Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tata cara shalat gerhana (khusuf) yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, yaitu dengan dua raka'at yang setiap raka'atnya terdiri dari dua kali berdiri, dua kali membaca (Al-Fatihah dan surat), dan dua kali rukuk. Jadi totalnya ada empat rukuk dan empat sujud dalam dua raka'at. Ini adalah pendapat yang kuat dan masyhur di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka'at, dan setiap raka'atnya memiliki dua rukuk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Meminta Hujan, Bab "Siapa yang Mengatakan Empat Raka'at" (no. 1180), dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang semakna.
Dalil dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa kita wajib meneladani Nabi ﷺ dalam segala hal, termasuk dalam tata cara shalat gerhana.
Hadits terkait:
Hadits 'Aisyah di atas adalah dalil utama tentang tata cara shalat gerhana dengan dua rukuk dalam setiap raka'at. Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits yang semakna dalam Shahih-nya, Kitab al-Kusuf, Bab "Shalat al-Kusuf" (no. 1046), dan Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Kusuf (no. 901).
Kaitan dengan ulama:
Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Imam az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) yang meriwayatkan hadits ini dari 'Urwah bin az-Zubair, serta Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, berpegang dengan hadits ini. Mereka berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka'at, dan setiap raka'atnya memiliki dua rukuk. Ini adalah pendapat yang paling kuat karena sesuai dengan zhahir hadits.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits terpenting dalam bab shalat gerhana. Mari kita pahami maknanya secara mendalam:
- Kejadian Gerhana: 'Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa terjadi gerhana matahari pada masa hidup Nabi ﷺ. Ini adalah peristiwa nyata yang disaksikan oleh para sahabat.
- Tindakan Nabi ﷺ: Nabi ﷺ keluar menuju masjid dengan tergesa-gesa. Beliau berdiri, bertakbir, lalu orang-orang berbaris di belakang beliau. Ini menunjukkan bahwa shalat gerhana disunnahkan berjama'ah di masjid.
- Rincian Shalat:
- Raka'at Pertama: Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang panjang. Kemudian beliau rukuk dengan rukuk yang panjang. Setelah itu, beliau bangkit dari rukuk (i'tidal) sambil mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamd". Kemudian beliau berdiri lagi dan membaca Al-Qur'an lagi dengan bacaan yang panjang, tetapi lebih pendek dari bacaan pertama. Lalu beliau rukuk lagi dengan rukuk yang panjang, tetapi lebih pendek dari rukuk pertama. Setelah itu, beliau sujud dua kali.
- Raka'at Kedua: Beliau melakukan hal yang sama seperti raka'at pertama. Maka totalnya menjadi empat rukuk dan empat sujud dalam dua raka'at.
- Pemahaman Ulama:
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa shalat gerhana adalah dua raka'at, dan setiap raka'atnya memiliki dua rukuk. Ini adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan hadits di atas.
- Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan seperti shalat biasa, yaitu dua raka'at dengan satu rukuk di setiap raka'atnya. Namun, pendapat ini kurang kuat karena bertentangan dengan hadits shahih yang jelas.
- Imam Malik memiliki dua riwayat, namun pendapat yang masyhur darinya adalah seperti pendapat jumhur, yaitu dua rukuk dalam setiap raka'at.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'aad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melakukan shalat gerhana dengan dua raka'at, dan di setiap raka'atnya beliau melakukan dua kali rukuk. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah sunnah yang shahih dan jelas.
- Hikmah: Shalat gerhana adalah salah satu bentuk ibadah untuk menunjukkan rasa takut dan tunduk kepada Allah ketika terjadi peristiwa alam yang luar biasa. Ini juga mengajarkan kita untuk selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik senang maupun susah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi gerhana matahari pada masa Nabi ﷺ, beliau keluar dengan tergesa-gesa hingga kainnya hampir terseret. Beliau shalat bersama para sahabat dengan bacaan yang panjang dan rukuk yang lama. Para sahabat merasakan kekhusyukan yang luar biasa. Setelah selesai shalat, beliau bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahiran seseorang. Maka jika kalian melihat hal itu, bersegeralah untuk mengingat Allah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita harus menjadikan setiap peristiwa sebagai pengingat untuk kembali kepada Allah, bukan malah sibuk dengan takhayul atau hal-hal yang tidak bermanfaat.
Kesimpulan Praktis
- Shalat gerhana (matahari maupun bulan) disunnahkan dilakukan secara berjama'ah di masjid.
- Tata caranya adalah dua raka'at, dan di setiap raka'atnya dilakukan dua kali rukuk (dengan dua kali berdiri dan membaca Al-Qur'an).
- Bacaan dan rukuknya dianjurkan panjang, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah.
- Setelah shalat, disunnahkan untuk berkhutbah dan mengingatkan umat tentang kebesaran Allah serta doa dan istighfar.
- Kita harus menjauhi keyakinan-keyakinan keliru tentang gerhana, seperti anggapan bahwa gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.