Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 1023 tentang Sunnah kembali shalat setelah lupa jumlah rakaat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang bagaimana Nabi ﷺ menangani lupa dalam shalat, yaitu dengan kembali menyempurnakan shalat yang kurang dan meneruskan dari rakaat yang tertinggal. Ini menunjukkan bahwa jika seseorang ragu atau yakin telah meninggalkan sebagian shalatnya, maka ia wajib menyempurnakannya selama belum keluar dari masjid atau belum berbicara. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan sahabat Talhah bin 'Ubaidillah yang berani menegur Nabi ﷺ karena lupa, dan Nabi ﷺ menerima teguran tersebut dengan rendah hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat dari Mu'awiyah bin Khudayj. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 573) dengan lafaz yang lebih lengkap. Dalam riwayat Muslim, disebutkan bahwa Nabi ﷺ shalat Zhuhur atau Ashar, lalu salam pada rakaat kedua (setelah dua rakaat). Kemudian Dzul Yadain (atau dalam riwayat ini, Talhah) mengingatkan beliau. Nabi ﷺ pun kembali, menyempurnakan shalat, lalu sujud sahwi setelah salam.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Ayat ini menunjukkan perintah untuk selalu mengingat Allah, termasuk dalam keadaan lupa sekalipun, kita diperintahkan untuk kembali mengingat-Nya dan menyempurnakan ibadah.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in memahami hadits ini sebagai dasar bahwa orang yang lupa dalam shalatnya harus menyempurnakan kekurangannya. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa jika seseorang yakin telah meninggalkan satu rakaat, ia harus kembali dan menyempurnakannya, lalu sujud sahwi. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa jika seseorang telah berbicara setelah salam, maka ia harus mengulang shalatnya dari awal. Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama) yang membolehkan melanjutkan shalat selama waktunya masih dekat dan belum keluar dari masjid.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits penting dalam bab "sahwi" (lupa dalam shalat). Mari kita pahami poin-poin pentingnya:

  1. Kejadian Lupa Nabi ﷺ: Nabi ﷺ sebagai manusia biasa juga bisa lupa, sebagaimana sabdanya: "Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, aku bisa lupa sebagaimana kalian lupa. Maka jika aku lupa, ingatkanlah aku." (HR. Bukhari no. 401, Muslim no. 572). Ini mengajarkan kita bahwa lupa adalah hal yang wajar, dan yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.
  2. Tindakan Sahabat: Seorang sahabat (dalam riwayat ini adalah Talhah bin 'Ubaidillah) berani menegur Nabi ﷺ dengan sopan: "Anda lupa satu rakaat dari shalat." Ini menunjukkan bahwa menegur kesalahan dalam ibadah adalah bagian dari nasihat, dan harus dilakukan dengan cara yang baik.
  3. Respons Nabi ﷺ: Nabi ﷺ tidak marah, tidak menyalahkan, tetapi langsung menerima kebenaran dan kembali ke masjid untuk menyempurnakan shalat. Beliau memerintahkan Bilal untuk iqamah, lalu shalat satu rakaat lagi bersama jamaah. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin atau imam harus rendah hati menerima kebenaran dari siapa pun.
  4. Hukum Fiqih: Para ulama berbeda pendapat dalam beberapa detail:
  • Jumhur (mayoritas ulama): Jika seseorang yakin telah meninggalkan satu rakaat atau lebih, dan ia belum berbicara banyak serta belum keluar dari masjid, maka ia wajib kembali untuk menyempurnakan shalatnya, lalu sujud sahwi. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik.
  • Imam Abu Hanifah: Jika seseorang telah berbicara setelah salam (walaupun untuk menjawab pertanyaan), maka shalatnya batal dan harus diulang dari awal. Namun pendapat ini terbantahkan oleh hadits ini, karena Nabi ﷺ sendiri telah berbicara dengan sahabat yang menegurnya, namun beliau tetap melanjutkan shalatnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa berbicara karena lupa atau karena tidak tahu hukum tidak membatalkan shalat, dan orang tersebut cukup menyempurnakan kekurangannya. Ini adalah rahmat dari Allah ﷻ.

  1. Hikmah Pengakuan Sahabat: Mu'awiyah bin Khudayj tidak mengenal sahabat yang menegur Nabi ﷺ, tetapi ketika ia melihatnya lagi, ia langsung mengenalinya dan memberi tahu orang-orang bahwa itu adalah Talhah bin 'Ubaidillah. Ini menunjukkan bahwa perbuatan baik akan selalu dikenang dan dicatat oleh sejarah.

Story Telling

Ada kisah indah tentang ketawadhu'an Nabi ﷺ dalam menerima kebenaran. Dalam riwayat lain (HR. Muslim), disebutkan bahwa sahabat yang menegur adalah Dzul Yadain. Beliau bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa ataukah shalat telah diringkas?" Nabi ﷺ menjawab, "Aku tidak lupa dan shalat tidak diringkas." Dzul Yadain berkata, "Kalau begitu, engkau benar-benar lupa." Maka Nabi ﷺ pun bersabda kepada para sahabat, "Benarkah apa yang dikatakan Dzul Yadain?" Mereka menjawab, "Ya, benar." Maka Nabi ﷺ pun maju dan menyempurnakan shalatnya, lalu sujud sahwi.

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak merasa malu untuk bertanya dan memastikan kebenaran, dan para sahabat pun jujur dalam menjawab. Ini adalah teladan dalam menuntut ilmu dan menerima kebenaran, di mana pun ia berada.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan Malu Mengakui Lupa: Jika kita lupa dalam shalat, jangan panik. Yang penting adalah menyempurnakan kekurangan tersebut selama belum keluar dari masjid dan belum berbicara banyak.
  2. Terima Teguran dengan Lapang Dada: Jika ada yang menegur kesalahan kita dalam ibadah, terimalah dengan baik, karena itu adalah nasihat. Jangan marah atau defensif.
  3. Sujud Sahwi: Jika kita lupa atau ragu dalam shalat, maka setelah menyempurnakan shalat, kita dianjurkan sujud sahwi dua kali sebelum salam (atau setelah salam, sesuai dengan tuntunan yang shahih).
  4. Keutamaan Sahabat: Teladani keberanian Talhah bin 'Ubaidillah dalam menegakkan kebenaran, dan teladani kerendahan hati Nabi ﷺ dalam menerimanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.