Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1645 tentang Mengadu kemiskinan kepada Allah, bukan manusia

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa ketika seseorang ditimpa kesulitan ekonomi, janganlah ia menggantungkan harapan utamanya kepada manusia. Jika ia mengadukan dan meminta bantuan kepada manusia saja, maka kesulitannya tidak akan selesai. Tetapi jika ia mengadukan kesulitannya kepada Allah dengan penuh tawakal, maka Allah akan mencukupinya, baik dengan jalan kematian yang mengakhiri ujiannya atau dengan rezeki yang datang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Zakat, Bab tentang Meminta Pertolongan, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

<p>مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ</p>

Terjemahan: "Barangsiapa yang ditimpa kemiskinan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan teratasi; tetapi barangsiapa yang mengadukannya kepada Allah, niscaya Allah akan segera memberinya kecukupan, baik dengan kematian yang cepat atau dengan kecukupan yang datang kemudian."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tawakal dan kecukupan dari Allah:

QS. At-Talaq [65]: 2-3

<p>وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۞ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا</p>

Terjemahan: "Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan adab seorang mukmin dalam menghadapi kesulitan hidup, khususnya kemiskinan. Imam Abu Dawud meriwayatkannya dalam bab tentang meminta pertolongan, yang menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan dengan sikap yang benar dalam meminta bantuan.

Makna "mengadukannya kepada manusia" adalah menjadikan manusia sebagai tempat bergantung utama, meminta-minta kepada mereka, dan menggantungkan hati kepada mereka untuk menyelesaikan kesulitannya. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyatakan bahwa cara seperti itu tidak akan menutup kemiskinannya, karena manusia tidak memiliki kemampuan memberi kecukupan secara hakiki.

Makna "mengadukannya kepada Allah" adalah menjadikan Allah sebagai tempat meminta dan bersandar, disertai usaha yang halal dan tawakal yang benar. Maka Allah akan segera memberikan kecukupan, sebagaimana disebutkan dalam hadits: "أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى" (niscaya Allah akan segera memberinya kecukupan).

Dua bentuk kecukupan yang disebutkan:

  1. Kematian yang cepat — yaitu Allah mengakhiri ujian hidupnya dengan kematian, sehingga ia beristirahat dari kesulitan dunia. Ini adalah bentuk kecukupan karena seorang mukmin yang sabar akan mendapatkan pahala dan terbebas dari kesusahan.
  2. Kecukupan yang datang kemudian — yaitu Allah memberikan rezeki yang cukup di dunia, baik melalui jalan yang tidak disangka-sangka, pekerjaan yang halal, atau bantuan dari arah yang tidak terduga.

Pemahaman ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam penjelasan hadits-hadits tentang zakat dan tawakal menegaskan bahwa hadits ini bukan larangan berusaha atau meminta bantuan, tetapi larangan menggantungkan hati kepada manusia. Usaha tetap dilakukan, namun hati hanya bergantung kepada Allah.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa tawakal yang benar adalah menyertakan usaha lahiriah dengan ketergantungan hati kepada Allah. Beliau membagi tawakal menjadi beberapa tingkatan, dan yang paling utama adalah tawakal yang disertai usaha.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat "وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ" menunjukkan bahwa siapa yang bersandar kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya dalam urusan agama dan dunianya.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan agar seorang muslim tidak meminta-minta kepada manusia, karena meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak adalah perbuatan yang tercela. Namun jika dalam keadaan darurat, ia boleh meminta bantuan dengan tetap menjaga kehormatan diri.

Perbedaan pendapat: Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai makna hadits ini. Mereka sepakat bahwa hadits ini mengajarkan tawakal dan larangan menggantungkan diri kepada manusia secara berlebihan.

Story Telling

Diriwayatkan dalam kisah salaf, bahwa Abdullah bin al-Mubarak (salah satu perawi dalam sanad hadits ini) adalah seorang ulama yang sangat zuhud dan tawakal. Beliau pernah ditanya tentang seseorang yang jatuh miskin, lalu beliau menasihatkan agar orang itu memperbanyak istighfar dan tawakal kepada Allah, karena Allah telah menjanjikan kecukupan bagi orang yang bertakwa dan bertawakal. Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf mengamalkan kandungan hadits ini dalam kehidupan mereka.

Dalam kisah lain, Fudail bin 'Iyadh pernah berkata bahwa sesungguhnya seseorang yang mengadukan kesulitannya kepada manusia akan semakin jauh dari jalan keluar, karena ia telah menggantungkan harapannya kepada makhluk yang tidak memiliki daya dan upaya. Sedangkan orang yang mengadukan kesulitannya kepada Allah, maka Allah akan membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menggantungkan hati kepada manusia dalam menyelesaikan kesulitan hidup, karena manusia tidak memiliki kemampuan memberi kecukupan secara hakiki.
  2. Adukanlah segala kesulitan kepada Allah dengan doa, tawakal, dan usaha yang halal.
  3. Tetap berusaha dengan cara yang halal, namun hati hanya bersandar kepada Allah.
  4. Jangan meminta-minta kepada manusia tanpa kebutuhan yang mendesak, karena itu dapat menghilangkan kehormatan diri.
  5. Yakinlah bahwa Allah akan mencukupi hamba-Nya yang bertakwa dan bertawakal, baik dengan jalan yang tidak disangka-sangka maupun dengan mengakhiri ujiannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?