Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 967 tentang Menjenguk orang sakit termasuk amalan penghuni surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar menjenguk orang sakit. Selama seorang muslim menjenguk saudaranya yang sakit, ia senantiasa berada dalam "khurfah" surga, yaitu kebun atau buah-buahan surga yang siap dipetik. Ini adalah kabar gembira yang memotivasi kita untuk tidak meremehkan amalan menjenguk, karena pahalanya sangat besar di sisi Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab "Ma Ja'a fi 'Iyadatil Maridh" (Bab tentang Menjenguk Orang Sakit), no. 967. Hadits ini dinilai hasan oleh Imam At-Tirmidzi.

Berikut teks haditsnya:

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ، عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ، عَنْ ثَوْبَانَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا عَادَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ"

Makna ringkas: "Sesungguhnya seorang muslim apabila menjenguk saudaranya yang muslim, maka ia senantiasa berada di khurfah (kebun buah-buahan) surga."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari jalur Abu Asma' dari Tsauban, dengan lafaz yang semakna. Ini menunjukkan hadits ini memiliki penguat dari jalur lain.

Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna khurfah adalah buah-buahan yang siap dipetik. Beliau menukil dari para ulama bahasa bahwa khurfah adalah sesuatu yang dipetik dari kebun. Ini menunjukkan bahwa orang yang menjenguk orang sakit sedang "memetik" pahala dari surga.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kata الْخُرْفَة (al-khurfah) berasal dari kata kharafa yang berarti memetik buah. Maka khurfah adalah kebun yang buahnya siap dipetik. Ini adalah permisalan yang sangat indah dari Nabi ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa amalan menjenguk orang sakit termasuk amalan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Beliau menyebutkan bahwa di dalamnya terdapat hak persaudaraan Islam, menghibur yang sakit, dan mendoakannya.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Fath Al-Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan menjenguk orang sakit. Beliau mengutip perkataan sebagian ulama bahwa orang yang menjenguk akan senantiasa mendapat pahala selama ia berada di sisi orang sakit tersebut, bahkan sampai ia pulang.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Bahjah Qulub Al-Abrar menjelaskan bahwa hadits ini adalah kabar gembira bagi orang yang menjenguk. Selama ia dalam perjalanan menjenguk, duduk di sisi orang sakit, dan bahkan ketika ia kembali, ia tetap dalam keadaan "memetik" pahala dari surga. Ini menunjukkan luasnya rahmat Allah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini memotivasi untuk menjenguk orang sakit, baik yang dikenal maupun tidak, selama ia seorang muslim. Beliau juga menekankan bahwa menjenguk termasuk hak muslim atas muslim lainnya.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah pahala ini terus berlangsung selama ia dalam perjalanan pulang atau hanya selama ia berada di sisi orang sakit. Namun pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi, bahwa selama ia berniat menjenguk dan dalam rangkaian aktivitas menjenguk tersebut, ia tetap dalam khurfah surga.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada yang menyeru kepadanya: 'Engkau telah baik, dan langkahmu telah baik, dan engkau telah menempati tempat tinggal di surga.'" (HR. At-Tirmidzi, hasan)

Kisah ini menunjukkan betapa Allah memuliakan hamba-Nya yang menjenguk saudaranya. Bahkan malaikat pun menyerukan kabar gembira kepadanya. Ini sejalan dengan hadits Tsauban di atas, bahwa ia berada di khurfah surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menyebutkan bahwa menjenguk orang sakit termasuk amalan yang akan dibalas dengan balasan yang berlipat ganda, karena di dalamnya terkumpul beberapa ibadah: mendoakan, menghibur, dan mempererat ukhuwah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jenguklah saudara muslim yang sakit — baik kerabat, tetangga, teman, atau siapa pun yang kita kenal. Ini adalah hak persaudaraan Islam.
  2. Niatkan karena Allah — agar pahala kita sempurna dan langkah kita bernilai ibadah.
  3. Doakan kesembuhan — bacakan doa yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti: "Allahumma Rabb an-nas, adzhibil-ba's, isyfi antasy-syafi, la syifa'a illa syifa'uka, syifa'an la yughadiru saqama" (Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit).
  4. Jangan lupa menghibur — berikan semangat dan harapan baik kepada orang sakit, serta ingatkan tentang pahala kesabaran.
  5. Jangan berlama-lama — kecuali jika orang sakit memang menginginkan kita menemaninya. Jaga adab dan kenyamanan orang sakit.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?