Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa Hajar Aswad bukanlah batu biasa. Pada hari Kiamat kelak, Allah akan menghidupkannya kembali, memberinya mata untuk melihat dan lidah untuk berbicara. Ia akan menjadi saksi bagi setiap orang yang menyentuhnya dengan ikhlas dan benar sesuai tuntunan syariat. Ini menunjukkan keutamaan besar menyentuh Hajar Aswad dan peringatan agar kita tidak melakukannya dengan sia-sia atau riya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman tentang hari Kiamat dan persaksian anggota tubuh:
QS. An-Nur [24]: 24
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Hadits:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Haji, Bab tentang Hajar Aswad, nomor 961. Beliau menilai hadits ini hasan (baik). Perawinya adalah Qutaibah, dari Jarir, dari Ibnu Khutsaim, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (3/462) ketika mensyarah hadits serupa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya, beliau menjelaskan bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan mukjizat Nabi ﷺ serta kekuasaan Allah yang mutlak. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Bukhari yang menguatkan hadits ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dari daftar rujukan kita:
- Hajar Aswad adalah Makhluk Allah yang Mulia: Batu hitam ini bukanlah benda mati biasa. Ia adalah salah satu batu surga yang diturunkan ke bumi. Dalam riwayat lain (At-Tirmidzi, no. 877), disebutkan bahwa ia awalnya putih, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Ini menunjukkan bahwa ia adalah makhluk yang berinteraksi dengan amal perbuatan manusia.
- Kebangkitan dan Persaksian di Hari Kiamat: Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa Allah akan membangkitkan Hajar Aswad pada hari Kiamat. Ia akan diberi mata dan lidah yang nyata. Ini adalah bentuk kekuasaan Allah yang mutlak. Imam Ibn Katsir dalam Tafsir-nya (QS. An-Nur: 24) menjelaskan bahwa persaksian anggota badan di akhirat adalah hakikat yang akan terjadi. Demikian pula persaksian Hajar Aswad, ia akan menjadi saksi yang nyata.
- Makna "Istalamahu bi Haqqin" (Menyentuhnya dengan Benar): Frasa ini sangat penting. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (4/327) menjelaskan bahwa "menyentuh dengan benar" memiliki dua syarat:
- Niat yang ikhlas: Dilakukan semata-mata karena Allah dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bukan karena takhayul atau mengharapkan berkah dari batu itu sendiri.
- Cara yang benar: Sesuai tuntunan syariat, yaitu dengan mengusapnya atau menciumnya jika mampu, tanpa menyakiti orang lain, dan dilakukan saat thawaf. Jika tidak bisa, cukup memberi isyarat tangan dari jauh.
Syaikh al-Utsaimin juga menegaskan bahwa Hajar Aswad tidak memberi manfaat atau mudharat dengan sendirinya. Manfaatnya hanya dari Allah semata. Namun, karena Allah menjadikannya sebagai tempat bersaksi, maka menyentuhnya dengan benar menjadi ibadah yang agung.
- Peringatan dan Motivasi: Hadits ini adalah motivasi besar bagi seorang Muslim untuk bersungguh-sungguh dalam ibadah thawaf, khususnya saat menyentuh Hajar Aswad. Ia juga menjadi peringatan agar tidak menyentuhnya dengan cara yang salah, seperti mendorong orang lain, berkata kasar, atau melakukannya dengan riya. Karena semua itu akan menjadi kesaksian yang memberatkan di akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat mulia, Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu. Suatu ketika ia mendekati Hajar Aswad untuk menciumnya. Di hadapan banyak orang, ia berkata dengan suara lantang, "Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa memberi mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menunjukkan adab dan pemahaman yang dalam dari Umar. Beliau menegaskan tauhid, bahwa berkah dan manfaat hanya dari Allah. Namun, beliau tetap menciumnya karena itulah sunnah Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran bahwa ibadah kita harus didasari ilmu dan ittiba' (mengikuti sunnah), bukan sekedar tradisi atau perasaan.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Hajar Aswad adalah makhluk Allah yang mulia dan akan menjadi saksi di hari Kiamat.
- Niatkanlah setiap ibadah, termasuk menyentuh Hajar Aswad, hanya karena Allah dan untuk mengikuti sunnah Rasul-Nya.
- Jagalah adab saat berada di dekatnya. Jangan sampai karena ingin menyentuhnya, kita malah menyakiti saudara sesama muslim. Jika sulit, cukup beri isyarat dari jauh.
- Jangan pernah meyakini bahwa Hajar Aswad memiliki kekuatan gaib yang memberi manfaat atau mudharat secara langsung. Semua atas izin Allah semata.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.