Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1305 tentang Keringanan shalat malam dan batasannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika awal Surah Al-Muzzammil turun, kaum Muslimin semangat sekali shalat malam hingga lamanya seperti shalat Tarawih di bulan Ramadan. Setelah setahun kemudian turun ayat-ayat terakhir surah itu, kewajiban shalat malam diringankan (menjadi sunnah), sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ini menunjukkan bahwa syariat dibangun bertahap dan selalu ada kemudahan bagi umat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Muzzammil [73]: 1–4

قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ۝ نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ۝ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Berdirilah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil."

Ayat terakhir — QS. Al-Muzzammil [73]: 20 (potongan)

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

"Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kalian orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari karunia Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah. Maka bacalah apa yang mudah darinya."

Hadits terkait: Hadits riwayat Ibnu Abbas ini dicatat oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat Sunnah, Bab Pembatalan Shalat Malam dan Kemudahan dalam Melaksanakannya (no. 1305). Perawi jalurnya: Ahmad bin Muhammad al-Marwazi → Waki' bin al-Jarrah → Mis'ar → Simak al-Hanafi → Ibnu Abbas.

Penjelasan Rinci

Konteks turunnya ayat. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa pada masa awal Islam di Makkah, shalat malam diwajibkan kepada Nabi ﷺ dan para sahabat. Mereka berdiri shalat hampir sepanjang malam, lamanya menyerupai shalat mereka di bulan Ramadan. Ini menunjukkan kesungguhan dan kecintaan mereka kepada ibadah, meski berat.

Setahun kemudian. Allah menurunkan ayat terakhir Surah Al-Muzzammil (ayat 20), yang di dalamnya terdapat keringanan: "Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an." Ayat ini memberi uzur bagi orang sakit, yang bekerja mencari rezeki, dan yang berjihad. Dengan demikian, kewajiban shalat malam diangkat menjadi sunnah.

Pemahaman ulama daftar:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat 20 Surah Al-Muzzammil adalah nasikh (penghapus) kewajiban shalat malam, dan menjadi dalil bahwa syariat datang bertahap sesuai kemampuan hamba.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam dan bahwa syariat selalu memperhatikan kondisi umat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa peristiwa ini menggambarkan hikmah tadarruj (bertahap) dalam penetapan syariat.
  • Syaikh as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa ayat terakhir surah ini mengandung rahmat: Allah tidak membebani hamba di luar kemampuan.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama menyatakan shalat malam tetap wajib bagi Nabi ﷺ secara khusus (khushushiyyah), sementara bagi umat menjadi sunnah. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dikuatkan Ibnu Katsir dan as-Sa'di — adalah bahwa kewajiban itu diangkat untuk seluruh umat, dan Nabi ﷺ tetap mengerjakannya sebagai kebiasaan beliau.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abbas — sepupu Nabi ﷺ yang masih muda — memperhatikan bagaimana para sahabat berdiri lama dalam shalat malam. Beliau menyaksikan sendiri semangat mereka, hingga suatu ketika turun ayat yang memberi keringanan. Ibnu Abbas lalu menyampaikan hal ini kepada murid-muridnya agar mereka memahami bahwa agama ini tidak memberatkan. Waki' bin al-Jarrah — salah satu guru Imam Syafi'i dan Imam Ahmad — meriwayatkan hadits ini dengan penuh perhatian, karena beliau dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits tentang ibadah malam.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam adalah ibadah mulia yang dipraktikkan Nabi ﷺ dan para sahabat, meski tidak wajib.
  2. Syariat Islam bertahap dan penuh rahmat — Allah tidak membebani hamba di luar kemampuan.
  3. Hendaklah kita bersemangat mengerjakan shalat malam sesuai kemampuan, tidak berlebihan hingga memberatkan diri.
  4. Bacalah Al-Qur'an dengan tartil dalam shalat malam, sebagaimana perintah dalam Surah Al-Muzzammil.
  5. Jangan memaksakan diri — jika sakit, sibuk bekerja, atau dalam perjalanan, cukup kerjakan yang mudah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?