Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan adalah atsar (perkataan sahabat) dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bukan sabda Nabi ﷺ. Isinya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "Yaumul Hajjil Akbar" (Hari Haji Akbar) adalah Hari Nahr, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah (hari raya Idul Adha dan penyembelihan kurban). Imam At-Tirmidzi menegaskan bahwa riwayat yang paling sahih adalah yang berstatus mauquf (perkataan sahabat), bukan marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ).
Rujukan Ulama & Dalil
Atsar Ali bin Abi Thalib:
Teks Arab (sebagaimana dalam riwayat At-Tirmidzi):
> قَالَ عَلِيٌّ : يَوْمُ الْحَجِّ الأَكْبَرِ يَوْمُ النَّحْرِ
Artinya: "Ali berkata: 'Hari Haji Akbar adalah Hari Nahr (10 Dzulhijjah).'"
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
> وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الْأَكْبَرِ
(QS. At-Taubah [9]: 3)
Artinya: "Dan (inilah) pernyataan dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar..."
Penjelasan ulama tentang makna ayat ini:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa menurut pendapat yang masyhur dari Ali bin Abi Thalib dan sejumlah sahabat, yang dimaksud "Yaumul Hajjil Akbar" adalah Hari Nahr (10 Dzulhijjah). Ini juga pendapat Ibnu Abbas, Jabir, dan lainnya.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa Hari Haji Akbar adalah hari-hari haji yang paling agung, dan pendapat yang kuat bahwa ia adalah Hari Nahr karena pada hari itu berkumpul amalan-amalan besar seperti wukuf, thawaf ifadhah, melempar jumrah, menyembelih kurban, dan mencukur rambut.
Kaitan dengan ulama dalam daftar:
- Imam At-Tirmidzi (dalam kitab Sunan At-Tirmidzi, no. 958) secara tegas menyatakan bahwa riwayat yang mauquf dari Ali lebih sahih daripada riwayat yang marfu'.
- Sufyan bin 'Uyainah termasuk perawi dalam sanad atsar ini, dan beliau termasuk ulama besar tabi'ut tabi'in yang sangat dihormati keilmuannya.
- Imam Ibnu Katsir dan Syaikh As-Sa'di menegaskan makna ini dalam kitab tafsir mereka.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "Yaumul Hajjil Akbar" dalam QS. At-Taubah: 3. Namun pendapat yang paling kuat—dan didukung oleh atsar Ali bin Abi Thalib ini—adalah bahwa ia adalah Hari Nahr (10 Dzulhijjah).
Mengapa disebut "Haji Akbar"?
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hari itu disebut "Haji Akbar" karena pada hari tersebut berkumpul amalan-amalan haji yang paling agung, dan juga karena orang yang sedang berhaji maupun yang tidak berhaji sama-sama merayakannya. Ada juga yang mengatakan karena pada hari itu terjadi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam, seperti khutbah Rasulullah ﷺ pada Haji Wada'.
Perbedaan dengan "Haji Asghar" (Haji Kecil):
Sebagian ulama menyebut bahwa "Haji Asghar" adalah umrah. Ini berdasarkan riwayat bahwa pada masa jahiliyah, orang-orang Arab menyebut umrah sebagai "haji kecil". Maka untuk membedakan, hari-hari haji yang agung disebut "Haji Akbar".
Tentang status hadits:
Imam At-Tirmidzi menjelaskan dengan sangat teliti bahwa riwayat ini lebih sahih sebagai atsar mauquf (perkataan Ali) daripada sebagai hadits marfu' (sabda Nabi). Ini menunjukkan kehati-hatian para ulama dalam memastikan status sebuah riwayat. Yang penting bagi kita adalah bahwa makna yang disampaikan oleh Ali ini sesuai dengan penafsiran para sahabat lain dan diterima oleh jumhur ulama.
Hikmah penetapan Hari Nahr sebagai Hari Haji Akbar:
Pada tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha. Bagi jamaah haji, pada hari itu mereka melaksanakan lempar jumrah Aqabah, menyembelih hadyu (hewan kurban), mencukur rambut, dan thawaf ifadhah. Ini adalah puncak ibadah haji. Maka wajar jika hari ini disebut sebagai hari yang paling agung dalam rangkaian ibadah haji.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, beliau pernah ditanya tentang makna "Yaumul Hajjil Akbar". Beliau menjawab dengan tegas: "Hari Haji Akbar adalah Hari Nahr." Jawaban yang singkat namun penuh keyakinan ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami Al-Qur'an dengan sangat baik dan tidak ragu dalam menjelaskan maknanya.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa para sahabat adalah generasi terbaik yang paling memahami Al-Qur'an. Mereka tidak berdebat panjang lebar tentang hal-hal yang sudah jelas, tetapi langsung memberikan jawaban yang tegas berdasarkan ilmu yang mereka miliki dari Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Hari Haji Akbar adalah Hari Nahr, yaitu tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha).
- Pada hari itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, melaksanakan shalat Id, menyembelih kurban, dan bagi yang berhaji melaksanakan rangkaian ibadah haji.
- Kita harus berhati-hati dalam memahami istilah-istilah dalam Al-Qur'an dan hadits, serta merujuk kepada penjelasan para sahabat dan ulama yang terpercaya.
- Kehati-hatian Imam At-Tirmidzi dalam memilih riwayat yang sahih mengajarkan kita untuk tidak mudah menerima informasi tanpa memeriksa sumbernya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.