Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 982 tentang Mukmin meninggal dengan keringat di dahi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa salah satu tanda yang menyertai kematian seorang mukmin adalah keluarnya keringat di dahi saat ruh dicabut. Ini bukan tanda hukuman, melainkan isyarat kelembutan dan rahmat Allah bagi orang beriman, serta pengingat agar kita mempersiapkan diri dengan amal saleh dan husnuzhan kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Jenazah, bab "Apa yang Diriwayatkan Bahwa Seorang Mukmin Mati dengan Keringat di Dahi", dari jalur Abdullah bin Buraidah dari ayahnya (Buraidah bin al-Hushaib), dari Nabi ﷺ:

<p>الْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ</p>

Terjemahan: "Seorang mukmin mati dengan keringat di dahi."

Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini hasan, dan menyebutkan ada riwayat lain dari Ibnu Mas'ud. Beliau juga menukil bahwa sebagian ahli ilmu mengatakan tidak diketahui adanya pendengaran langsung Qatadah dari Abdullah bin Buraidah (yakni ada catatan dalam sanad).

Dalil pendukung makna secara umum:

<p>كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ</p>

QS. Al-Ankabut [29]: 57 — "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan."

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum: Saat ruh seorang mukmin dicabut, tubuhnya—khususnya dahi—mengeluarkan keringat. Para ulama menjelaskan ini sebagai tanda bahwa proses pencabutan ruh bagi mukmin berlangsung dengan lembut, bukan dengan kekerasan yang menyiksa. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keringat di dahi saat kematian menunjukkan adanya sakaratul maut (beratnya kematian) yang tetap dialami setiap jiwa, namun bagi mukmin hal itu menjadi penghapus dosa dan pengangkat derajat, bukan azab.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa beratnya sakaratul maut dialami semua orang, tetapi bagi orang beriman ia menjadi kaffarah (penghapus dosa). Ini selaras dengan hadits lain bahwa sakit, beratnya kematian, dan musibah menjadi penghapus dosa bagi mukmin.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa keringat dahi ini juga bisa dipahami sebagai rasa malu dan penyesalan seorang mukmin ketika menghadap Allah, karena ia sadar masih memiliki kekurangan dalam amal, sehingga ia "berkeringat" menghadap Rabb-nya—sebagaimana orang yang berkeringat karena rasa takut dan harap kepada Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa beratnya kematian tidak bertentangan dengan husnul khatimah; justru bagi mukmin, beratnya sakaratul maut bisa menjadi tanda bahwa dosa-dosanya dibersihkan sebelum ia bertemu Allah dalam keadaan bersih.

Catatan sanad: Imam At-Tirmidzi sendiri menyebutkan bahwa sebagian ahli ilmu mempersoalkan apakah Qatadah benar-benar mendengar langsung dari Abdullah bin Buraidah. Namun hadits ini tetap dinilai hasan oleh At-Tirmidzi, dan maknanya diperkuat oleh riwayat lain dari Ibnu Mas'ud serta makna umum ayat dan hadits tentang beratnya sakaratul maut. Karena itu, para ulama menerimanya sebagai hadits yang bisa dijadikan pengingat, bukan sebagai dasar akidah yang berdiri sendiri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Buraidah bin al-Hushaib—sahabat yang meriwayatkan hadits ini—adalah salah satu sahabat yang dikenal kejujuran dan kedekatannya dengan Nabi ﷺ. Beliau menyampaikan hadits ini kepada putranya, Abdullah, agar menjadi pengingat bagi kaum mukmin bahwa kematian itu pasti, dan bahwa seorang mukmin hendaknya menghadapinya dengan hati yang bersih. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri sering mengingatkan murid-muridnya: "Perbanyaklah mengingat kematian, karena ia akan membersihkan hati dari cinta dunia." Hikmahnya: keringat di dahi saat wafat adalah isyarat bahwa seorang mukmin "berpeluh" menghadap Allah—bukan karena azab, tetapi karena rasa takut dan harap yang bercampur dalam hati yang beriman.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinilah bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian, dan beratnya sakaratul maut adalah bagian dari takdir Allah.
  2. Jangan takut berlebihan terhadap sakaratul maut jika kita beriman dan beramal saleh, karena bagi mukmin ia menjadi penghapus dosa.
  3. Perbanyak amal saleh, istighfar, dan husnuzhan kepada Allah, agar saat keringat dahi itu muncul, kita dalam keadaan husnul khatimah.
  4. Jangan gunakan hadits ini untuk menghakimi orang yang meninggal tanpa keringat dahi; ini hanya isyarat umum, bukan syarat mutlak.
  5. Rujuklah kepada ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya untuk memahami hadits-hadits jenazah secara utuh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?