Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Lailatul Qadar itu benar-benar terjadi di bulan Ramadhan, dan menurut pemahaman Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, malam tersebut adalah malam ke-27. Tanda yang beliau sebutkan adalah matahari terbit di pagi harinya dalam keadaan putih bersih seperti bejana (tast) tanpa sinar yang menyilaukan. Ini adalah salah satu pendapat kuat di kalangan ulama, meskipun ada perbedaan pendapat mengenai malam pastinya, yang terpenting adalah kita dianjurkan untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1378:
Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 762) dari jalur lain, dan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 3350) dan Ibnu Majah (no. 1769).
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar)."
(QS. Al-Qadr [97]: 1)
Dan firman-Nya:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
(QS. Al-Qadr [97]: 3)
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (4/260) menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil bagi pendapat yang menyatakan Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27, dan ini adalah pendapat Ubay bin Ka'ab dan sekelompok ulama salaf. Beliau juga menjelaskan bahwa tanda matahari terbit tanpa sinar ini adalah salah satu tanda yang shahih disebutkan dalam hadits.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keutamaan Ilmu dan Adab Bertanya
Kisah ini dimulai dengan Zirr bin Hubaish yang bertanya kepada Ubay bin Ka'ab. Beliau bertanya dengan penuh adab, memanggil Ubay dengan kunyah-nya, "Ya Abal Mundzir." Ini mengajarkan kita adab menuntut ilmu: menghormati guru dan menggunakan panggilan yang baik.
2. Perbedaan Pendapat di Kalangan Sahabat
Dalam hadits ini disebutkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah ditanya tentang Lailatul Qadar, dan beliau menjawab, "Siapa yang shalat setiap malam sepanjang tahun, maka ia akan mendapatkannya." Ini adalah pendapat yang hati-hati, karena beliau tidak mau memastikan malam tertentu agar orang-orang tidak hanya beribadah di satu malam saja.
Ubay bin Ka'ab kemudian menjelaskan bahwa Ibnu Mas'ud sebenarnya tahu bahwa malam itu ada di Ramadhan, tetapi beliau sengaja tidak menyebutkannya agar orang-orang tidak bersandar hanya pada satu malam dan meninggalkan ibadah di malam-malam lainnya. Ini menunjukkan kebijaksanaan para sahabat dalam menyampaikan ilmu.
3. Pendapat Ubay bin Ka'ab tentang Malam ke-27
Ubay bin Ka'ab dengan tegas menyatakan: "Demi Allah, sesungguhnya malam itu ada di bulan Ramadhan, yaitu malam ke-27, tanpa pengecualian." Beliau bersumpah karena yakin akan ilmunya. Ini adalah pendapat yang masyhur dari beliau.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa (25/285) menjelaskan bahwa pendapat Ubay bin Ka'ab ini didasarkan pada tanda yang beliau ketahui dari Nabi ﷺ, bukan sekadar perkiraan. Dan beliau menyebutkan bahwa pendapat ini juga dipilih oleh sebagian ulama.
4. Tanda Lailatul Qadar
Ubay bin Ka'ab menyebutkan tanda yang diajarkan Nabi ﷺ: "Matahari terbit pada pagi harinya seperti bejana (tast), tidak memiliki sinar sampai ia meninggi."
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (8/57) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah matahari terbit dalam keadaan putih bersih, tidak menyilaukan dan tidak bersinar terang seperti biasanya. Ini adalah tanda yang bisa diamati setelah malam Lailatul Qadar berlalu.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (3/245) menjelaskan bahwa tanda-tanda Lailatul Qadar ada dua macam:
- Tanda yang terjadi pada malam harinya: malam terasa tenang, tidak panas dan tidak dingin, serta langit cerah.
- Tanda yang terjadi pada pagi harinya: matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan.
5. Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatul Qadar
Para ulama menjelaskan bahwa Allah menyembunyikan malam ini agar hamba-hamba-Nya bersungguh-sungguh beribadah di semua malam Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, Nabi ﷺ bersabda:
"Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan."
(HR. Al-Bukhari no. 2020, dari Aisyah radhiyallahu 'anha)
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if Al-Ma'arif (hal. 301) menjelaskan bahwa hikmah disembunyikannya malam ini adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam beribadah, sebagaimana Allah menyembunyikan waktu mustajabnya doa pada hari Jumat, dan menyembunyikan nama-Nya yang agung di dalam Al-Qur'an.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Zirr bin Hubaish adalah seorang tabi'in yang tekun menuntut ilmu. Suatu hari, ia mendatangi Ubay bin Ka'ab, salah seorang sahabat yang paling banyak menghafal Al-Qur'an dan termasuk penulis wahyu. Zirr bertanya tentang Lailatul Qadar karena ia mendengar jawaban berbeda dari Ibnu Mas'ud.
Ubay bin Ka'ab menjawab dengan penuh keilmuan dan keyakinan. Beliau tidak ragu menyebutkan malam ke-27, karena beliau mendapatkan ilmunya langsung dari Rasulullah ﷺ. Namun, beliau juga tidak mencela Ibnu Mas'ud, bahkan mendoakannya: "Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman." Ini mengajarkan kita adab berbeda pendapat di kalangan ulama: tetap saling menghormati dan mendoakan, tidak saling mencela.
Kisah ini juga menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian dengan ibadah di bulan Ramadhan dan berusaha mengetahui waktu Lailatul Qadar agar bisa mengisinya dengan ibadah yang maksimal.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan, dengan memperbanyak shalat, doa, dan membaca Al-Qur'an.
- Jangan berpuas diri dengan satu malam saja, karena hikmah disembunyikannya malam ini adalah agar kita beribadah sepanjang malam-malam Ramadhan.
- Menghormati perbedaan pendapat ulama tentang malam pastinya. Yang terpenting adalah semangat beribadah, bukan perdebatan tentang malamnya.
- Mengetahui tanda-tanda Lailatul Qadar agar bisa memastikan setelahnya, seperti matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan.
- Meneladani adab para sahabat dalam bertanya dan menyampaikan ilmu: dengan sopan, penuh hikmah, dan tidak mencela yang berbeda pendapat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.