Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 959 tentang Menyentuh dua sudut Ka'bah menghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar dari thawaf di Baitullah, termasuk menyentuh (istilam) Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu berani berdesak-desakan di dua rukun tersebut karena beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ bahwa menyentuh keduanya menjadi penghapus dosa, dan setiap langkah kaki dalam thawaf akan menghapus kesalahan serta mencatat kebaikan. Ini adalah dorongan untuk bersemangat dalam ibadah thawaf, namun tetap dengan adab dan tidak menyakiti orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi (No. 959):

Teks hadits telah disebutkan dalam pertanyaan. Hadits ini dinilai hasan oleh Imam At-Tirmidzi. Riwayat ini juga dikuatkan oleh riwayat Hammad bin Zaid dari 'Atha bin As-Sa'ib, sebagaimana disebutkan oleh At-Tirmidzi dalam kitabnya.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

"Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati."

(QS. Al-Hajj [22]: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa mengagungkan syi'ar Allah, termasuk thawaf dan menyentuh rukun-rukun Ka'bah, adalah bukti ketakwaan dalam hati seorang hamba.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam At-Tirmidzi menyebutkan hadits ini dalam Sunan-nya dan menilainya hasan.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan tentang istilam (menyentuh) rukun-rukun Ka'bah dan keutamaannya berdasarkan hadits-hadits shahih.
  • Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan tentang sunnahnya istilam dan adab-adabnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari jalur 'Atha bin As-Sa'ib, dari Ibnu 'Ubaid bin 'Umair, dari ayahnya ('Ubaid bin 'Umair), bahwa ia melihat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berdesak-desakan di dua rukun (Rukun Yamani dan Hajar Aswad). Ini menarik perhatiannya karena para sahabat lain tidak melakukannya dengan cara seperti itu.

Mengapa Ibnu Umar berani berdesak-desakan?

Karena beliau memiliki dalil langsung dari Nabi ﷺ. Beliau mendengar tiga hal dari Rasulullah ﷺ:

  1. "Sesungguhnya menyentuh keduanya (Rukun Yamani dan Hajar Aswad) adalah penghapus dosa." — Ini menunjukkan keutamaan besar istilam. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar, karena dosa besar hanya dihapus dengan taubat nasuha. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa istilam disunnahkan saat thawaf, dan keutamaannya menghapus dosa-dosa kecil.
  2. "Barangsiapa thawaf di Baitullah ini tujuh kali dan ia menghitungnya, maka ia seperti memerdekakan budak." — Ini menunjukkan keutamaan thawaf yang sempurna, yaitu thawaf tujuh putaran yang dihitung dengan teliti. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "menghitungnya" berarti menjaga hitungan putaran dengan benar, tidak lalai.
  3. "Tidaklah ia meletakkan satu kaki dan mengangkat kaki lainnya kecuali Allah menghapus dosa darinya dan mencatat kebaikan untuknya." — Ini menunjukkan bahwa setiap langkah dalam thawaf bernilai ibadah. Imam Ibnu Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa thawaf adalah ibadah yang agung, dan setiap gerakannya bernilai pahala di sisi Allah.

Adab dan Perhatian:

Meskipun hadits ini menunjukkan semangat Ibnu Umar, para ulama juga menekankan adab dalam beribadah. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya berpendapat bahwa jika terjadi desakan yang membahayakan atau menyakiti orang lain, maka lebih utama tidak berdesak-desakan. Yang terpenting adalah tidak menyakiti sesama muslim. Ini sesuai dengan kaidah "La dharara wa la dhirar" (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa istilam Hajar Aswad dan Rukun Yamani adalah sunnah, tetapi jika terjadi desakan yang menyulitkan, maka cukup memberi isyarat dari jauh untuk Hajar Aswad, dan untuk Rukun Yamani tidak perlu dipaksakan jika sulit.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang paling semangat dalam meneladani Nabi ﷺ. Beliau dikenal sangat teliti dalam mengikuti sunnah, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun. Suatu ketika, beliau berdesak-desakan di dekat Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Seorang tabi'in bernama 'Ubaid bin 'Umair merasa heran dan bertanya, "Wahai Abu Abdurrahman, saya tidak melihat seorang pun dari sahabat Nabi ﷺ yang berdesak-desakan seperti ini."

Ibnu Umar menjawab dengan tenang, "Jika aku melakukannya, maka sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya menyentuh keduanya adalah penghapus dosa.'"

Kisah ini menunjukkan bahwa Ibnu Umar tidak asal berdesak-desakan, tetapi beliau memiliki dasar dalil yang kuat dari Nabi ﷺ. Namun, perlu dicatat bahwa kondisi di zaman Ibnu Umar berbeda dengan kondisi di zaman sekarang yang sangat padat. Para ulama kontemporer dari kalangan Ahlus Sunnah menekankan agar tidak menyakiti orang lain dalam beribadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Thawaf adalah ibadah yang agung — setiap langkahnya bernilai pahala, menghapus dosa, dan dicatat kebaikan.
  2. Istilam (menyentuh) Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah sunnah yang memiliki keutamaan besar, yaitu penghapus dosa-dosa kecil.
  3. Semangat dalam ibadah harus dibarengi adab — jika terjadi desakan yang membahayakan atau menyakiti orang lain, maka lebih utama tidak memaksakan diri.
  4. Menghitung putaran thawaf dengan teliti adalah bagian dari kesempurnaan ibadah.
  5. Niatkan setiap langkah dalam thawaf untuk Allah agar pahala dicatat sempurna.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?