Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat Tirmidzi no. 968 ini masih berkaitan dengan bab menjenguk orang sakit. Di dalamnya, Nabi ﷺ menyebut tentang "Khurfah al-Jannah" (buah/hasil panen surga). Ketika ditanya apa maksudnya, beliau menjawab: "جَنَاهَا" — yaitu buah yang dipetik darinya. Hadits ini mengajarkan bahwa menjenguk orang sakit memiliki keutamaan besar, bahkan dikaitkan dengan mendapatkan buah surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan melalui jalur Thawban (radhiyallahu 'anhu), sahabat Nabi ﷺ. Imam at-Tirmidzi meriwayatkannya dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Jenazah, Bab Apa yang Dikatakan tentang Menjenguk Orang Sakit, no. 968.
Teks hadits yang disebutkan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَزِيرٍ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ نَحْوَهُ ۖ وَزَادَ فِيهِ: قِيلَ مَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: «جَنَاهَا»
Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Wazir al-Wasithi, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, dari 'Ashim al-Ahwal, dari Abu Qilabah, dari Abu al-Asy'ats, dari Abu Asma', dari Tsauban, dari Nabi ﷺ semisalnya. Dan ia menambahkan di dalamnya: Ditanyakan, 'Apa itu khurfah al-jannah?' Beliau menjawab: 'Buah yang dipetik darinya.'"
Hadits pokok yang menjadi rujukan bab ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dan lainnya, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang menjenguk orang sakit. Di antara lafazhnya yang masyhur:
مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ
Terjemahan: "Barangsiapa menjenguk orang sakit, ia senantiasa berada dalam khurfah al-jannah (buah/hasil panen surga) hingga ia kembali."
Hadits ini dishahihkan oleh para ulama, dan Imam Muslim meriwayatkannya dalam Shahih Muslim dari jalur Tsabit al-Bunani dari Abu Burdah, dari Abu Musa al-Asy'ari (radhiyallahu 'anhu).
Penjelasan Rinci
Makna "Khurfah al-Jannah":
Kata "خُرْفَة" (khurfah) secara bahasa berkaitan dengan "خَرْف" (kharf) yang berarti memetik buah atau hasil panen. Imam Ibnul Atsir dalam an-Nihayah — sebagaimana dinukil oleh para ulama — menjelaskan bahwa asalnya adalah buah yang dipetik dari pohon. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah: orang yang menjenguk orang sakit senantiasa berada dalam "buah surga", yakni mendapatkan bagian dari rahmat dan keberkahan surga, atau ia sedang memetik buah amal yang akan menjadi bekal bagi dirinya.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa makna "khurfah al-jannah" adalah "buah surga yang dipetik" — yakni orang yang menjenguk orang sakit terus-menerus mendapatkan karunia dan pahala yang menyerupai buah yang dipetik, sebagai isyarat bahwa pahalanya terus mengalir selama ia dalam keadaan menjenguk.
Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "khurfah" bisa bermakna:
- Buah yang dipetik (جَنَاهَا) — sebagaimana dalam hadits ini.
- Jalan menuju kebun (الطريق إلى البستان).
- Keberkahan dan rezeki yang luas.
Beliau menguatkan bahwa makna yang paling sesuai dengan hadits ini adalah buah yang dipetik, karena Nabi ﷺ sendiri menafsirkannya demikian dalam riwayat Tirmidzi ini.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (wafat 751 H) dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa menjenguk orang sakit termasuk amal yang memiliki keutamaan besar, dan hadits ini menunjukkan bahwa pahala orang yang menjenguk terus bertambah selama ia dalam keadaan menjenguk, sebagaimana buah yang terus dipetik.
Sisi periwayatan:
Imam at-Tirmidzi menyebutkan dua jalur dalam hadits ini:
- Jalur Muhammad bin Wazir → Yazid bin Harun → 'Ashim al-Ahwal → Abu Qilabah → Abu al-Asy'ats → Abu Asma' → Tsauban.
- Jalur Ahmad bin 'Abdah adh-Dhabbi → Hammad bin Zaid → Ayyub → Abu Qilabah → Abu Asma' → Tsauban.
Imam at-Tirmidzi juga menyebutkan bahwa sebagian perawi meriwayatkannya dari Hammad bin Zaid tanpa memarfu'kannya (tidak menyandarkannya langsung kepada Nabi ﷺ). Ini adalah catatan penting dalam ilmu hadits, namun hadits pokok tentang keutamaan menjenguk orang sakit tetap shahih dan masyhur melalui jalur-jalur lain, terutama riwayat Imam Muslim.
Kaitan dengan bab:
Bab ini membahas apa yang dikatakan tentang menjenguk orang sakit. Hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menjenguk, yaitu ia berada dalam "buah surga" — sebuah gambaran yang menenangkan dan memotivasi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari (radhiyallahu 'anhu) — sebagaimana dalam Shahih Muslim — menceritakan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ
Terjemahan: "Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang Muslim yang sedang sakit, ia senantiasa berada dalam khurfah al-jannah hingga ia kembali."
Para sahabat bertanya-tanya tentang makna "khurfah al-jannah", dan Nabi ﷺ menjelaskan bahwa itu adalah buah yang dipetik dari surga. Ini menunjukkan betapa besar keutamaan menjenguk orang sakit — seolah-olah setiap langkahnya, setiap detiknya, ia sedang memetik buah dari surga.
Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H), seorang tabi'in yang terkenal, pernah mengatakan bahwa menjenguk orang sakit adalah salah satu pintu kebaikan yang paling agung, karena di dalamnya terkandung: menghibur orang yang sakit, mendoakannya, dan mengingatkan diri sendiri akan akhirat. Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang menjenguk hendaknya tidak datang untuk berbicara panjang lebar, tetapi untuk mendoakan dan menghibur.
Kesimpulan Praktis
- Menjenguk orang sakit adalah amal yang sangat utama — orang yang melakukannya berada dalam "buah surga" selama ia dalam keadaan menjenguk.
- Hadits ini mengajarkan kelembutan dan kepedulian sosial — Islam sangat memperhatikan hubungan antar sesama Muslim.
- Perbanyak menjenguk orang sakit — jadikan ini kebiasaan, karena pahalanya terus mengalir.
- Saat menjenguk, doakan orang sakit — Nabi ﷺ mengajarkan doa seperti: أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb 'Arsy yang agung, agar menyembuhkanmu).
- Jangan meremehkan amal kecil — menjenguk orang sakit mungkin terlihat sederhana, tetapi di sisi Allah memiliki keutamaan yang besar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.