Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa dalam beragama, kita tidak boleh hanya menggunakan akal dan logika semata, tetapi harus berlandaskan pada wahyu dan sunnah Nabi ﷺ. Contohnya adalah cara mengusap khuf (kaus kaki/alas kaki) saat wudhu, di mana Nabi ﷺ mengusap bagian atasnya, bukan bawahnya, meskipun akal mungkin mengatakan bagian bawah lebih kotor dan lebih perlu dibersihkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Hasyr [59]: 7
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."
Hadits:
Hadits yang dimaksud adalah riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Thaharah, Bab Cara Mengusap, no. 162. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini menjadi dalil utama bagi para ulama Ahlus Sunnah dalam masalah mengusap khuf. Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan para ulama lainnya berpegang pada hadits ini bahwa yang disunnahkan adalah mengusap bagian atas khuf, bukan bawahnya. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya I'lam al-Muwaqqi'in sering menggunakan hadits ini sebagai contoh betapa pentingnya berpegang pada wahyu di atas akal dalam masalah ibadah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini sangat dalam maknanya. Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu, yang dikenal dengan kecerdasan dan ketajaman akalnya, justru menyampaikan sebuah pelajaran berharga. Beliau berkata, "Seandainya agama ini berdasarkan pendapat (akal semata), maka bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya."
Secara logika, bagian bawah khuf adalah yang menyentuh tanah, najis, dan kotoran. Tentu lebih masuk akal untuk mengusap dan membersihkannya. Namun, syariat Islam tidak datang untuk mengikuti logika manusia semata. Syariat datang dari Allah Yang Maha Mengetahui, yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Oleh karena itu, Sayyidina Ali melanjutkan, "Namun aku telah melihat Rasulullah ﷺ mengusap di atas kaus kakinya." Ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang hanya menggunakan akal dalam beragama. Ibadah adalah masalah tauqifiyah, artinya harus menunggu perintah dan contoh dari Nabi ﷺ. Kita tidak boleh beribadah dengan cara yang tidak dicontohkan, meskipun secara akal terlihat lebih baik.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ mengusap bagian atas khuf. Ini semakin menguatkan bahwa sunnahnya adalah mengusap bagian atas.
Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa ijma' (konsensus) ulama telah sepakat bahwa mengusap khuf itu disyariatkan, dan cara yang paling utama adalah mengusap bagian atasnya. Adapun mengusap bagian bawah, sebagian ulama membolehkannya sebagai tambahan, namun yang wajib dan sempurna adalah mengusap bagian atas.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abd Khair, ia berkata, "Aku melihat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berwudhu, lalu beliau mengusap bagian atas khufnya. Kemudian beliau berkata, 'Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ melakukannya, niscaya aku akan menganggap bagian bawah lebih utama untuk diusap.'" (HR. Abu Dawud)
Kisah ini menunjukkan betapa besar kecintaan para sahabat kepada sunnah Nabi ﷺ. Mereka meninggalkan logika mereka dan mengikuti apa yang mereka lihat dari Rasulullah ﷺ. Ini adalah pelajaran tentang ittiba' (mengikuti) dan bukan ibtida' (mengada-ada) dalam agama.
Kesimpulan Praktis
- Utamakan Sunnah di atas Akal: Dalam masalah ibadah, kita wajib mendahulukan dalil (Al-Qur'an dan Hadits) daripada pendapat atau logika pribadi.
- Cara Mengusap Khuf: Yang disunnahkan adalah mengusap bagian atas khuf, bukan bawahnya. Ini adalah amalan yang diajarkan Nabi ﷺ dan diikuti para sahabat.
- Tawadhu' dalam Berilmu: Kita harus rendah hati dan mengakui bahwa akal kita terbatas. Apa yang tampak tidak logis bagi kita, bisa jadi itulah yang terbaik di sisi Allah.
- Jangan Berdebat Tanpa Ilmu: Jika ada perbedaan pendapat, kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama salaf.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.