Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2349 tentang Batas waktu sahur adalah terangnya siang dan gelapnya malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kejadian sahabat mulia 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu yang salah memahami ayat tentang batas waktu sahur. Beliau mengira "benang putih" dan "benang hitam" itu tali sungguhan, lalu Nabi ﷺ menjelaskan dengan lembut sambil tertawa bahwa maksudnya adalah terangnya siang dan gelapnya malam. Pelajarannya: kita wajib merujuk pemahaman kepada Nabi ﷺ dan para ulama, tidak menafsirkan sendiri dengan akal semata.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait — QS. Al-Baqarah [2]: 187

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makanlah serta minumlah, sehingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab Waktu Sahur (no. 2349), dari sahabat 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu.
  • Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dan Muslim dari 'Adi bin Hatim dengan lafaz serupa (disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari).

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan hadits ini dalam Fathul Bari sebagai dalil bahwa ayat Al-Qur'an tidak boleh ditafsirkan dengan akal semata tanpa merujuk kepada penjelasan Nabi ﷺ.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tawadhu Nabi ﷺ dan kelembutan beliau dalam mengajar sahabat yang keliru.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Baqarah [2]: 187 menjelaskan bahwa yang dimaksud "benang putih" adalah cahaya fajar (subuh), dan "benang hitam" adalah kegelapan malam.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Ketika ayat 187 dari Surah Al-Baqarah turun, sebagian sahabat memahami lafaz "benang putih" dan "benang hitam" secara literal (harfiah) sebagai tali berwarna putih dan hitam. 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu — yang saat itu belum masuk Islam atau baru masuk Islam — melakukan hal itu: beliau meletakkan dua tali di bawah bantalnya dan menunggu sampai bisa membedakannya, tetapi tidak berhasil. Lalu beliau bertanya kepada Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ tertawa karena kekeliruan pemahaman tersebut, kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah terangnya siang (fajar) dan gelapnya malam.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menyimpulkan beberapa faedah:
  • Bolehnya tertawa karena keheranan terhadap kekeliruan pemahaman, selama tidak merendahkan.
  • Wajibnya bertanya kepada ahli ilmu ketika tidak memahami dalil.
  • Ayat Al-Qur'an harus dipahami sesuai penjelasan Nabi ﷺ, bukan dengan tafsir bebas.
  1. Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan:
  • Kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajar.
  • Bahwa sahabat pun bisa salah paham, sehingga tidak ada manusia yang ma'shum (terjaga dari kesalahan) selain Nabi ﷺ.
  • Anjuran untuk tidak malu bertanya dalam urusan agama.
  1. Ibn Katsir (dalam Tafsir-nya) menegaskan bahwa makna ayat adalah: makan sahur diperbolehkan sampai terbitnya fajar shadiq (fajar yang benar), yang ditandai dengan munculnya cahaya putih di ufuk timur yang membedakan dari kegelapan malam.
  2. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zadul Ma'ad) menjelaskan bahwa batas sahur adalah fajar shadiq, bukan fajar kadzib (cahaya putih yang muncul sesaat lalu hilang). Ini penting agar kaum muslimin tidak keliru dalam menentukan waktu imsak.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Tidak ada perbedaan pendapat mendasar di antara ulama daftar tentang makna hadits ini. Semua sepakat bahwa "benang putih" dan "benang hitam" adalah kiasan (majaz) untuk fajar dan malam. Perbedaan hanya pada teknis penentuan fajar shadiq, yang dibahas dalam kitab-kitab fiqih seperti Al-Mughni (Ibnu Qudamah — di luar daftar, jadi tidak dijadikan rujukan utama) dan Bidayatul Mujtahid. Namun kesimpulan yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur: batas sahur adalah terbitnya fajar shadiq.

Story Telling

Dikisahkan oleh 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu — seorang pemimpin kabilah Thay yang terkenal dermawan dan kemudian masuk Islam:

> "Ketika ayat 'Hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam' turun, aku mengambil seutas tali putih dan seutas tali hitam, lalu aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Aku melihatnya di malam hari, tetapi tidak bisa membedakannya. Maka aku pun menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal itu. Beliau tertawa dan bersabda: 'Sesungguhnya bantalmu itu sangat lebar dan panjang; yang dimaksud adalah malam dan siang.'"

Hikmah dari kisah ini:

  • Kesalahan 'Adi bin Hatim bukan karena bodoh, tetapi karena beliau memahami ayat secara literal sebelum ada penjelasan dari Nabi ﷺ.
  • Nabi ﷺ tidak marah, tetapi tertawa dan menjelaskan dengan lembut — ini adalah teladan dalam berdakwah.
  • Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu bertanya kepada ahli ilmu ketika menemui kesulitan memahami dalil.

Sumber: Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim sebagai bagian dari bab tentang tafsir dan adab bertanya.

Kesimpulan Praktis

  1. Batas sahur adalah fajar shadiq — cahaya putih yang membentang di ufuk timur, bukan sekadar cahaya sesaat (fajar kadzib).
  2. Jangan menafsirkan Al-Qur'an dengan akal sendiri tanpa merujuk kepada penjelasan Nabi ﷺ dan para ulama.
  3. Bertanyalah kepada ahli ilmu ketika tidak memahami dalil — ini adalah jalan keselamatan.
  4. Teladani kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajar dan menegur kesalahan.
  5. Perbanyak syukur karena Allah telah memudahkan kita memahami agama melalui para ulama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?