Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat menjaga dan tidak pernah meninggalkan dua shalat sunnah rawatib yang utama: empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sebelum Subuh. Ini adalah dalil tentang keutamaan menjaga sunnah rawatib, terutama yang muakkad (sangat dianjurkan). Para ulama menjelaskan bahwa menjaga amalan sunnah yang rutin ini adalah bagian dari kecintaan dan ittiba' (meneladani) kepada Rasulullah ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud No. 1253:
Teks Arab (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan harakat lengkap):
> حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْتَشِرِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ.
Makna: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum shalat Dzuhur dan dua rakaat sebelum shalat Subuh (Qabliyah).
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Sebagai landasan perintah untuk meneladani Nabi ﷺ, Allah berfirman:
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1182) dan Imam Muslim (no. 725) dari jalur lain. Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' dan Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan penjagaan Nabi ﷺ terhadap sunnah rawatib, dan bahwa meninggalkannya tanpa udzur adalah suatu kekurangan, meskipun tidak sampai berdosa besar.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
- Makna "لا يَدَعُ" (tidak pernah meninggalkan): Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (Syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa ungkapan ini menunjukkan konsistensi dan kemudawwabahan (keistiqamahan) Nabi ﷺ dalam mengerjakan shalat-shalat sunnah tersebut. Ini bukan sekadar sering, tetapi beliau menjaganya secara terus-menerus dalam keadaan mukim (tidak bepergian).
- Keutamaan Empat Rakaat Sebelum Dzuhur: Hadits ini menegaskan bahwa shalat sunnah qabliyah Dzuhur yang paling utama adalah empat rakaat. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ini adalah pendapat yang kuat, dan dilakukan dengan dua kali salam (setiap dua rakaat). Keutamaannya disebutkan dalam hadits lain bahwa pintu langit dibuka pada saat itu, dan ini adalah waktu mustajab.
- Keutamaan Dua Rakaat Sebelum Subuh (Fajar): Para ulama, termasuk Imam an-Nawawi, menyebut bahwa sunnah qabliyah Subuh adalah sunnah yang paling ditekankan di antara semua sunnah rawatib. Bahkan, dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda bahwa dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya (HR. Muslim). Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk tidak meninggalkannya, bahkan dalam keadaan safar sekalipun, karena keutamaannya yang sangat besar.
- Penerapan: Hadits ini menjadi dalil bagi madzhab Syafi'i dan Hanbali (menurut pendapat yang lebih kuat) bahwa shalat sunnah qabliyah Dzuhur yang paling sempurna adalah empat rakaat. Adapun jika hanya dikerjakan dua rakaat, itu juga sah dan mendapat pahala, namun yang paling utama adalah mengikuti kebiasaan Nabi ﷺ ini.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
> "Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sebelum Subuh." (HR. Abu Dawud)
Dalam riwayat lain, Aisyah juga menceritakan tentang kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Suatu ketika, beliau bersabda tentang dua rakaat fajar: "Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR. Muslim)
Hikmah dari kisah ini adalah betapa besar kecintaan Nabi ﷺ kepada umatnya dengan menunjukkan amalan yang ringan namun memiliki ganjaran yang sangat besar. Ini adalah bentuk kasih sayang beliau, agar umatnya mudah meraih pahala tanpa harus bersusah payah. Para salafus shalih sangat menjaga amalan-amalan sunnah ini karena mereka memahami keutamaannya dan ingin meneladani Nabi ﷺ dalam setiap detail ibadah.
Kesimpulan Praktis
- Jaga shalat sunnah rawatib, terutama yang muakkad. Dari hadits ini, kita belajar untuk tidak meremehkan amalan sunnah yang rutin dilakukan Nabi ﷺ.
- Utamakan empat rakaat sebelum Dzuhur dengan dua kali salam, karena ini adalah kebiasaan Nabi ﷺ yang tidak pernah beliau tinggalkan.
- Jangan tinggalkan dua rakaat sebelum Subuh, karena keutamaannya sangat besar, bahkan lebih baik dari dunia dan seisinya.
- Jadikan amalan sunnah ini sebagai sarana cinta kepada Nabi ﷺ, karena dengan meneladani beliau, kita akan dicintai Allah dan diampuni dosa-dosa kita.
- Mulailah dengan perlahan dan istiqamah. Jika belum terbiasa, kerjakanlah sedikit demi sedikit, karena amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.