Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1889 tentang Cara Nabi berjalan cepat saat thawaf

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan salah satu sunnah dalam thawaf, yaitu idhthiba' (mengenakan selendang dengan cara meletakkan bagian tengahnya di bawah ketiak kanan dan ujungnya di atas bahu kiri sehingga bahu kanan terbuka), istiklam (menyentuh/mencium Hajar Aswad), takbir, dan raml (berjalan cepat dengan langkah pendek) pada tiga putaran pertama thawaf. Ini dilakukan Nabi ﷺ dan para sahabat saat Umrah Qadha di Makkah untuk menunjukkan kekuatan kepada kaum Quraisy. Ibnu Abbas رضي الله عنه menyatakan bahwa hal ini kemudian menjadi sunnah yang diikuti.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Sunan Abu Dawud no. 1889, Kitab Manasik, Bab ar-Raml. Perawi: Abdullah bin Abbas رضي الله عنه.

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan thawaf:

QS. Al-Hajj [22]: 29

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Terjemahan: "Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling Baitullah yang tua (Ka'bah)."

Hadits pendukung — Dari Ibnu Umar رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ apabila thawaf, beliau berlari-lari kecil (raml) pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat putaran berikutnya. (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).

Kaitan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa raml dan idhthiba' disyariatkan pada thawaf yang diikuti sa'i, terutama thawaf qudum bagi orang yang datang dari luar Makkah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa raml dilakukan pada tiga putaran pertama, dan hukumnya sunnah, bukan wajib.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ melakukan raml pada thawaf qudum dan thawaf umrah, serta menjelaskan hikmahnya sebagai simbol kekuatan kaum muslimin.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa thawaf adalah ibadah yang mengelilingi Ka'bah sebagai bentuk penghambaan dan pengagungan kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Makna idhthiba' (اضْطِبَاع):

Yaitu cara mengenakan kain/selendang dengan meletakkan bagian tengah kain di bawah ketiak kanan, lalu kedua ujungnya diletakkan di atas bahu kiri. Akibatnya, bahu kanan terbuka. Ini dilakukan khusus bagi laki-laki pada thawaf yang diikuti raml. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmahnya adalah menampakkan kekuatan dan menghilangkan kesan lemah di hadapan musuh.

Makna istiklam (اسْتَلَمَ):

Yaitu menyentuh atau mencium Hajar Aswad. Ibnu Abbas رضي الله عنه menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memulai thawaf dengan istiklam lalu bertakbir. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa istiklam disunnahkan pada setiap putaran jika memungkinkan, dan jika tidak memungkinkan karena berdesakan, cukup memberi isyarat.

Makna raml (رَمَلَ):

Yaitu berjalan cepat dengan langkah pendek dan dada dibusungkan, seolah-olah orang yang kuat. Ini dilakukan pada tiga putaran pertama thawaf. Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabat melakukan ini saat Umrah Qadha tahun 7 H, ketika kaum Quraisy menyaksikan dari kejauhan. Ketika para sahabat melewati sudut Yamani (yang tidak terlihat oleh Quraisy), mereka berjalan biasa, lalu ketika muncul kembali di hadapan Quraisy, mereka kembali berlari kecil. Kaum Quraisy pun berkata: "Mereka seperti rusa (yang melompat)."

Hukum dan penerapan:

  • Jumhur ulama (Malik, Syafi'i, Ahmad) berpendapat bahwa raml dan idhthiba' hukumnya sunnah pada thawaf qudum (thawaf kedatangan) dan thawaf umrah, khususnya bagi laki-laki.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa raml disunnahkan pada thawaf yang diikuti sa'i, dan tidak dilakukan pada thawaf ifadhah atau thawaf wada'.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma'arif menyebutkan bahwa syariat raml mengandung hikmah menampakkan syiar Islam dan kekuatan kaum muslimin.

Kesimpulan hukum: Yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa raml dan idhthiba' adalah sunnah pada tiga putaran pertama thawaf qudum/umrah bagi laki-laki, dan tidak dilakukan pada thawaf ifadhah dan thawaf wada'. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Qayyim.

Story Telling

Ibnu Abbas رضي الله عنه menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ dan para sahabat datang ke Makkah untuk Umrah Qadha pada tahun 7 H, kaum Quraisy telah menyebarkan kabar bahwa kaum muslimin datang dalam keadaan lemah karena penyakit demam Yatsrib. Maka Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk melakukan raml pada tiga putaran pertama thawaf, agar kaum Quraisy melihat kekuatan mereka. Ketika para sahabat melewati sudut Yamani yang tidak terlihat oleh Quraisy, mereka berjalan biasa untuk menghemat tenaga, lalu ketika kembali muncul di hadapan Quraisy, mereka kembali berlari kecil. Kaum Quraisy pun berkata: "Mereka seperti rusa." Ibnu Abbas berkata: "Oleh karena itu ini menjadi sunnah." (Diriwayatkan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).

Hikmahnya: Islam mengajarkan umatnya untuk menampakkan kekuatan dan tidak menunjukkan kelemahan di hadapan musuh, namun tetap dengan cara yang penuh hikmah dan tidak berlebihan.

Kesimpulan Praktis

  1. Idhthiba' dilakukan dengan meletakkan kain di bawah ketiak kanan dan ujungnya di atas bahu kiri, sehingga bahu kanan terbuka — khusus untuk laki-laki pada thawaf yang diikuti raml.
  2. Istiklam dilakukan dengan menyentuh atau mencium Hajar Aswad, dan jika tidak memungkinkan, cukup memberi isyarat.
  3. Raml dilakukan pada tiga putaran pertama thawaf qudum/umrah, dengan langkah cepat dan dada dibusungkan.
  4. Tidak melakukan raml pada thawaf ifadhah dan thawaf wada'.
  5. Hikmahnya adalah menampakkan kekuatan kaum muslimin dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?