-olah itu adalah sebuah permainan yang menyenangkan antara dua orang yang saling mencintai.
- Tidak Ada Sifat Sombong: Kemenangan dan kekalahan adalah hal biasa dalam sebuah perlombaan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana menyikapinya. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak sombong saat menang dan tidak larut dalam kesedihan saat kalah. Beliau mencontohkan bagaimana menjadikan kemenangan sebagai bahan candaan yang penuh kasih sayang, bukan untuk merendahkan orang lain.
- Kisah Ini Menunjukkan Kemanusiaan Nabi ﷺ: Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang memiliki istri dan kehidupan rumah tangga. Beliau tidak hanya sibuk dengan ibadah dan dakwah, tetapi juga meluangkan waktu untuk bercanda dan bermain dengan keluarganya. Ini adalah pelajaran bagi para suami dan ayah agar tidak melupakan hak-hak keluarga dalam kesibukan mereka.
Pandangan Ulama: Para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim dan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari seringkali membawakan hadits-hadits seperti ini untuk menjelaskan bab tentang kebolehan bermain dan bercanda, serta menjelaskan adab-adab dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menekankan bahwa hal ini adalah bagian dari mu'amalah (hubungan antar sesama) yang baik dan dianjurkan dalam Islam.
Story Telling
Kisah ini adalah salah satu dari sekian banyak momen indah dalam rumah tangga Nabi ﷺ. Imam Ibnu Katsir dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah meriwayatkan kisah-kisah yang menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ kepada keluarganya. Aisyah radhiyallahu 'anha sering menceritakan momen-momen seperti ini untuk menunjukkan bahwa meskipun beliau adalah seorang Nabi dan Rasul, beliau tetaplah seorang suami yang penyayang dan menyenangkan bagi istrinya.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu harus dibangun dengan hal-hal yang besar dan serius. Terkadang, momen-momen kecil seperti bermain, bercanda, dan berlomba bersama justru menjadi perekat cinta dan kasih sayang yang paling kuat. Ini adalah sunnah yang sering dilupakan oleh banyak orang.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Luangkan waktu untuk keluarga. Jangan biarkan kesibukan membuat kita lupa untuk bercanda dan bermain dengan istri dan anak-anak.
- Terimalah kekalahan dengan lapang dada. Jangan mudah marah atau tersinggung dalam sebuah permainan.
- Jadilah pribadi yang tidak sombong saat menang. Gunakan kemenangan untuk mencairkan suasana, bukan untuk merendahkan orang lain.
- Jadikan momen kebersamaan sebagai sarana untuk menumbuhkan kasih sayang. Ini adalah bagian dari ibadah jika diniatkan untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan membahagiakan keluarga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.