Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tiga situasi di mana Nabi Ibrahim `alaihissalam` melakukan sesuatu yang secara lahir tampak seperti kebohongan, namun para ulama menjelaskan bahwa itu bukan dusta hakiki. Dua di antaranya adalah tawriyah (mengatakan sesuatu yang benar secara makna lain) untuk menegakkan tauhid, dan satu lagi adalah rukhshah (keringanan) darurat untuk melindungi jiwa. Sikap ini tidak boleh dijadikan alasan untuk berbohong dalam urusan biasa, melainkan merupakan kekhususan kondisi genting yang memiliki dalil kuat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
- Firman Allah tentang ucapan Ibrahim: "Sesungguhnya aku sakit." (QS. Ash-Shaffat [37]: 89)
Teks Arab:
فَقَالَ إِنِّي سَقِيمٌ
Terjemahan: Maka dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya aku sakit." (yufti ‘an nafsihi bi al-maradh li al-takhalluf ‘an al-‘id)
- Firman Allah tentang ucapan Ibrahim: "Bahkan yang melakukannya adalah berhala besar mereka ini." (QS. Al-Anbiya' [21]: 63)
Teks Arab:
قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ
Terjemahan: Dia (Ibrahim) berkata, "Sebenarnya yang melakukannya adalah berhala besar mereka ini; maka tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara."
Hadits:
Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Sunan Abu Dawud, Kitab Talak, Bab Talak, no. 2212; juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim secara ringkas). Teks hadits lengkap telah disebutkan dalam pertanyaan.
Penjelasan Ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (6/422) menjelaskan bahwa "kebohongan" yang dimaksud di sini adalah tawriyah (mengatakan sesuatu yang benar secara makna lain) atau khilaf dalam bentuk rukhshah karena darurat, bukan dusta yang diharamkan. Beliau menukil dari al-Khattabi bahwa bentuk pertama (إني سقيم) adalah tawriyah karena Ibrahim memang akan sakit (tidak dalam arti fisik saat itu, tetapi dalam makna bahwa ia akan terkena musibah jika ikut berhala).
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (15/103) menyatakan bahwa para ulama sepakat bahwa nabi-nabi terjaga dari dosa besar dan kecil yang menjatuhkan muru'ah, namun boleh melakukan tawriyah dan ta’wīl dalam kondisi darurat yang tidak sampai merusak akidah.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-‘Azhim (7/86) menjelaskan bahwa ucapan Ibrahim "sesungguhnya aku sakit" adalah ta’alluq bi al-majaz (makna kiasan) karena ia dalam keadaan sakit hati melihat penyembahan berhala, atau bahwa ia akan menjadi sakit jika terus bersama mereka. Adapun ucapan "Bahkan yang melakukannya adalah berhala besar ini" adalah bentuk tawriyah untuk menegakkan hujjah, karena secara hakikat berhala besar itu yang menjadi penyebab utama melalui rekayasa umat.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (6/48) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa tawriyah dalam kondisi darurat yang dibenarkan syariat bukanlah kebohongan yang diharamkan, karena niatnya adalah untuk menegakkan kebenaran dan melindungi diri dari kezaliman.
Penjelasan Rinci
Hadits ini sering disalahartikan oleh sebagian pihak yang menganggap bahwa berbohong diperbolehkan secara mutlak dalam kondisi "darurat" atau bahkan sebagai siasat dakwah. Namun, pemahaman yang benar harus dikembalikan kepada penjelasan para ulama Ahlus Sunnah:
- Makna kebohongan yang dinisbatkan kepada Ibrahim bukanlah dusta hakiki.
- Pertama: Ucapan "إِنِّي سَقِيمٌ" – Para ulama tafsir (seperti Mujahid dan Qatadah) menyatakan bahwa Ibrahim berkata demikian agar ditinggalkan sendirian saat kaumnya akan pergi ke perayaan berhala. Sebagian menafsirkan bahwa ia benar-benar akan sakit (sakit secara maknawi) karena tekanan kaumnya, atau bahwa ia menggunakan tawriyah – makna "sakit" bisa berarti lemah hati, atau sakit fisik di masa depan. Ini bukan dusta karena ia memiliki qarinah (indikasi) yang membenarkan perkataannya secara makna tersembunyi.
- Kedua: Ucapan "بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا" – Ini adalah bentuk tawriyah untuk menampar akal mereka. Secara hakikat, Ibrahim tidak mengatakan bahwa berhala besar benar-benar melakukan, tetapi ia mengarahkan mereka untuk bertanya kepada berhala-berhala tersebut (seolah-olah ada yang melakukannya). Dengan kata lain, perkataan itu mengandung ta'wīl bahwa "pelaku" adalah berhala besar dalam arti ia menjadi alasan utama (karena kaumnya menyembahnya).
- Ketiga: Ucapan Ibrahim kepada raja bahwa Sarah adalah "saudariku" – Ini adalah tawriyah karena dalam ikatan Islam mereka adalah saudara seiman, dan memang darurat untuk melindungi kehormatan istri dari kezaliman raja. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya (hadits 2215) bahwa Ibrahim berkata: "Aku dan dia tidak memiliki saudara dalam Islam selain Aku dan dia." Maka ucapan "saudariku" adalah benar secara majaz syar'i (saudara seiman).
- Para ulama sepakat bahwa tawriyah (mengatakan sesuatu yang bermakna ganda dengan niat makna yang benar) dibolehkan dalam kondisi darurat, seperti untuk menahan kezaliman atau melindungi jiwa, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim.
- Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Masail (no. 348) menyatakan bahwa tawriyah dibolehkan dalam kondisi perang, mendamaikan dua pihak, dan menjaga kehormatan keluarga.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ al-Fatawa (28/115) menjelaskan bahwa tawriyah yang dilakukan Ibrahim bukanlah kebohongan karena perkataan itu memiliki makna yang benar menurut syariat, dan dalam kondisi terpaksa ia tidak berdosa.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Fatawa Mar’ah menyebut bahwa tawriyah dalam kondisi seperti ini adalah rukbah (keringanan) yang diizinkan syariat, tetapi tetap tidak boleh dijadikan kebiasaan atau digunakan untuk urusan dunia yang sepele.
- Peringatan:
Hadits ini tidak boleh dijadikan dalil untuk membolehkan kebohongan secara umum. Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm (7/195) menegaskan bahwa kebohongan yang diharamkan adalah yang tidak ada rukbah darurat. Adapun tawriyah dalam kondisi sangat terbatas (seperti yang dilakukan Ibrahim) adalah pengecualian yang hanya berlaku dalam perkara besar yang menyangkut jiwa, kehormatan, dan penegakan tauhid. Oleh karena itu, seorang Muslim wajib menjaga lisannya dari dusta, kecuali dalam tiga hal yang telah disebutkan dalam hadits lain (perang, ishlah antara dua pihak, dan ucapan suami kepada istri) – dan itupun harus dengan tawriyah bukan kebohongan mutlak.
Story Telling
Kisah ketiga yang disebutkan dalam hadits adalah tentang perjalanan Nabi Ibrahim bersama Sarah menuju negeri seorang raja zalim. Ketika raja itu mendengar kecantikan Sarah, ia mengirim utusan untuk membawa Sarah. Ibrahim, yang sangat khawatir terhadap keselamatan dirinya dan istrinya, berkata kepada Sarah: "Wahai Sarah, tidak ada seorang pun di bumi ini yang beriman kepada Allah selain aku dan engkau. Jika raja itu bertanya tentangmu, katakanlah bahwa engkau adalah saudariku, karena engkau adalah saudariku dalam agama Allah." Sarah pun mengikuti petunjuk sang suami. Ketika raja hendak mendekatinya, Sarah berdoa kepada Allah, dan raja itu ditimpa kejang-kejang hingga ia sadar bahwa Sarah telah memohon perlindungan dari Tuhannya. Akhirnya raja itu mengembalikan Sarah kepada Ibrahim, bahkan memberi hadiah (seperti dijelaskan dalam riwayat al-Bukhari). Hikmah dari kisah ini adalah betapa besar kepercayaan Ibrahim kepada Allah, yang menggunakan tawriyah sebagai bentuk ikhtiar namun tetap bersandar sepenuhnya pada kekuasaan Allah. Sikap ini mengajarkan bahwa dalam keadaan terdesak, seorang Muslim boleh menggunakan cara-cara yang tidak melanggar prinsip syariat asalkan niatnya untuk melindungi yang hak dan tidak merugikan orang lain.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mudah menuduh Nabi Ibrahim berbohong; semua ucapannya adalah tawriyah yang dibenarkan syariat dengan argumen kuat dari para ulama Ahlus Sunnah.
- Tawriyah dibolehkan hanya dalam kondisi darurat yang sangat terbatas, seperti melindungi jiwa, kehormatan, atau mendamaikan perselisihan, dan harus dengan niat yang benar.
- Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim harus menjauhi dusta dan hanya menggunakan tawriyah apabila terpaksa dan tidak ada jalan lain yang halal.
- Pelajari kisah-kisah para nabi untuk mengambil ‘ibrah, bukan untuk mencari-cari celah pembenaran perbuatan tercela.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.