Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini membagi jihad/peperangan menjadi dua jenis: (1) perang yang diniatkan untuk mencari wajah Allah, disertai ketaatan kepada pemimpin, kedermawanan, akhlak baik terhadap rekan, dan menjauhi kerusakan — maka seluruh aktivitasnya, bahkan tidur dan bangunnya, bernilai pahala; dan (2) perang yang diniatkan untuk pamer, mencari reputasi, disertai kemaksiatan kepada pemimpin dan membuat kerusakan — maka pelakunya pulang tanpa membawa kebaikan apa pun. Intinya: niat dan ketaatan adalah penentu nilai amal, bukan sekadar bentuk lahiriahnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Bayyinah [98]: 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab "Siapa yang Berperang dan Mencari Dunia" (no. 2515), dari jalur Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu.
Hadits pendukung tentang niat — dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa hadits niat menjadi timbangan seluruh amal, termasuk jihad.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ikhlas adalah ruh amal, dan riya' menghapus pahalanya.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan dan Al-Fawaid menekankan bahwa amal lahiriah tanpa niat ikhlas seperti jasad tanpa ruh.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
1. Dua jenis peperangan berdasarkan niat
Nabi ﷺ membagi ghazw (perang) menjadi dua:
- Pertama: perang yang diniatkan ibtigha' wajhillah (mencari wajah Allah). Ciri-cirinya:
- Mencari wajah Allah — inilah asas ikhlas. Ibn Qayyim dalam Al-Fawaid menyatakan bahwa ikhlas adalah membebaskan amal dari campuran syirik dan riya'.
- Taat kepada imam — sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa' [4]: 59 tentang ketaatan kepada ulil amri. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam perkara yang bukan maksiat adalah bagian dari agama.
- Menginfakkan harta yang berharga (al-karimah) — yaitu harta yang dicintai, sebagaimana QS. Ali Imran [3]: 92. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan kedermawanan di jalan Allah.
- Memperlakukan rekan dengan lembut (yasarasy syarik) — berbagi tunggangan, bekal, dan tidak menyusahkan sesama mujahid. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menekankan pentingnya akhlak baik dalam berjihad.
- Menjauhi kerusakan (ijtinab al-fasad) — tidak merusak, tidak berkhianat, tidak melampaui batas.
Balasannya: tidur dan bangunnya seluruhnya bernilai pahala. Ini menunjukkan keutamaan besar — bahkan istirahatnya pun dicatat sebagai amal, karena seluruh hidupnya diarahkan untuk ketaatan. Ibn Rajab menyebutkan bahwa ini termasuk keutamaan orang yang ikhlas: seluruh gerak-geriknya bernilai ibadah.
- Kedua: perang yang diniatkan fakhran wa riya'an wa sum'atan (bangga diri, pamer, dan mencari reputasi), disertai:
- Maksiat kepada imam ('ashal imam)
- Membuat kerusakan di bumi (afsada fil ardh)
Balasannya: tidak pulang dengan kafaf — yaitu tidak mendapatkan apa yang diharapkan, tidak pula selamat dari dosa. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang beramal untuk selain Allah akan kehilangan pahala di akhirat, sebagaimana QS. Al-Furqan [25]: 23.
2. Perbedaan pendapat ulama tentang derajat hadits
Para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan hadits ini. Imam al-Bukhari dan sebagian ulama hadits menilai bahwa dalam sanadnya terdapat Baqiyyah bin al-Walid yang dikenal melakukan tadlis, dan Buhair bin Sa'd yang diperselisihkan keadaannya oleh Yahya bin Ma'in dan Abu Hatim ar-Razi. Namun Abu Dawud tetap meriwayatkannya, dan maknanya diperkuat oleh hadits-hadits lain tentang niat. Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini hasan karena adanya syawahid (penguat).
Yang paling kuat: makna hadits ini shahih dan didukung oleh dalil-dalil lain, meskipun sanadnya diperbincangkan. Ini adalah kaidah yang disepakati para ulama: niat menentukan nilai amal.
3. Pelajaran tentang riya' dalam amal jihad
Fudhail bin 'Iyadh — seorang ulama salaf yang dikenal zuhud — berkata bahwa amal yang ikhlas adalah yang paling bersih dari riya', dan yang paling benar adalah yang sesuai sunnah. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa jihad yang tidak didasari ikhlas dan ittiba' tidak akan bermanfaat di akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak — seorang ulama yang juga dikenal sebagai mujahid di perbatasan Romawi — pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena marah (semangat), apakah itu termasuk jihad? Beliau menjawab dengan tegas bahwa jihad harus didasari niat mencari wajah Allah. Beliau sendiri terkenal sebagai ulama yang berjihad di siang hari dan menulis kitab di malam hari, menunjukkan bahwa ilmu dan jihad bisa berjalan bersama dengan niat yang benar.
Kisah ini — yang masyhur dalam biografi beliau — mengajarkan bahwa jihad yang benar adalah jihad yang lahir dari ilmu dan ikhlas, bukan sekadar semangat atau emosi.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki niat sebelum beramal — termasuk dalam hal-hal yang tampak "besar" seperti jihad, dakwah, atau amal sosial. Niat adalah penentu nilai.
- Taat kepada pemimpin dalam perkara yang bukan maksiat adalah bagian dari agama, bukan kelemahan.
- Bersikap baik kepada rekan dalam perjuangan — berbagi, tidak menyusahkan, dan menjauhi kerusakan.
- Jauhi riya', sum'ah, dan kebanggaan diri — karena semua itu menghapus pahala.
- Ingatlah bahwa amal yang ikhlas — bahkan istirahatnya — bisa bernilai pahala di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.