Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa ukuran seseorang disebut "berjihad di jalan Allah" bukanlah pada bentuk perbuatannya, melainkan pada niat dan tujuannya. Siapa pun yang berperang dengan tujuan menjadikan kalimat Allah (tauhid dan agama-Nya) sebagai yang tertinggi, dialah yang benar-benar berada di jalan Allah. Adapun yang berperang karena riya', pujian, harta, atau kedudukan, maka ia tidak termasuk dalam keutamaan ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 190
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Terjemahan: "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
QS. At-Taubah [9]: 40 (potongan yang relevan)
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Terjemahan: "Ketika dia (Nabi) berkata kepada sahabatnya: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab "Siapa yang Berperang untuk Menjadikan Kalimat Allah yang Tertinggi", dari jalur Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Hafsh bin Umar ← Syu'bah ← Amr bin Murrah ← Abu Wa'il ← Abu Musa.
Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari Al-Bukhari dan Muslim dari jalur Abu Musa dengan lafaz yang semakna, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi ﷺ tentang empat jenis peperangan yang dilakukan manusia: (1) berperang untuk mendapatkan nama/kedudukan, (2) berperang agar dipuji, (3) berperang untuk mendapatkan harta rampasan, dan (4) berperang untuk menunjukkan keberanian dan posisinya. Pertanyaannya: siapa di antara mereka yang berada di jalan Allah?
Nabi ﷺ tidak menjawab dengan menyebut salah satu dari empat motivasi tersebut, melainkan memberikan kaidah universal: "Barangsiapa berperang hingga kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Allah."
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil bahwa amal perbuatan dinilai berdasarkan niat dan tujuan. Beliau menegaskan bahwa "kalimat Allah" di sini bermakna tauhid, dakwah kepada Allah, dan meninggikan agama-Nya — bukan sekadar kemenangan fisik atau ekspansi politik.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa jihad yang sah adalah yang tujuannya murni untuk meninggikan kalimat Allah, bukan untuk kepentingan pribadi. Beliau juga mengutip pendapat Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak bahwa niat adalah pondasi seluruh amal, termasuk jihad.
Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa "kalimat Allah yang tertinggi" mencakup dua hal: (1) menegakkan tauhid dan menghancurkan syirik, dan (2) menegakkan keadilan dan syariat Allah di muka bumi. Beliau menekankan bahwa jihad bukanlah tujuan untuk memperoleh kekuasaan, melainkan sarana untuk meninggikan agama Allah.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sengaja tidak menyebutkan keempat motivasi tersebut sebagai "di jalan Allah" karena semuanya mengandung unsur riya' atau kepentingan duniawi. Beliau juga menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dasar bagi para ulama dalam menetapkan syarat niat ikhlas dalam jihad.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa "kalimat Allah" adalah tauhid dan agama Islam secara keseluruhan. Beliau juga menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa setiap amal, termasuk jihad, haruslah ditujukan untuk Allah semata.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menambahkan bahwa hadits ini tidak hanya berlaku untuk jihad perang, tetapi juga berlaku untuk seluruh amal kebaikan: dakwah, menuntut ilmu, dan berinfak — semuanya harus ditujukan untuk meninggikan kalimat Allah.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama dalam daftar, seperti Al-Awza'i dan Al-Layts bin Sa'd, menekankan bahwa hadits ini berbicara dalam konteks perang fisik. Namun, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam memperluas maknanya: setiap usaha untuk meninggikan kalimat Allah — baik dengan lisan, tulisan, harta, maupun jiwa — termasuk dalam makna hadits ini. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang memperluas makna selama tetap dalam koridor syariat, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Taymiyyah dan Ibn Qayyim.
Story Telling
Dikisahkan oleh Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud — bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ dengan pertanyaan yang sangat mendasar. Orang Badui ini hidup di tengah masyarakat yang menjadikan perang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia melihat banyak orang berperang, tetapi ia bingung: mana yang benar-benar di jalan Allah?
Nabi ﷺ — dengan hikmah kenabiannya — tidak menjawab dengan panjang lebar, melainkan memberikan satu kaidah yang jelas dan tegas: "Barangsiapa berperang hingga kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dia di jalan Allah."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa jawaban Nabi ﷺ ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam setiap amal. Bahkan dalam medan perang yang penuh dengan kekacauan dan bahaya, niat tetap menjadi penentu apakah seseorang berada di jalan Allah atau tidak.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam mengomentari bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk selalu memeriksa niat sebelum beramal. Beliau berkata: "Betapa banyak orang yang beramal besar, tetapi niatnya rusak, sehingga amalnya menjadi sia-sia. Dan betapa banyak orang yang beramal kecil, tetapi niatnya ikhlas, sehingga amalnya menjadi besar di sisi Allah."
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki niat sebelum beramal. Setiap amal, termasuk jihad, dakwah, dan menuntut ilmu, harus ditujukan untuk meninggikan kalimat Allah, bukan untuk pujian, harta, atau kedudukan.
- "Kalimat Allah yang tertinggi" mencakup tauhid, dakwah, dan penegakan syariat Allah di muka bumi — sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taymiyyah dan Ibn Qayyim.
- Jihad tidak hanya identik dengan perang fisik. Ibnu Rajab al-Hanbali memperluas maknanya: setiap usaha untuk meninggikan agama Allah — dengan lisan, tulisan, harta, atau jiwa — termasuk dalam makna hadits ini.
- Hindari riya' dalam beramal. Hadits ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang beramal untuk mendapatkan pujian manusia, karena amal tersebut tidak termasuk "di jalan Allah".
- Belajar dari para ulama dalam memahami niat. Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Rajab sepakat bahwa niat adalah pondasi seluruh amal, dan hadits ini adalah salah satu dalil utamanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.