Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah memberi arahan khusus kepada seorang sahabat yang tinggal di pedalaman untuk datang ke masjid pada malam kedua puluh tiga Ramadhan guna mencari malam Al-Qadar. Ini menunjukkan malam tersebut memiliki keutamaan besar, dan para ulama menjelaskan bahwa malam ganjil di sepuluh malam terakhir — terutama malam ke-23 — sangat dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah. Sahabat tersebut juga mencontohkan kesungguhan: ia berdiam di masjid sejak Ashar hingga Subuh.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan malam Al-Qadar:
QS. Al-Qadr [97]: 1-3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam Al-Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Al-Qadar itu? Malam Al-Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan."
QS. Ad-Dukhan [44]: 3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Bulan Ramadhan, Bab tentang Malam Al-Qadar, dari Abdullah bin Unays al-Juhani radhiyallahu 'anhu.
Hadits lain yang shahih dan berkaitan, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Terjemahan: "Carilah malam Al-Qadar pada sepuluh malam terakhir dari Ramadhan."
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa malam Al-Qadar berpindah-pindah di antara malam-malam sepuluh terakhir, dan malam ganjil lebih diutamakan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa mayoritas ulama berpendapat malam Al-Qadar paling kuat kemungkinannya pada malam kedua puluh tujuh, namun malam kedua puluh tiga juga termasuk yang ditekankan.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa sebagian salaf bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir, tidak hanya satu malam tertentu.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
Pertama: Anjuran menghidupkan malam ke-23 Ramadhan.
Nabi ﷺ secara khusus memerintahkan Abdullah bin Unays untuk datang ke masjid pada malam kedua puluh tiga. Ini menunjukkan bahwa malam tersebut termasuk malam yang sangat dianjurkan untuk dihidupkan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perintah spesifik ini bisa jadi karena Nabi ﷺ mengetahui keadaan khusus sahabat tersebut, atau karena malam ke-23 termasuk malam yang paling kuat kemungkinannya sebagai malam Al-Qadar pada tahun itu.
Kedua: Malam Al-Qadar bisa berpindah-pindah.
Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah malam Al-Qadar tetap pada satu malam tertentu setiap tahun atau berpindah. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa malam Al-Qadar berpindah-pindah di antara sepuluh malam terakhir, sehingga seorang Muslim hendaknya menghidupkan seluruh malam ganjil — terutama malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Ini juga ditegaskan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif.
Ketiga: Kesungguhan salaf dalam beribadah.
Perbuatan Abdullah bin Unays — masuk masjid setelah Ashar dan tidak keluar hingga Subuh — menunjukkan kesungguhan para sahabat dalam menghidupkan malam. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa para salaf memiliki kebiasaan berdiam di masjid pada malam-malam terakhir Ramadhan untuk beribadah, berdoa, dan membaca Al-Qur'an. Ini bukan berarti wajib, tetapi menunjukkan semangat yang tinggi.
Keempat: I'tikaf dan menghidupkan malam.
Hadits ini juga menjadi dalil bagi sebagian ulama tentang keutamaan i'tikaf, yaitu berdiam di masjid untuk beribadah. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menyebutkan bahwa i'tikaf disyariatkan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, sebagaimana Nabi ﷺ sendiri beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir hingga wafatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Kelima: Tidak ada penentuan pasti malam Al-Qadar.
Meskipun Nabi ﷺ memberi arahan khusus kepada Abdullah bin Unays, beliau tidak memastikan bahwa malam ke-23 adalah malam Al-Qadar secara mutlak. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa hikmah disembunyikannya malam Al-Qadar adalah agar hamba bersungguh-sungguh mencari dan menghidupkan seluruh malam sepuluh terakhir, bukan hanya satu malam saja.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Unays al-Juhani radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang tinggal di pedalaman (badiah). Ia memiliki tempat tinggal di luar kota Madinah, namun ia sangat ingin mendapatkan keutamaan malam Al-Qadar. Ia datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang malam mana yang harus ia khususkan untuk datang ke masjid.
Nabi ﷺ menjawab dengan lembut: "Datanglah pada malam kedua puluh tiga."
Mendengar jawaban itu, Abdullah bin Unays tidak menyia-nyiakan kesempatan. Setiap tahun, ia akan masuk ke masjid setelah shalat Ashar dan tidak keluar untuk keperluan apapun hingga ia shalat Subuh. Setelah Subuh, ia menemukan hewan tunggangannya sudah siap di pintu masjid, lalu ia menaikinya dan kembali ke padang pasirnya.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan kisah ini sebagai contoh kesungguhan salaf dalam menghidupkan malam-malam Ramadhan. Mereka tidak hanya beribadah sebentar, tetapi benar-benar memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan malam ke-23 Ramadhan dengan shalat, doa, membaca Al-Qur'an, dan dzikir, karena Nabi ﷺ secara khusus menganjurkannya.
- Jangan hanya fokus pada satu malam, tetapi hidupkan seluruh malam ganjil di sepuluh malam terakhir — 21, 23, 25, 27, dan 29 — karena malam Al-Qadar bisa berpindah-pindah.
- Contohlah kesungguhan salaf seperti Abdullah bin Unays yang berdiam di masjid untuk beribadah, meskipun tidak harus sampai meninggalkan urusan dunia sama sekali.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Terjemahan: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai ampunan, maka ampunilah aku."
- Jangan merasa pasti bahwa malam Al-Qadar jatuh pada malam tertentu, tetapi bersungguh-sungguhlah di seluruh malam sepuluh terakhir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.