Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan shalat malam Nabi ﷺ secara terperinci. Beliau shalat sebelas rakaat antara setelah shalat Isya hingga terbit fajar, dengan salam setiap dua rakaat dan ditutup witir satu rakaat. Dalam sujud, beliau berlama-lama. Setelah adzan subuh, beliau shalat dua rakaat ringan (sunnah qabliyah subuh), lalu berbaring ke sisi kanan menunggu iqamah. Ini adalah petunjuk praktis yang agung tentang tata cara shalat malam dan kesungguhan Nabi ﷺ dalam beribadah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat Sunnah, Bab Shalat Malam, no. 1336, dari jalur Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan para ulama menyepakati keshahihannya.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
(QS. Al-Isra' [17]: 79)
Ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ untuk shalat malam, dan hadits di atas adalah penjelasan praktis bagaimana beliau melaksanakannya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Awza'i (salah satu perawi hadits ini) adalah seorang ulama besar tabi'in yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits.
- Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab) adalah ulama hadits terkemuka di zamannya, gurunya para imam.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya salam setiap dua rakaat dalam shalat malam, dan witir dengan satu rakaat di akhir.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
1. Jumlah Rakaat Shalat Malam Nabi ﷺ
Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Nabi ﷺ shalat malam sebelas rakaat. Ini adalah kebiasaan beliau yang tetap. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa riwayat-riwayat tentang shalat malam Nabi ﷺ berkisar antara sebelas dan tiga belas rakaat, namun yang paling sering dan paling tetap adalah sebelas rakaat.
2. Tata Cara: Salam Setiap Dua Rakaat
Nabi ﷺ mengucapkan salam setiap dua rakaat. Ini menunjukkan bahwa shalat malam dikerjakan dengan cara dua-dua rakaat, bukan empat rakaat sekaligus tanpa salam. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat malam yang paling utama adalah dua rakaat salam, dua rakaat salam. Ini berdasarkan hadits Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Shalat malam itu dua-dua rakaat." (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Witir Satu Rakaat di Akhir
Setelah shalat genap, Nabi ﷺ menutup dengan satu rakaat witir. Ini menunjukkan bahwa witir boleh dikerjakan satu rakaat tersendiri, dan ini adalah pendapat yang kuat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa witir satu rakaat adalah sah dan sesuai sunnah, walaupun yang lebih utama adalah witir tiga, lima, tujuh, atau sembilan rakaat jika seseorang ingin memperpanjang.
4. Berlama-lama dalam Sujud
Aisyah berkata: "Beliau berlama-lama dalam sujudnya kira-kira selama seseorang membaca lima puluh ayat sebelum mengangkat kepalanya." Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat khusyuk dan memperpanjang sujudnya. Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ biasa memperpanjang ruku' dan sujudnya, dan ini adalah bagian dari kesempurnaan shalat.
5. Dua Rakaat Ringan Sebelum Subuh
Ketika muadzin selesai adzan subuh, Nabi ﷺ bangun dan shalat dua rakaat ringan (sunnah qabliyah subuh). Beliau tidak memperpanjangnya karena ingin segera keluar untuk shalat subuh berjamaah. Ini menunjukkan bahwa sunnah qabliyah subuh dilakukan dengan ringan dan tidak bertele-tele.
6. Berbaring ke Sisi Kanan Setelah Shalat Sunnah Subuh
Setelah shalat dua rakaat, Nabi ﷺ berbaring ke sisi kanannya hingga iqamah dikumandangkan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah sunnah yang dianjurkan, karena Nabi ﷺ melakukannya secara rutin. Hikmahnya adalah untuk mengistirahatkan badan setelah shalat malam yang panjang, dan juga sebagai persiapan untuk shalat subuh.
Pendapat Ulama tentang Berbaring Setelah Sunnah Subuh:
- Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad menganjurkan berbaring setelah shalat sunnah subuh berdasarkan hadits ini.
- Imam Abu Hanifah dan Imam Malik memandangnya sebagai perbuatan yang tidak wajib, namun tetap dianjurkan karena mengikuti contoh Nabi ﷺ.
Yang terkuat adalah pendapat yang menganjurkan, karena hadits ini shahih dan menunjukkan perbuatan rutin Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Awza'i — salah satu perawi hadits ini — adalah seorang ulama yang sangat tekun dalam ibadah malam. Beliau biasa menghidupkan malamnya dengan shalat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa. Suatu malam, beliau menangis dalam shalatnya hingga para tetangganya mendengar tangisannya. Ketika ditanya, beliau berkata: "Aku teringat firman Allah tentang hari kiamat, dan aku takut akan keadaanku saat itu."
Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf tidak hanya menghafal hadits, tetapi juga mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Mereka memahami bahwa shalat malam adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melunakkan hati.
Kesimpulan Praktis
- Shalat malam adalah sunnah yang sangat dianjurkan, minimal dua rakaat, dan bisa ditambah hingga sebelas rakaat.
- Cara mengerjakannya: dua rakaat salam, dua rakaat salam, lalu ditutup witir satu rakaat.
- Perbanyaklah berlama-lama dalam sujud, karena saat sujud adalah waktu terdekat seorang hamba dengan Rabbnya.
- Kerjakan dua rakaat ringan sebelum subuh, dan jangan memperpanjangnya agar tidak terburu-buru.
- Berbaring ke sisi kanan setelah sunnah subuh adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ, untuk mengistirahatkan badan.
- Jadikan shalat malam sebagai kebiasaan, walaupun hanya sedikit, karena Rasulullah ﷺ bersabda: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.