Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1381 tentang Mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil utama yang menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadar itu berada di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, dan Nabi ﷺ menyebutkan secara khusus malam-malam ganjil yang dihitung dari sisa malam, yaitu malam ke-21, ke-23, dan ke-25. Ini adalah petunjuk agar kita bersungguh-sungguh beribadah di malam-malam tersebut, terutama yang ganjil.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1381:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Bulan Ramadan, Bab Tentang Malam Al-Qadar, dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 2021) dengan lafaz yang semakna, dari sahabat Ibnu Abbas juga.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Qadr [97]: 1-3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

Penjelasan Ulama:

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang sangat mulia, di mana Al-Qur'an diturunkan, dan ibadah pada malam itu lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Beliau juga menukil pendapat para ulama bahwa malam tersebut berada di sepuluh malam terakhir Ramadan, dan yang paling kuat adalah di malam-malam ganjil.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ: "Carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam sembilan yang tersisa, tujuh yang tersisa, dan lima yang tersisa" — maksudnya adalah malam-malam ganjil dihitung dari akhir bulan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa perhitungan ini menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadar berpindah-pindah di antara malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir. Terkadang jatuh pada malam ke-21, terkadang ke-23, terkadang ke-25, dan seterusnya. Hikmahnya adalah agar seorang hamba bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya di satu malam saja.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa malam Lailatul Qadar itu berpindah-pindah (tidak tetap di satu malam tertentu) di sepuluh malam terakhir. Beliau menyebutkan ada sekitar 46 pendapat tentang penetapan malam Lailatul Qadar, namun yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan ia berada di malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir, dan yang paling kuat lagi adalah malam ke-27 berdasarkan hadits Ubay bin Ka'ab.

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar bisa dicari di seluruh sepuluh malam terakhir, dan beliau menganjurkan untuk bersungguh-sungguh di semua malam tersebut.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar adalah agar seorang muslim bersungguh-sungguh beribadah di semua malam sepuluh terakhir, tidak hanya bermalas-malasan di malam-malam lainnya. Ini adalah rahmat dari Allah agar kita semakin dekat kepada-Nya.

Perbedaan perhitungan: Ada perbedaan cara menghitung antara penduduk Madinah dan penduduk lainnya. Penduduk Madinah menghitung dari awal malam, sementara yang lain menghitung dari akhir malam. Namun intinya tetap sama: malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu — salah seorang sahabat yang paling banyak membaca Al-Qur'an — bersumpah bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam ke-27. Beliau berkata: "Demi Allah yang tidak ada ilah selain Dia, sesungguhnya malam itu adalah malam ke-27." Para sahabat bertanya: "Dari mana engkau tahu wahai Abu Mundzir?" Beliau menjawab: "Dari tanda yang diberitakan Rasulullah ﷺ, yaitu matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang menyilaukan." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian terhadap malam yang mulia ini, sampai-sampai mereka mempelajari tanda-tandanya. Ini mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan malam-malam terakhir Ramadan dengan hal yang sia-sia.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir — jangan hanya di malam ke-27 saja, karena malam Lailatul Qadar bisa berpindah-pindah.
  2. Perbanyak ibadah di malam-malam ganjil — terutama malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29.
  3. Perbanyak doa — terutama doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Aisyah: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan, maka ampunilah aku).
  4. Jangan lupa sedekah dan tilawah di malam-malam tersebut, karena semua amal saleh dilipatgandakan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.