Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dalil utama tentang disunnahkannya menyiapkan makanan untuk keluarga orang yang meninggal. Ini adalah bentuk kepedulian sosial dan ukhuwah Islamiyah yang sangat indah. Keluarga yang ditinggalkan sedang dilanda kesedihan dan sibuk mengurus urusan jenazah, sehingga mereka tidak sempat memikirkan kebutuhan makan mereka. Maka, para tetangga dan kerabatlah yang meringankan beban mereka dengan mengirimkan makanan yang siap saji.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab Ma Ja'a fi Ath'amil Li Ahlil Mayyit, nomor 998. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah dari jalur yang berbeda.
Teks Hadits (dengan harakat lengkap):
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ، قَالَ: لَمَّا جَاءَ نَعْىُ جَعْفَرٍ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "اصْنَعُوا لأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ"
Terjemahan: Dari Abdullah bin Ja'far, ia berkata: "Ketika berita kematian Ja'far (bin Abi Thalib) datang, Nabi ﷺ bersabda: 'Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka sesuatu (musibah) yang menyibukkan mereka.'" (HR. At-Tirmidzi no. 998)
Kaitan dengan Ulama: Imam Asy-Syafi'i dalam salah satu pendapatnya menganjurkan hal ini, sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Tirmidzi langsung setelah meriwayatkan hadits ini. Imam Ahmad bin Hanbal juga memiliki riwayat yang menganjurkan hal serupa. Para ulama dari kalangan Salaf, seperti Imam Sufyan bin 'Uyainah (yang meriwayatkan hadits ini dalam sanadnya), juga turut meriwayatkan dan mengamalkan maknanya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki latar belakang yang sangat menyentuh. Ja'far bin Abi Thalib adalah sahabat Nabi ﷺ yang sangat dicintai. Ia gugur sebagai syahid dalam Perang Mu'tah melawan pasukan Romawi. Beliau memegang panji perang dan terus berperang hingga kedua tangannya terpotong, lalu beliau syahid.
Ketika kabar syahidnya Ja'far sampai ke Madinah, Nabi ﷺ sangat sedih. Namun, di tengah kesedihan itu, beliau ﷺ tidak melupakan keadaan keluarga sahabatnya yang ditinggalkan. Beliau ﷺ langsung memerintahkan para sahabatnya untuk menyiapkan makanan bagi keluarga Ja'far.
Pemahaman Ulama:
- Imam At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata: "Sebagian ulama menganjurkan untuk mengirimkan sesuatu (makanan) kepada keluarga mayit karena mereka sibuk dengan musibah yang menimpa mereka. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi'i."
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya membuatkan makanan untuk keluarga mayit oleh tetangga atau kerabatnya. Hal ini dilakukan untuk meringankan beban mereka, karena mereka sedang dilanda kesedihan yang mendalam.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menjelaskan bahwa perbuatan ini termasuk akhlak yang mulia dan bentuk tolong-menolong dalam kebaikan. Ini adalah wujud nyata dari sabda Nabi ﷺ: "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Muslim)
Penting untuk diperhatikan: Para ulama juga menjelaskan bahwa anjuran ini adalah untuk tetangga atau kerabat yang menyiapkan makanan untuk keluarga mayit. Adapun keluarga mayit sendiri tidak dianjurkan untuk membuat makanan dan mengundang orang-orang untuk makan, karena hal ini justru menambah beban mereka. Bahkan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zaad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa perbuatan keluarga mayit yang membuat makanan untuk orang-orang yang berta'ziyah adalah perbuatan yang tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Ini adalah kebiasaan yang diada-adakan (bid'ah) yang tidak baik.
Story Telling
Kisah ini adalah tentang Abdullah bin Ja'far, putra dari Ja'far bin Abi Thalib, yang meriwayatkan hadits ini. Ia adalah seorang sahabat yang mulia dan dikenal sangat dermawan.
Setelah ayahnya gugur di Mu'tah, ia dan saudara-saudaranya serta ibunya, Asma' binti 'Umais, menerima kabar duka yang sangat berat. Namun, di tengah duka itu, mereka merasakan langsung perhatian dan kasih sayang dari Nabi ﷺ dan para sahabat. Makanan pun berdatangan ke rumah mereka, meringankan beban mereka yang sedang berduka.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keadaan sosial umatnya. Kesedihan seseorang bukanlah urusan pribadi, melainkan urusan bersama. Ketika ada saudara kita yang tertimpa musibah, kita tidak boleh membiarkannya larut dalam kesedihan sendirian. Kita harus hadir, meringankan bebannya, dan menunjukkan bahwa ia tidak sendirian.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kepedulian Nabi ﷺ tidak hanya sebatas ucapan belasungkawa, tetapi juga tindakan nyata yang meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.
Kesimpulan Praktis
- Bagi Tetangga dan Kerabat: Sangat dianjurkan untuk menyiapkan dan mengirimkan makanan yang sudah matang kepada keluarga yang sedang tertimpa musibah kematian. Ini adalah sunnah Nabi ﷺ dan bentuk nyata dari ukhuwah Islamiyah.
- Bagi Keluarga Mayit: Hendaknya tidak memberatkan diri dengan membuat makanan untuk menjamu orang-orang yang bertakziah. Fokuslah pada kesabaran dan doa untuk mayit. Terimalah bantuan dari tetangga dan kerabat dengan lapang dada.
- Niatkan karena Allah: Saat mengirimkan makanan, niatkanlah untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ, meringankan beban saudara sesama muslim, dan mengharap pahala dari Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.