Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengajarkan puasa hari 'Asyura dilakukan pada hari kesembilan bulan Muharram, bukan hanya hari kesepuluh. Beliau menegaskan bahwa Nabi ﷺ memang berpuasa pada hari itu. Ini menunjukkan sunnah berpuasa Tasu'a (9 Muharram) bersama 'Asyura (10 Muharram).
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Apa yang Diriwayatkan tentang Puasa Hari 'Asyura (no. 2446), dari jalan Al-Hakam bin Al-A'raj dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Hadits pendukung yang sangat masyhur dan menjadi dasar utama puasa hari kesembilan adalah riwayat dari Ibnu Abbas juga:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ». قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ.
"Ketika Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya, para sahabat berkata: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jika datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.' Ibnu Abbas berkata: 'Belum datang tahun depan hingga Rasulullah ﷺ wafat.'" (HR. Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Adapun ayat yang menjadi landasan umum ketaatan dan mengikuti perintah Rasul ﷺ:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (QS. Al-Hasyr [59]: 7)
Penjelasan Rinci
Imam Abu Dawud meriwayatkan atsar ini dalam bab khusus tentang puasa 'Asyura. Al-Hakam bin Al-A'raj datang menemui Ibnu Abbas — seorang sahabat yang dikenal luas ilmunya dalam tafsir dan fiqih — yang sedang bersandar di Masjidil Haram. Pertanyaan Al-Hakam tentang puasa 'Asyura dijawab dengan tuntunan praktis: hitunglah bulan Muharram, dan berpuasalah pada hari kesembilan.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penunjukan hari kesembilan oleh Ibnu Abbas bukan sekadar ijtihad pribadi, melainkan pemahaman dari hadits Nabi ﷺ yang menyebutkan niat beliau berpuasa pada hari kesembilan tahun berikutnya. Ini menunjukkan bahwa sunnah puasa 'Asyura yang sempurna mencakup hari kesembilan dan kesepuluh.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat puasa 'Asyura hukumnya sunnah, dan sebagian besar mereka menyatakan bahwa berpuasa pada hari kesembilan bersama kesepuluh lebih utama, karena itulah yang diniatkan Nabi ﷺ. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama seperti Imam asy-Syafi'i dan para pengikutnya menganjurkan puasa tiga hari: kesembilan, kesepuluh, dan kesebelas, untuk lebih berhati-hati dalam menyelisihi ahli kitab.
Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad merinci tingkatan puasa 'Asyura: (1) yang paling rendah hanya hari kesepuluh, (2) yang lebih baik hari kesembilan dan kesepuluh, (3) yang paling sempurna ditambah hari kesebelas. Beliau menegaskan bahwa puasa hari kesembilan adalah sunnah yang ditekankan karena menyelisihi Yahudi.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhis Shalihin menegaskan bahwa berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh adalah sunnah yang jelas, dan tidak ada dalil shahih yang menetapkan puasa hari kesebelas secara khusus dari Nabi ﷺ, meski sebagian ulama menganjurkannya sebagai kehati-hatian.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa puasa 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu, dan disunnahkan menambahkan hari kesembilan agar berbeda dari Yahudi. Beliau juga menyebutkan bahwa jika seseorang hanya berpuasa hari kesepuluh saja, puasanya tetap sah dan tetap mendapatkan keutamaan, namun menyelisihi yang lebih utama.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma — yang dalam hadits ini menjawab dengan penuh ketenangan sambil bersandar di Masjidil Haram — adalah seorang sahabat yang didoakan Nabi ﷺ: "Ya Allah, berilah dia pemahaman dalam agama dan ajarkanlah dia takwil (tafsir)." (HR. Ahmad, dari Ibnu Abbas). Karena itu, jawaban beliau tentang puasa hari kesembilan bukanlah pendapat sembarangan, melainkan buah dari pemahaman mendalam terhadap sunnah Nabi ﷺ.
Al-Hakam bin Al-A'raj, seorang tabi'in yang meriwayatkan atsar ini, bertanya dengan penuh adab, lalu memastikan: "Apakah Muhammad ﷺ melakukan puasa ini?" Ibnu Abbas menjawab tegas: "Begitulah Muhammad ﷺ biasa berpuasa." Ini menunjukkan bahwa para salaf tidak hanya mengajarkan amalan, tetapi juga menegaskan sumbernya langsung kepada Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Puasa 'Asyura disunnahkan, dan yang paling utama adalah berpuasa pada hari kesembilan (Tasu'a) dan kesepuluh ('Asyura) bulan Muharram.
- Jika hanya mampu berpuasa satu hari, hari kesepuluh tetap sah dan berpahala, namun menyelisihi Yahudi dengan menambah hari kesembilan lebih utama.
- Sebagian ulama menganjurkan menambah hari kesebelas sebagai kehati-hatian, meski tidak ada perintah tegas dari Nabi ﷺ.
- Puasa 'Asyura menghapus dosa setahun yang lalu (HR. Muslim dari Abu Qatadah), sebagai rahmat Allah bagi umat ini.
- Hendaknya kita mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dan pemahaman para sahabat seperti Ibnu Abbas, serta penjelasan ulama Ahlus Sunnah, tanpa berlebihan (ghuluw) dan tanpa meremehkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.